ALTUMNEWS.Com, LAMPUNG SELATAN – Asap kayu bakar mengepul dari dapur sederhana di sebuah rumah panggung di lereng Gunung Langgar, Desa Sabah Balau, Kecamatan Tanjung Bintang, Lampung Selatan. Di tempat inilah Wandi (47) mengolah nira menjadi gula aren tradisional. Bersama istrinya, ia menjalankan usaha rumahan yang mengandalkan hasil alam sekitar dan keterampilan mengolah nira secara mandiri.
Setiap kali memproduksi gula aren, Wandi menjalani serangkaian pekerjaan, mulai dari menyadap pohon aren, mengumpulkan nira, hingga memasaknya selama berjam-jam. Ia mengerjakan hampir seluruh tahapan itu sendiri.
“Kalau bahan baku sih dari sini aja, dari sekitaran sini lah kalau bahan-bahan bakunya, mah. Dari Gunung Langgar,” kata Wandi saat berbincang dengan Altumnews.com di kediamannya, Sabtu malam, 3 Oktober 2026.
Bagi Wandi, kawasan Gunung Langgar menyediakan bahan baku utama yang menopang usahanya. Ia memanfaatkan nira dari pohon aren di sekitar tempat tinggalnya untuk menghasilkan gula yang kemudian ia jual kepada pelanggan.
Menyadap Aren Sebelum Mengolah Nira
Sebelum memasak gula aren, Wandi terlebih dahulu menyadap pohon aren untuk mengumpulkan nira. Ia menyebut pekerjaan tersebut dengan istilah deres, yang berarti menyadap.
“Kalau yang biasa saya, apa ya, bahasanya tuh deres lah. Kalau kata orang Sunda itu nyadap ya. Yang kurang-kurangnya lebih cuma berapa batang? Lima. Lima batang,” ujarnya.
Wandi mengatur produksi sesuai ketersediaan bahan baku. Ia biasanya membuat gula aren setiap dua hari sekali dan menangani sendiri pekerjaan tersebut.
“Kurang lebihnya dua hari sekali produksi. Ya, proses serba sendiri lah,” katanya.
Cara kerja itu menuntut Wandi mengatur waktu antara menyadap pohon aren dan mengolah nira. Ia harus memastikan bahan baku tersedia sebelum memulai proses memasak.
Tiga Jam Memasak Nira dengan Kayu Bakar
Di dapur produksinya, Wandi masih mengandalkan kayu bakar untuk memasak nira. Ia memilih cara tradisional tersebut karena proses pemasakan membutuhkan waktu dan panas yang cukup lama.
Dalam sekali produksi, Wandi menghabiskan sekitar tiga jam untuk memasak nira hingga menjadi gula aren. Ia menggunakan nira sebagai bahan utama dan menambahkan kapur sirih dalam proses pengolahannya.
“Yang pasti yang diperluin itu supaya dia itu jadi, kalau mau bahasanya itu apa ya? Bahasanya obat lah mungkin, ya. Cuma kapur sirih. Kapur sirih. Nira aren,” tutur Wandi.
Ia memperkirakan satu kali produksi menghasilkan sekitar 12 hingga 15 kilogram gula aren. Jumlah tersebut bergantung pada proses pengolahan dan bahan baku yang tersedia.
Wandi juga mempertimbangkan penggunaan gas untuk memasak. Namun, ia belum yakin satu tabung gas berukuran tiga kilogram mampu memenuhi kebutuhan selama proses pemasakan.
“Kita masaknya pakai kayu bakar. Kalau pakai gas, mungkin untuk matengin itu, mungkin satu tabung yang tiga kilo itu cukup apa enggak? Paling cepat sekitar tiga jam,” katanya.
Pilihan menggunakan kayu bakar membuat Wandi tetap mengandalkan metode tradisional dalam menjalankan usaha gula arennya.
Menjual Gula Aren Rp25 Ribu per Kilogram
Setelah menyelesaikan proses produksi, Wandi menjual gula aren dengan harga sekitar Rp25 ribu per kilogram. Ia melayani pembeli yang datang langsung ke rumahnya maupun pelanggan yang memesan untuk diantar.
“Ya, untuk kita rata-rata palingnya Rp25 ribu itu per kg kita jual. Jualnya kadang pemasoknya yang ke sini. Kadang-kadang misalkan ada orang mesen lah, harus dianterin, ya saya anterin,” ujar Wandi.
Meski mampu menghasilkan 12 hingga 15 kilogram gula aren dalam sekali produksi, Wandi masih mengandalkan pasar yang terbatas. Ia menyebut sebuah warung grosir di wilayah Rupi sebagai satu-satunya pelanggan tetap saat ini.
Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi Wandi untuk mengembangkan usahanya. Ia perlu menjangkau lebih banyak pembeli agar hasil produksinya memiliki pasar yang lebih luas.
Gula Aren untuk Kopi, Kue, hingga Cuko Pempek
Wandi mengetahui gula aren memiliki beragam kegunaan dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat dapat memanfaatkannya sebagai pemanis kopi, bahan pembuatan kue, hingga campuran cuko pempek.
“Gula aren, nah, kalau sekarang ini yang saya tahu itu kebanyakan selain bikin makanan kue-kuean, ya paling untuk cuka empek-empek. Buat kopi juga enak. Ya, buat kopi salah satunya,” katanya.
Beragam kegunaan itu membuka peluang pemasaran bagi gula aren produksi rumahan. Wandi berpotensi menjangkau konsumen rumah tangga, pedagang makanan, hingga pelaku usaha kuliner yang membutuhkan gula aren sebagai bahan baku.
Namun, ia masih perlu memperluas jaringan penjualan agar produknya dapat menjangkau lebih banyak konsumen di luar pelanggan tetapnya.
Menjaga Tradisi dari Lereng Gunung Langgar
Di rumah panggungnya, Wandi terus mengolah nira menjadi gula aren dengan cara tradisional. Ia memanfaatkan bahan baku dari lingkungan sekitar, memasak menggunakan kayu bakar, dan mengurus proses produksi secara mandiri.
Dalam sekali produksi, ia menghabiskan waktu sekitar tiga jam dan menghasilkan 12 hingga 15 kilogram gula aren. Dengan harga jual sekitar Rp25 ribu per kilogram, ia berupaya menjaga agar usahanya tetap berjalan.
Perjalanan Wandi memperlihatkan kerja keras seorang perajin gula aren di Lampung Selatan. Ia mengandalkan keterampilan, ketekunan, dan hasil alam sekitar untuk menghasilkan produk yang masyarakat gunakan dalam berbagai kebutuhan kuliner.
Dari lereng Gunung Langgar, Wandi terus menjalani pekerjaannya bersama sang istri. Setiap tetes nira yang ia olah menjadi gula aren membawa harapan agar usaha kecilnya tetap bertahan dan menemukan lebih banyak pelanggan.***




