ALTUMNEWS.Com, BANDAR LAMPUNG — Bimbingan Masyarakat (Bimas) Katolik Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama Provinsi Lampung menggelar Dialog Kerukunan Intern Umat Beragama dan Moderasi Beragama Katolik pada Kamis, 15 September 2022.
Kegiatan bertema “Menguatkan Moderasi Beragama dengan Bahasa Cinta” itu berlangsung di Hotel Arinas, Jalan Raden Intan No. 35 A, Bandarlampung.
Sebanyak 30 peserta mengikuti kegiatan tersebut. Mereka berasal dari tokoh masyarakat, kongregasi suster, kelompok kategorial, kader organisasi masyarakat, dan mahasiswa Katolik se-Kota Bandarlampung.
Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Lampung Puji Raharjo membuka kegiatan tersebut.
Dalam sambutannya, Puji Raharjo mengatakan Pancasila sangat menekankan kerukunan antarumat beragama. Menurutnya, Indonesia juga menjadi contoh bagi dunia dalam mengelola keragaman budaya dan agama.
Selain itu, Indonesia menunjukkan bahwa kehidupan beragama dan bernegara dapat berjalan secara harmonis.
“Konflik dan gesekan sosial dalam skala kecil memang masih kerap terjadi. Namun, kita selalu berhasil keluar dari konflik dan kembali pada kesadaran atas pentingnya persatuan dan kesatuan sebagai bangsa besar yang dianugerahi keragaman oleh Sang Pencipta,” kata Puji Raharjo.
Moderasi Beragama Jaga Kerukunan
Meski demikian, Puji Raharjo mengajak masyarakat tetap waspada. Sebab, konflik berlatar belakang agama dapat mengancam persatuan bangsa, terutama ketika konflik tersebut melibatkan kekerasan.
Menurut Puji Raharjo, setiap agama memiliki ikatan emosional yang kuat bagi pemeluknya. Karena itu, perbedaan tafsir terkadang dapat memicu fanatisme dan konflik.
Bahkan, fanatisme ekstrem terhadap tafsir agama dapat memicu permusuhan. Konflik juga dapat muncul dalam satu agama atau antaragama.
Pada umumnya, konflik bermula dari sikap saling menyalahkan. Selain itu, konflik dapat muncul ketika seseorang merasa paling benar dan menutup diri terhadap pandangan orang lain.
“Oleh karena itu, kita membutuhkan visi dan solusi untuk mengelola kehidupan keagamaan Indonesia yang sangat beragam. Kita perlu mengedepankan moderasi beragama, menghargai keragaman tafsir, serta menghindari ekstremisme, intoleransi, dan kekerasan.”
Moderasi Beragama dalam Kehidupan Bersama
Selanjutnya, Puji Raharjo menjelaskan pentingnya moderasi beragama. Ia menyebut pemerintah terus mendorong penguatan moderasi beragama di seluruh Indonesia.
Menurutnya, moderasi beragama mengajak masyarakat memahami esensi ajaran agama. Pada saat yang sama, masyarakat perlu menerapkan prinsip keadilan dan keseimbangan dalam kehidupan bersama.
Moderasi beragama juga mendorong masyarakat menghormati martabat manusia. Selain itu, pendekatan tersebut mengutamakan kemaslahatan umum, konstitusi, dan kesepakatan kehidupan berbangsa.
Dengan demikian, moderasi beragama tidak mengubah ajaran agama. Sebaliknya, moderasi mengajak umat memperbaiki cara menghadapi perbedaan.
Sikap terbuka dan toleran menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Karena itu, masyarakat perlu menghormati perbedaan pandangan, aliran, mazhab, dan agama.
“Oleh karena itu, saya mengajak Bapak dan Ibu menjadi aktor kerukunan umat beragama. Mari membimbing dan membina kehidupan keagamaan yang harmonis berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.”
Lebih lanjut, Puji Raharjo mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terprovokasi. Ia mengajak semua pihak menghindari fitnah, penghinaan, dan saling mencemooh.
“Keragaman atau perbedaan adalah anugerah Tuhan yang harus kita jaga. Meski berbeda-beda dalam keanekaragaman, kita tetap satu dalam persaudaraan.”
Ia pun berharap pertemuan tersebut dapat memperkuat semangat peserta. Dengan begitu, mereka dapat membawa kesejukan, kerukunan, kedamaian, dan sukacita bagi sesama.
Peserta Didorong Menjadi Teladan
Sementara itu, Pembimbing Masyarakat Katolik Kanwil Kementerian Agama Provinsi Lampung Felikarpus Sarimin menjelaskan tujuan kegiatan.
“Kami berharap peserta memahami konsep moderasi beragama dengan benar. Mereka juga perlu menyadari pentingnya moderasi beragama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” jelas Felikarpus kepada Altumnews.com di lokasi acara.
Selain itu, kegiatan tersebut mendorong peserta memahami moderasi beragama dari perspektif Katolik. Peserta juga mendapat pemahaman mengenai kebijakan strategis dan program Ditjen Bimas Katolik Tahun 2022.
“Terakhir, kami berharap seluruh peserta mampu menjadi penguat dan teladan moderasi beragama kepada masyarakat. Mereka dapat menunjukkan teladan tersebut melalui perilaku di dunia nyata maupun dunia maya,” kata Felikarpus.
Sebagai informasi, kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber. Selain perwakilan Kanwil Kemenag Provinsi Lampung, panitia menghadirkan Ketua Komisi HAK dan Kerawam Keuskupan Tanjungkarang Romo Roy.
Selain itu, praktisi media sosial Antonius Tamtama turut menjadi narasumber dalam kegiatan tersebut.***





