Mengapa Umat Katolik Tidak Makan Daging Saat Prapaskah? Ini Penjelasannya

ALTUMNEWS.Com, BANDARLAMPUNG – Umat Katolik menjalani masa Prapaskah dengan puasa dan pantang. Ketentuan Gereja mengatur batas usia untuk menjalankan kedua praktik tersebut.

Umat mulai menjalankan pantang pada usia 14 tahun. Sementara itu, orang dewasa menjalankan kewajiban puasa hingga usia 60 tahun.

Setiap Jumat sepanjang tahun, umat Katolik juga melakukan pantang makan daging. Namun, umat tidak perlu menjalankan pantang tersebut jika Jumat bertepatan dengan hari raya.

Selain itu, umat menjalankan puasa dan pantang pada Rabu Abu serta Jumat Agung. Kedua hari tersebut mengajak umat mengenang sengsara dan wafat Tuhan Yesus Kristus.

Mengapa Umat Katolik Pantang Makan Daging?

Lalu, mengapa umat Katolik memilih daging sebagai salah satu bentuk pantang?

“Pantang, menurut saya, ada dua hal. Pertama terkait makanan. Kedua berkaitan dengan sikap hidup atau perbuatan,” kata Pastor Kepala Paroki Bandar Sribawono Lampung Timur, Keuskupan Tanjungkarang, Romo Piet Yoenanto Sukowiluyo kepada Altumnews.com, Senin (15/3/2021).

Menurut Romo Piet, umat dapat meninggalkan makanan yang paling mereka sukai. Mereka juga dapat meninggalkan kebiasaan tertentu yang sering dilakukan.

Dalam hal makanan, umat biasanya memilih daging. Sebab, banyak orang menyukai makanan tersebut.

Namun, Romo Piet menegaskan bahwa umat tidak harus memilih daging sebagai bentuk pantang.

“Bagaimana dengan orang yang tidak pernah makan daging karena memang tidak mampu membeli atau menyediakan daging? Maka kita bisa memilih sendiri pantang yang sesuai,” jelas Romo Piet.

Dengan demikian, umat dapat menjalankan pantang melalui makanan maupun kebiasaan tertentu. Misalnya, umat bisa meninggalkan hobi atau kesenangan yang biasa mereka lakukan.

Mengapa Pantang pada Hari Jumat?

Romo Piet mengaku belum mengetahui secara persis sejarah pemilihan hari Jumat. Namun, umat Katolik meyakini Yesus wafat di kayu salib pada hari Jumat.

Karena itu, umat memandang Jumat sebagai hari suci. Melalui pantang, umat belajar merasakan penderitaan Kristus.

“Jumat sebagai hari yang suci. Berpantang berarti mau menderita dan bersama Kristus,” jelasnya.

Selain itu, tradisi Jumat sebagai hari pertobatan telah berkembang dalam kehidupan Gereja. Umat pun mendapat kesempatan untuk bertobat dan melatih pengendalian diri.

Jenis Daging yang Tidak Dimakan

Romo Piet kemudian menjelaskan jenis daging yang ia hindari ketika menjalankan pantang.

“Ketika saya memilih pantang daging, maka pada hari Jumat saya tidak makan daging ayam, sapi, kambing, kerbau, babi, anjing, juga burung,” ujarnya.

Menurut Romo Piet, Gereja tidak menetapkan satu jenis daging tertentu secara khusus. Karena itu, umat dapat memahami ketentuan pantang sesuai ajaran Gereja.

Lalu, apakah ikan termasuk makanan yang harus dihindari?

Romo Piet menjelaskan bahwa ikan tidak masuk dalam kelompok daging yang dimaksud dalam ketentuan pantang.

Sejarah Puasa dan Pantang Prapaskah

Gereja telah menjalankan tradisi puasa dan pantang dari masa ke masa. Alkitab juga mencatat berbagai praktik puasa.

Misalnya, Nehemia 9:1 menceritakan umat yang berkumpul untuk berpuasa. Perjanjian Baru juga memuat ajakan untuk menjauhkan diri dari makanan tertentu.

Selain itu, Gereja meneladani puasa Yesus selama 40 hari dan 40 malam. Matius 4:1-11 dan Lukas 4:1-13 mencatat kisah tersebut.

Gereja juga memiliki aturan mengenai puasa dan pantang dalam Kitab Hukum Kanonik. Kanon 1249 mengatur kewajiban pertobatan melalui puasa.

Selanjutnya, Kanon 1250 mengatur hari dan waktu puasa. Kanon 1251 membahas kewajiban pantang.

Sementara itu, Kanon 1252 mengatur batas usia. Kemudian, Kanon 1253 mengatur waktu pelaksanaan puasa dan pantang.

Tujuan Puasa dan Pantang

Menurut Romo Piet, puasa dan pantang memiliki tujuan yang lebih luas. Umat tidak sekadar mengurangi atau menghindari makanan tertentu.

“Tujuan puasa dan pantang bukan hanya demi kepentingan fisik. Keduanya juga menjadi usaha pengembangan iman, pertobatan, pengendalian diri, serta pemurnian dan penyucian hati,” tegasnya.

Karena itu, umat Katolik menjalani Prapaskah melalui doa, pertobatan, puasa, dan pantang. Selain itu, umat juga diajak berbagi dengan sesama.

“Selamat meneruskan puasa dan pantang, juga bermatiraga, berbagi dan berdoa! Semakin Ekaristis, semakin solider!” pungkasnya.***