Siswa SMA Xaverius Bandarlampung Belajar Hidup Sederhana di Paroki Kalirejo

0
268
Siswa-siswi SMA Xaverius Bandarlampung saat berada di desa wilayah Paroki Kalirejo Lampung Tengah saat membatu orangtua asuh mereka menurunkan pasir.

ALTUMNEWS.com, LAMPUNGTENGAH — SMA Xaverius Bandarlampung setiap tahun selalu mengadakan program kegiatan Live In untuk seluruh siswa kelas XI. Program ini bertujuan untuk memberikan kesempatan para siswa untuk belajar hidup di tengah tengah masyarakat yang berbeda latar belakang, pekerjaan, suku, dan lain-lain. Para siswa diberi kesempatan untuk mengikuti aktivitas yang ada di dalam keluarga yang diikuti selama lima hari.

Pelaksanaan live in tahun 2020 kali ini dilaksanakan pada 17-21 Februari 2020 di tiga stasi wilayah Paroki Kalirejo Lampung Tengah, yaitu; Stasi Negeri Mertani, Stasi Tias Bangun, dan Stasi Karang Sari. 234 siswa kelas XI dan 13 pendamping dari sekolah setempat turut.

Pada Senin, 17 Februari 2020 Progam Live In SMA Xaverius Bandarlampung dibuka dengan perayaan Misa Kudus di Gereja Stasi Santo Fransiskus Xaverius Negeri Mertani yang dipimpin oleh Romo Jos dan Romo Andreas Sunaryo.

Salah satu siswa SMA Xaverius Bandarlampung saat memberikan tali asih pada lansia di Desa Karang Sari, Padang Ratu Lampung Tengah.

Pada homilinya, Romo Jos berharap agar semua peserta live in bisa menerima apapun yang ada di dalam keluarga yang akan ditempati. ”Sangat mungkin berbeda dengan yang ada di rumah kalian,” tegas Romo Jos.

“Di sini tidur tidak pakai spring bad dan saya jamin 100 persen tidak ada rumah yang ber AC. Maka marilah kita maknai semua yang ada di sini dari sisi positif dan belajarlah bergaul dengan masyarakat di sini,” ucap Romo Jos.

Ketua Rayon Paroki Kalirejo Lampung Tengah Suwondo dalam sambutannya berharap para siswa dapat menaati tata tertib selama mengikuti live in. “Kami akan berusaha mendampingi para siswa selama live in dengan mengajak ikut dalam aktivitas kami sehari hari,” kata Suwondo.

BACA JUGA:  Tim SAR Gabungan Terus Menemukan Korban Tsunami Selat Sunda : 373 Meninggal Dunia, 1.459 Luka-Luka dan 128 Hilang

Kepala SMA Xaverius Bandarlampung, F. Joko Winarno dalam sambutannya mengatakan bahwa kegiatan live in adalah bagian dari kegiatan belajar sekolahnya yang merupakan salah satu sarana pembentukan karakter siswa.

“Para siswa yang mengikuti live in diingatkan bahwa selama lima hari ke depan kalian tidak libur, tetapi belajar bersama dengan masyarakat yang berbeda latar belakangnya,” katanya.

F Joko mengatakan pihaknya menyerahkan siswa peserta live in ke keluarga-keluarga sesuai dengan pembagian yang sudah ada. “Ikuti arahan dan bimbingan orang tua dimana kalian tinggal dan jadilah bagian dalam keluarga itu selama lima hari kedepan,” pinta F. Joko.

Sebagaimana diketahui, kegiatan live in kali ini mendapat dukungan baik dari masyarakat sekitar maupun perangkat desa setempat. Kepala Desa Negeri Ratu, Loli Karmila menyempatkan diri untuk hadir dalam acara pembukaan yang dilaksanakan di gereja Stasi Negeri Mertani.

“Saya senang dan menerima dengan tangan terbuka program live in dilaksanakan di sini,’ katanya.

Loli Karmila berpesan kepada warganya untuk dapat membantu dan melayani para peserta live in belajar bersama masyarakat.

Kepala Desa Negeri Ratu, Loli Karmila bersama guru pendamping dari SMA Xaverius Bandarlampung di Gereja Stasi Santo Fransiskus Xaverius Negeri Mertani.

“Saya minta terutama kepada masyarakat untuk membantu menjaga keamanan supaya selama para siswa SMA Xaverius Bandar Lampung live in, situasi kondusif dan semua ikut merasakan kenyamanan. Segera laporkan ke kepala desa jika ada hal hal yang perlu ditangani secara cepat. Mudah-mudahan kegiatan live in dapat berjalan lancar dan tidak terjadi hal hal yang tidak kita inginkan,” tutupnya.

Sementara itu, Koordinator Panitia Live In, Nicolaus Bangun Prabowo menjelaskan program live in adalah program rutin dan bersifat wajib diikuti untuk murid kelas 11 SMA Xaverius Bandarlampung.

“Kehidupan baru, pengalaman, serta nilai-nilai yang tidak pernah terlintas dalam benak kita sebelumnya akan diajarkan dan ditanamkan dalam kurun waktu 5 hari,” kata Nicolaus.

BACA JUGA:  Hanya Modal Rp 100.000, Anda Bisa Jadi Agen Kuota

Setiap harinya lanjut Nicolaus, mereka membantu orang tua asuh serta hidup lebih mandiri dari biasanya. “Mencuci baju sendiri, menyiapkan makanan serta membereskannya setelah habis, membersihkan tempat tidur dan merapikannya, serta masih banyak lagi hal-hal yang biasanya tidak lakukan di rumah, namun disini kita diajarkan,” ucapnya.

Rasa kekeluargaan dan cinta kasih dari orang tua angkat diakui Nicolaus sangat terasa dan membuat seluruh peserta dan guru pendamping bahagia. “Hampir seluruh siswa-siswi SMA Xaverius Bandarlampung merasa betah dan ingin tinggal lebih lama disini, namun sayangnya kami semua harus pulang dan kembali melakukan rutinitasi seperti biasa di sekolah,” tutupnya.

Joya Melika, siswa kelas XI MIPA 2 SMA Xaverius Bandarlampung merasa senang dapat pengalaman baru. “Pengalam seperti ini tidak bisa didapat ditempat lain, disini saya bisa merasakan kebersamaan yang sangat erat terutama pada keluarga baru saya dan teman-teman lain,” ucapnya.

Sementara, Mutiara, siswi kelas XI IPS 1 mengaku merasakan pengalaman luar bisa program live in sekolahnya. “Seru, bisa merasakan sama orang tua angkat, bisa merasakan kebersamaan dengan masyarakat sekitar, dapat lebih dekat teman,” kata Mutiara.***

Editor : Robert

Facebook Comments