ALTUMNEWS.Com, JAKARTA — “Konsep “Santri Abad 21” adalah perpaduan harmonis antara tradisi keilmuan Islam dengan penguasaan teknologi dan keterampilan modern, menjadikannya figur yang relevan dan tangguh di era globalisasi”. Ungkap Filantropis Eddy Aqdhiwijaya dalam wawancara bersama AltumNews.com pada Jumat, 17 Oktober 2025.
Lebih lanjut ia juga mengatakan Santri Abad 21 diharapkan menjadi sosok Muslim yang multiliterat, yaitu mampu membaca kitab kuning (teks klasik) dan membaca perkembangan zaman (teks digital).
Eddy Aqdhiwijaya juga menjelaskan karakteristik yang harus dimiliki oleh Santri Abad 21, antara lain: Pertama, kedalaman spiritual (iman), yaitu tetap teguh pada nilai-nilai agama, memiliki akhlak mulia (akhlakul karimah), dan menjaga tradisi keilmuan Islam (sanad).
Kedua, keterampilan abad 21 (skill) yaitu menguasai 4C Skill: Critical Thinking (berpikir kritis), Creativity (kreatif), Communication (komunikasi), dan Collaboration (kolaborasi).
Ketiga, literasi digital dan media, yaitu mampu memanfaatkan teknologi (melek digital) untuk mencari, menganalisis, dan menyebarkan informasi positif, serta menangkis narasi radikal atau hoaks.
Keempat, wawasan global, memiliki pemahaman yang luas tentang isu-isu kontemporer, tidak eksklusif, serta menjunjung tinggi nilai-nilai Islam Moderat (washatiyah) dan toleransi.
Dan yang kelima, kemandirian dan kewirausahaan yaitu dilengkapi dengan life skill dan jiwa wirausaha (entrepreneurship) sehingga mandiri secara ekonomi dan mampu menciptakan lapangan kerja.
Selanjutnya, Eddy Aqdhiwijaya juga mengatakan Santri Abad 21 dapat berperan menjadi agen perubahan diberbagai sektor, seperti menjadi Da’i digital yang mampu menyampaikan dakwah Islam yang sejuk, damai, dan toleran melalui platform media sosial (YouTube, Instagram, TikTok) agar pesan agama tetap relevan.
Kemudian, menjadi penjaga moderasi, yaitu menjadi benteng nilai dan menjaga masyarakat dari paham ekstremisme, radikalisme, dan ideologi yang merusak persatuan bangsa. Kemudian dapat menjadi pelopor inovasi syariah dengan cara mengembangkan teknologi, aplikasi, dan produk digital yang berbasis syariah atau mendukung ekosistem ekonomi Islam (misalnya, aplikasi zakat, keuangan syariah, atau pendidikan Islam online).
Dan Santri Abad 21 dapat menjadi intelektual Muslim, yaitu mampu berdialog antara ilmu agama dan ilmu umum (sains), serta berkontribusi dalam memecahkan masalah sosial dan kemanusiaan.
Diantara berbagai peluang yang ada, Santri Abad 21 juga dihadapkan dengan sejumlah tantangan yang tidak mudah. Eddy Aqdhiwijaya mengungkapkan terdapat kesenjangan digital, masih banyak pesantren yang memiliki keterbatasan akses atau infrastruktur teknologi yang memadai. Kemudian, banjir informasi yaitu kebutuhan untuk menyaring konten digital dan melawan informasi yang dangkal atau menyesatkan tanpa merusak kedalaman ilmu. Dan gaya hidup materialistis yaitu godaan untuk meninggalkan nilai-nilai kesederhanaan pesantren dan terjerumus dalam pola hidup pragmatis-materialistis di perkotaan.
Pada intinya, Santri Abad 21 adalah simbol modernitas tanpa kehilangan identitas, mereka adalah generasi yang berakar kuat pada tradisi, namun menjulang tinggi di tengah kemajuan zaman. Jelas Eddy.***





