oleh

Soempah Pemoeda dalam Konteks Kekinian

ALTUMNEWS.Com, BANDARLAMPUNG — Kita ketahui bersama tema peringatan ke 93 Sumpah Pemuda adalah : Bersatu, Bangkit, dan Tumbuh. Sebuah tema yang sangat relevan untuk generasi muda saat ini, tentu dengan tantangan berbeda bila dibandingkan dengan semangat pemuda sekitar 1 abad silam.

Napak Tilas

Bila menengok sejarah momentum Sumpah Pemuda 1928 tak terlepas dari peran entitas-entitas Pemuda saat itu. Sebut saja organisasi Tri Koro Dharmo yang berdiri tahun 1915 dan sebelumnya Perhimpunan Indonesia tahun 1913. Perlahan tapi pasti mereka semua menyadari bahwa musuh besar bersama telah teridentifikasi dan semakin mengerucut, yaitu kolonialisme Hindia Belanda.

Dengan segala kemajuan instrumen komunikasi saat itu, kita bisa membayangkan, paling update adalah surat menyurat, pasti memakan waktu tak sebentar. Tidak seperti halnya saat ini, dalam hitungan detik, dunia seperti dalam genggaman saja.

Perwujudan kelompok pemuda di atas dan tumbuh kembangnya kelompok lain terus menggeliat dalam kurun lebih dari 1 dekade barulah nyambung untuk ketemu alias kopi darat. Momentum pertama terjadi dalam Kongres Pemuda I tahun 1926, itupun spirit kedaerahan masih menonjol sehingga dinamika ketika itu memantik perlu adanya pertemuan berikutnya yakni tahun 1928 sebagai yang disebut Kongres Pemuda II.

Spirit Keren Kebangsaan

Saya meyakini bahwa tanpa ada semangat yang tinggi sekali, tak mungkin ada Kongres II, bila ruh politik identitas (kesukuan/kedaerahan) masih melekat kuat diantara para Pemuda saat itu.

Pertanyaan adalah : Apa yang mendorong mereka bersemangat tinggi?
Tentu kita semua meyakini bahwa ada satu kesamaan semangat, yaitu tentang keindonesiaan, sebagai jawabannya, yang kita juga perlu tahu asal usul nama Indonesia. Karena semua tidak ujug-ujug atau tiba-tiba nongol.

Konon, bahwa nama tanah tumpah darah kita digagas oleh dua berkebangsaan Inggris (1850), James R. Logan dan George Samuel W. E. dengan dua pilihan nama :

BACA JUGA:  Errol Jonathans, Direktur Utama Radio Suara Surabaya Tutup Usia

Malayunesia dan Indunesia

Logan menjatuhkan pilihan Indunesia yang belakangan mengubahnya menjadi Indonesia.

Selanjutnya nama ini dipopulerkan oleh etnolog Jerman, Adolf Bastian pada tahun 1884 dan digunakan oleh Perhimpunan Indonesia dengan menerbitkan korannya : Indonesia Merdeka pada tahun 1924.

Info kilas balik soal nama ini terungkap dalam artikel Tentang Nama Indonesia di buku Mohammad Hatta, “Politik, Kebangsaan, Ekonomi (1927 -1977).

Semangat tentang keindonesiaan tak terbendung maka pada tahun 1928 pada Kongres Pemuda II dengan memformat tiga esensi dasar Sumpah Pemuda, yaitu Tanah Air yang sama, Bangsa yang sama, dan Bahasa yang sama, terwujud sudah sebagai momentum besar yang turut menghantar kemerdekaan Indonesia, 1945.

Konteks Kekinian

Sekarang sudah abad 21 Masehi. Tugas dan perjuangan Generasi Muda Indonesia saat ini tentulah tak sama dengan seabad yang lalu, karena tantangan zamannya beda.

Kalau satu abad silam para Pemudanya bisa mengidentifikasi ‘musuh bersama’, yang harus dilawan bareng tentu Pemuda Indonesia zaman now harapannya harus lebih peka dalam mengidentifikasi lawan bersama dan secara antisipatif sangatlah diharapkan cepat bergerak dengan dukungan teknologi informasi. Kepekaan dimaksud haruslah beriringan dengan keprihatinan akan kondisi tentang bagaimana merawat, melestarikan, dan mengembangkan keindonesiaan itu sendiri yang bermuara pada semakin mewujud apa itu Kesejahteraan Umum.

Tentu tak mungkin hanya berdiam diri melihat ideologi Kebangsaan kita diobok obok oleh anak anak Bangsa sendiri, lalu budaya koruptif oleh oknum yang tak sedikit dengan aneka cara dan bentuknya, asyik tumbuh berkembang di pusaran eksekutif, legislatif, dan yudikatif, yang menimbulkan aneka ketimpangan dalam keadaban publik kita, belum lagi imbasnya ke jiwa nasionalisme makin dipertanyakan, dan lain sebagainya.

Tentu mengidentifikasi dan selanjutnya memformulasikan ‘lawan bersama’ ditengah kompleksitas bukan perkara gampang, tapi bukannya tak bisa. Selanjutnya melawannya dengan tanpa kekerasan dan mengedepankan kecerdasan adalah salah satu ciri khas Generasi Muda Indonesia yang harus dipunyai saat ini, harapannya.

BACA JUGA:  Fahrizal Darminto Buka Forum Advokasi Komitmen Pemda dan Lintas Sektor Tingkat Provinsi Lampung

Mari Bersatu, Bangkit, dan Tumbuh
Selamat memperingati Sumpah Pemuda 2021
.***

Penulis : TA. Kumbono
(Dari Berbagai Sumber)
(Sekretaris DPD Vox Point Indonesia Provinsi Lampung)

Komentar

News Feed