oleh

Anjau Silau, dalam Perspektif Moderasi Beragama dari Masa ke Masa

ALTUMNEWS.Com, BANDARLAMPUNG — Indonesia dibangun dari semangat hidup dalam kemajemukan, setidaknya sejak dari masa Majapahit abad ke 13 M silam. Hal itu dapat kita lihat dari kerukunan yang terimplementasi dalam tali silaturahmi (Anjau Silau) sebagai sarana dialog kehidupan antara penganut Hindu dan Budha dan beberapa kepercayaan lainnya saat itu.

Semangat dan nilai luhur persaudaraan dan kerukunan tersebut diatas adalah rahim dari semangat toleransi kehidupan dalam pluralitas yang mewujud menjadi entitas besar keindonesiaan sampai sekarang, yang semakin majemuk. Akhirnya mengaktualisasikan kerukunan hidup beragama dalam praksis kehidupan moderasi beragama tak bisa dilepaskan dari budaya para leluhur kita yang terbingkai dalam masa gemilang kenusantaraan tersebut.

‘Konon’, yang Menginspirasi

Konon, dari berbagai sumber informasi atau penggalan cerita kekristenan di Nusantara yang diperoleh, Tahta Suci Vatikan telah melakukan sebuah ‘Tour Persahabatan’ atau kita sebut ‘Anjau Silau Traveling’ jauh sebelum Indonesia ada.

Lebih lanjut dikatakannya bahwa hubungan antara Tahta Suci dan Indonesia yang dulu disebut dengan nama Nusantara, telah terjadi sejak Zaman Majapahit yang didirikan pada 1293 Masehi

Kontak pertama tersebut terjadi pada kurun waktu 1318 – 1330, ketika Odorico Mattiussi, biarawan dari Ordo Fransiskan diutus oleh Paus untuk mengadakan misi ke Asia.

Di Nusantara, Mattiussi berkunjung ke Jawa, Kalimantan, dan Sumatera. Kunjungan tersebut tercatat dalam buku “Travels Of Friar Odoric of Pordenone”.

Secara detil buku itu menjelaskan peta perjalanan Mattiussi ke Nusantara yang berawal dari Padua, Italia menyebrang ke Laut Hitam, Persia, melalui Kalkuta, Madras, Sri Lanka, Pulau Nikobar (Samudera Hindia) dan Sumatera. Dari Sumatera, Mattiussi meneruskan perjalanannya ke Jawa dan Kalimantan (Banjarmasin).

Matiussi adalah orang Eropa kedua setelah Marcopolo yang berkeliling dunia. Secara tegas ia menyebut daerah yang bernama Sumatera. Dan dalam catatan yang dibuat Mattiussi, disebut kerajaan beraliran Hindu-Budha yang bernama Majapahit. Perjalanan biarawan Fransiskan itu untuk mendapatkan informasi tentang wilayah Asia, yang sebagian besar penduduknya menganut agama Hindu dan Budha. Diperkirakan, kunjungan Mattiussi adalah kunjungan misi diplomatik dengan melihat rangkaian perjalanannya. Secara resmi Gereja Katolik Indonesia masuk Indonesia adalah tahun 1534 ketika Kepala Kampung Mamuya, Halmahera Utara dan masyarakatnya, dipermandikan oleh Gonzalo Velloso seorang pedagang dari Portugal.

BACA JUGA:  Memperingati Isra Miraj Menjadi Umat Islam yang Tolerans

Perkembangan yang menakjubkan ketika satu dekade lebih kemudian, peran St. Fransiskus Xaverius (Pater Jesuit) sekitar tahun 1547 di Indonesia bagian timur itu sangat signifikan bagi pertumbuhan iman kekristenan.

Ringkasnya, bahwa Komunitas Gereja adalah bagian tak terpisahkan dalam perjalanan sejarah kemanusiaan dari masa ke masa di Nusantara ini sampai dengan keindonesiaan yang super majemuk ini. Dengan demikian kita turut bertanggungjawab menjaga dan merawat kebinekaan dalam bingkai NKRI bahkan di barisan garda terdepan.

Di Indonesia bagian barat khususnya Sumatera dari penggalan sejarah, didapat info bahwa ‘anjau silau‘ oleh Gereja Siria Timur telah berlangsung sejak abad ke 7 M di daerah Barus. Kita juga bisa telusuri agama agama lain yang berinteraksi dalam bumi Nusantara ini dengan segala dinamikanya dari masa ke masa dalam saling turut mewarnai keindonesiaan yang pluralis kelak.

Maka kita semua bukanlah Komunitas yang ‘numpang bangek’ di negeri ini, yang mudah diobok-obok, di acak acak oleh pihak manapun yang merasa sebagai komunitas superior. Tapi kita semua, siapapun itu, adalah para tuan rumah di negeri sendiri yang bebas berkehidupan dalam kemartabatan kemanusiaannya yang setara.

