ALTUMNEWS.Com, BANDAR LAMPUNG — Indeks Harga Konsumen (IHK) Provinsi Lampung pada Desember 2025 mencatat inflasi sebesar 0,59 persen (month to month/mtm). Angka ini lebih tinggi dibandingkan inflasi November 2025 yang tercatat 0,36 persen (mtm), namun masih berada di bawah inflasi nasional yang mencapai 0,64 persen (mtm).
Secara historis, inflasi Desember 2025 juga tercatat lebih tinggi dibandingkan rata-rata inflasi Desember dalam tiga tahun terakhir di Lampung yang berada pada level 0,37 persen (mtm).
Sementara itu, secara tahunan, inflasi Lampung pada Desember 2025 tercatat 1,25 persen (year on year/yoy). Angka tersebut masih jauh lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 2,92 persen (yoy), meski sedikit lebih tinggi dibandingkan inflasi Lampung pada November 2025 yang sebesar 1,14 persen (yoy).
Kenaikan inflasi pada Desember 2025 terutama didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau, perawatan pribadi dan jasa lainnya, serta transportasi. Komoditas yang memberi andil terbesar antara lain cabai rawit, bawang putih, bawang merah, emas perhiasan, dan bensin.
Harga cabai rawit meningkat akibat berakhirnya masa panen, diperparah oleh tingginya curah hujan yang menurunkan kualitas produksi. Sementara itu, kenaikan harga bawang merah dipicu menurunnya pasokan dari sentra produksi di Jawa Barat dan Sumatera Barat akibat serangan organisme pengganggu tanaman serta gagal panen karena banjir.
Dari sisi non-pangan, kenaikan harga emas perhiasan sejalan dengan tren kenaikan harga emas dunia di tengah ketidakpastian global dan tensi geopolitik. Adapun kenaikan harga bensin dipengaruhi oleh penyesuaian harga BBM nonsubsidi yang mengikuti pergerakan harga energi internasional sepanjang 2025.
Di sisi lain, laju inflasi Desember tertahan oleh penurunan harga sejumlah komoditas, seperti tomat, salak, terong, dan sabun mandi, serta turunnya tarif angkutan sungai, danau, dan penyeberangan. Penurunan harga komoditas hortikultura tersebut didukung oleh terjaganya pasokan dari masa panen di beberapa sentra produksi lokal.
Sementara itu, penurunan tarif angkutan terjadi seiring pemberian diskon tarif penumpang dalam rangka periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru (Nataru).
Ke depan, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Lampung memperkirakan inflasi tetap terjaga dalam sasaran inflasi 2,5±1 persen (yoy) hingga akhir 2026. Meski demikian, sejumlah risiko perlu diantisipasi.
Dari sisi inflasi inti, risiko berasal dari meningkatnya permintaan masyarakat akibat penyesuaian Upah Minimum Provinsi (UMP), meningkatnya mobilitas saat Ramadan dan Idul Fitri 1447 H, serta berlanjutnya kenaikan harga emas dunia.
Sementara dari sisi inflasi pangan bergejolak, risiko dipicu oleh curah hujan tinggi dan potensi banjir akibat fenomena La Nina lemah yang diperkirakan berlangsung hingga awal 2026, meningkatnya permintaan pangan saat Ramadan dan Idul Fitri, serta potensi gangguan distribusi akibat bencana hidrometeorologi di wilayah Sumatera.
Adapun dari sisi harga yang diatur pemerintah, risiko berasal dari potensi kenaikan harga minyak dunia akibat tensi geopolitik Timur Tengah dan kemungkinan penyesuaian tarif transportasi darat dan udara pada periode libur panjang.
Untuk menjaga stabilitas harga, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Lampung terus memperkuat strategi 4K, yaitu keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif. Langkah-langkah yang dilakukan antara lain operasi pasar beras, penguatan kerja sama antar daerah, perbaikan infrastruktur distribusi, hingga optimalisasi komunikasi publik terkait kondisi inflasi dan pasokan pangan di Lampung.***





