Komisi HAK Keuskupan Tanjungkarang Tanam 500 Mangrove di Kalianda

ALTUMNEWS.Com, KALIANDA – Abrasi pantai dan krisis iklim global terus menjadi perhatian. Karena itu, masyarakat perlu ikut menjaga kelestarian lingkungan.

Sebagai langkah nyata, Komisi Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan (HAK) dan Kerawam Keuskupan Tanjungkarang menggelar aksi penanaman mangrove.

Kegiatan ini berlangsung di sela rapat evaluasi kinerja akhir tahun. Dalam kegiatan tersebut, peserta menanam 500 batang mangrove di kawasan pantai Grand Elty Krakatoa.

Lokasinya berada di Desa Merak Belantung, Kecamatan Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan.

Libatkan Organisasi Katolik

Selain itu, sejumlah organisasi turut mendukung aksi tersebut. Mereka antara lain DPD Wanita Katolik RI Lampung, DPD Vox Point Indonesia Lampung, dan Komda Pemuda Katolik Lampung.

Ketua Komisi HAK dan Kerawam Keuskupan Tanjungkarang, Romo Philipus Suroyo, mengatakan kegiatan itu menjadi bagian dari agenda evaluasi tahunan.

“Pesertanya belasan orang. Kami berkolaborasi dengan sejumlah ormas Katolik seperti WKRI, Vox Point Indonesia dan Pemuda Katolik,” kata Romo Roy kepada Altumnews.com, Kamis (18/11/2021).

Menurut Romo Roy, aksi tersebut juga menjadi kampanye lingkungan. Melalui kegiatan ini, pihaknya ingin mengajak lebih banyak organisasi ikut menjaga alam.

Konservasi Jadi Tanggung Jawab Bersama

Selanjutnya, Romo Roy mengingatkan masyarakat bahwa konservasi bukan hanya urusan pegiat lingkungan.

“Kami ingin mengedukasi bahwa konservasi itu tanggung jawab bersama. Bukan hanya orang-orang di bidang lingkungan,” ujarnya.

Karena itu, Komisi HAK dan Kerawam memasukkan penanaman mangrove dalam agenda rapat evaluasi. Kegiatan tersebut berlangsung pada Sabtu, 20 November 2021, di Grand Elty Krakatoa Kalianda.

Sementara itu, Romo Roy menyebut aksi tersebut mengusung tema “Laudato Si: Menjaga dan Merawat Rumah Kita Bersama.”

Ajak Masyarakat Jaga Alam

Melalui aksi tersebut, Komisi HAK dan Kerawam mengajak masyarakat ikut merawat lingkungan. Selain itu, mereka mendorong setiap orang mengambil bagian melalui tindakan nyata.

“Siapa saja bisa berbuat dan terlibat untuk mewujudkan kepedulian terhadap alam demi kebaikan bumi,” kata Romo Roy.

Dengan demikian, peserta tidak sekadar menanam mangrove. Mereka juga membangun kesadaran bersama tentang pentingnya menjaga pesisir.

Pada akhirnya, gerakan tersebut diharapkan mampu mendorong lebih banyak pihak untuk menjaga lingkungan. Terutama demi kelestarian alam dan generasi mendatang.***