Dari ke- konon-an sampai Ke-kini-an

Kata inspirasi di atas bisa kita pilah menjadi dua. Yang pertama adalah berhubungan dengan inisiatif.

Menyikapi pertemuan hari ini 17 November 2021 di Wisma Albertus, Bandarlampung bertema : “Setia Menabur Benih Persaudaraan Sejati Menuai Kerukunan di Tengah Keberagaman” dimana hal tersebut terselenggara oleh Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Lampung bersama dengan Komis Hubungan antar Amga dan Kepercayaan (HAK) dan Kerawam Keuskupan Tanjungkarang, merupakan langkah inspiratif positif.

Sangatlah cerdas pihak Komisi HAK dan Kerawam Keuskupan Tanjungkarang dalam hal ini telah mengemas pertemuan itu, sebagai tuan rumah yang baik.

BACA JUGA:  Bahas Sejumlah Program Kerja, Pengurus Dewan DPD Vox Point Indonesia Provinsi Lampung Bertemu

Yang kedua adalah terkait isi atau konten yang jelas dari Anjau Silau itu sendiri yaitu yang menekankan semangat persaudaraan, perdamaian sampai ke titik nadirnya yakni semangat ‘zero intoleran’ sebagai muaranya, di tengah tantangan gerakan, geliat intoleran dewasa ini.

Apa yang dikatakan oleh ketua DPD Vox Point Indonesia Lampung terkait pertemuan tersebut bahwa perlu tindak lanjut sampai ke berbagai macam entitas grassroot adalah sebuah keniscayaan yang harus mewujud.

Ini jelas menjadi tanggung jawab semua pihak. Komunitas Awam Katolik dengan berbagai baju yang semakin berpelangi di tengah Masyarakat luas di Sai Bumi Ruwai Jurai ini, didorong untuk menjadi inisiator atau aktor aktor yang berani dan cerdas membaca ragam situasi yang berkembang dan segera menyikapinya ditengah ancaman ancaman intoleransi, radikalisme keagamaan, dan sebagainya.

Komunitas Awam Katolik bukan menjadi angkatan angkatan bermental reaktor yang pasif dan miskin ide (salah satunya kalau gak ada duit gak jalan) ditengah kemajuan teknologi informasi terkini, atau istilah lain adalah : kalau gak dipukul, gak bunyi

Zaman Majapahit yang sangat sangat jauh dari budaya nirkabel saja, masyarakatnya kebanyakan bisa berbuat sesuatu untuk sebuah istilah moderasi beragama sebagai sarana kerukunan yang makin mewujud dan berkembang. Hal itu bisa kita lihat dari beberapa prasasti yang ada, kalau kita mau meluangkan waktu untuk buka buka sejarah yang makin gampang kita jelajahi diera digital ini.

Kita ingat motto sang perdana menterinya kerajaan Majapahit yang super inspiratif, yakni Mahapatih Gajah Mada dalam sebuah frase dari bahasa Jawa Kuno, Mitreka Satata karangan Empu Prapanca, yang kira kira artinya Bersekutu itu Sederajat

Secara kontekstual, kebersamaan komunitas semua agama dan aliran kepercayaan apapun di Indonesia ini adalah sejajar di ibu Pertiwi ini.

BACA JUGA:  Pupuk Rasa Kebersamaan, FKUB Lampung Gelar Muswil Ke-IV

Tentu kita sepakat bahwa subtansi atau intinya inti dari kerukunan, perdamaian, dan toleransi saat itu adalah spirit ‘Tepo Saliro’ yang sangat tinggi. Dalam bahasa kita saat ini yang ngaku orang beriman adalah, Kasih yang besar tanpa membedakan Orang.

Kita juga meyakini bahwa anak anak Bangsa saat ini khususnya generasi muda, salah satunya orang muda katolik (OMK) bersama Awam Katolik pada umumnya yang menyebar dalam ragam perkumpulan baik formal maupun informal (internal – eksternal Gereja) di tengah masyarakat, dengan semangat kolaboratif (siapa berperan apa), siap menjadi inisiator atau aktor kerukunan, persaudaraan, dan perdamaian sampai level level grassroot, tanpa disuruh suruh.

Misal dengan aneka cara dan bahasa cerdas yang ditempuh, mulai dari : kongkow-kongkow, kopi darat, anjau silau, srawung, silaturahmi dan lain sebagainya dengan konteks yang jelas dan terarah terkait moderasi beragama.

Dari bahasa sederhana sampai dengan literasi digital terkini yang bisa digunakan. Mulai dari orang-perorang, kolektif, perkumpulan infomal maupun formal (Ormas, Partai Politik, dll) yang berdaya guna kepada masyarakat luas dalam penguatan moderasi beragama dan kehidupan sosial lainnya di Indonesia.***

Penulis : TA. Kumbono, SP. (Sekretaris DPD Vox Point Indonesia Provinsi Lampung)
Editor : Robertus Bejo

Komentar

News Feed