ALTUMNEWS.Com, BANDARLAMPUNG – Komisi Kepemudaan Keuskupan Tanjungkarang mengajak orang muda peduli lingkungan. Sebagai langkah nyata, mereka akan menanam 1.000 bibit mangrove di Pantai Mahitam.
Lokasi penanaman berada di Desa Batu Menyan, Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Pesawaran, Lampung. Melalui aksi ini, panitia ingin mencegah abrasi sekaligus mengajak masyarakat menjaga pesisir.
Tanam Mangrove untuk Cegah Abrasi
Menurut rencana, peserta akan menanam sekitar 1.000 bibit mangrove. Aksi tersebut akan berlangsung di kawasan Pantai Mahitam.
Karena itu, Komisi Kepemudaan mengajak masyarakat ikut menjaga kawasan pesisir. Orang Muda Katolik juga mendapat perhatian khusus dalam kegiatan tersebut.
“Ini merupakan momen untuk mengajak masyarakat, khususnya Orang Muda Katolik di Keuskupan Tanjungkarang cinta lingkungan. Kita mulai dari aksi menanam mangrove kali ini,” kata Ketua Komisi Kepemudaan Keuskupan Tanjungkarang RD Gregorius Suripto dalam siaran pers, Kamis (11/11/2021).
Terinspirasi Ensiklik Laudato Si
Selanjutnya, Romo Greg menjelaskan hubungan aksi tersebut dengan Ensiklik Laudato Si. Paus Fransiskus menerbitkan ensiklik itu sebagai seruan untuk merawat bumi.
“Laudato Si adalah ensiklik besar yang menempatkan lingkungan hidup sebagai tantangan utamanya,” terang Romo Greg.
Menurutnya, gerakan menjaga lingkungan membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Masyarakat juga perlu menerjemahkan kepedulian itu melalui tindakan nyata.
“Laudato Si akan terwujud bila seluruh lapisan masyarakat dan semua orang yang berkehendak baik bersedia terlibat,” ujarnya.
Ajak Generasi Muda Lakukan Aksi Nyata
Selain itu, Romo Greg menilai kerusakan lingkungan membutuhkan pertobatan ekologis. Namun, masyarakat tidak cukup hanya membahas persoalan tersebut.
“Panggilan kepada pertobatan ekologis tidak dapat sebatas ide, gagasan, atau diskusi. Panggilan itu harus hadir dalam langkah nyata,” katanya.
Dengan demikian, aksi penanaman mangrove menjadi salah satu bentuk kepedulian terhadap bumi. Kegiatan ini juga mendorong generasi muda untuk terlibat langsung.
Romo Greg menyebut kondisi bumi membutuhkan gerakan bersama. Oleh sebab itu, masyarakat perlu bergerak dari tingkat lokal hingga internasional.
“Kerusakan bumi yang sudah dalam kondisi kritis mengundang siapa saja untuk terlibat aktif di dalamnya,” paparnya.
Sejalan dengan Agenda Perubahan Iklim
Di sisi lain, kegiatan tersebut juga sejalan dengan agenda perubahan iklim. Romo Greg mengaitkannya dengan komitmen Indonesia menjelang G20 2022.
“Indonesia untuk G20 di tahun 2022 akan memprioritaskan penguatan kerja sama perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan,” jelasnya.
Dalam agenda itu, pemerintah menargetkan rehabilitasi hutan mangrove seluas 620 hektare hingga 2024.
Gereja Dorong Kepedulian Orang Muda
Sementara itu, Wakil Ketua Panitia Aksi Tanam 1.000 Mangrove, Sr. Vincentia, HK., menilai kegiatan ini penting bagi generasi muda.
Menurut Suster Vincentia, orang muda perlu membangun kecintaan terhadap bumi sejak dini. Mereka juga perlu mendapat pengalaman langsung dalam merawat lingkungan.
“Orang muda, anak-anak perlu mendapatkan informasi dan sekaligus latihan bagaimana mereka dapat menyayangi bumi ini sebagai tempat mereka tinggal bersama,” tegasnya.
Lebih lanjut, Suster Vincentia menyebut aksi tersebut sebagai bentuk komitmen Gereja. Komitmen itu sekaligus menjawab seruan Paus Fransiskus melalui Laudato Si.
“Kegiatan ini sekaligus sebagai bentuk edukasi bagi generasi muda agar memiliki wawasan terhadap pemulihan dan perawatan lingkungan yang sudah rusak,” imbuhnya.
Libatkan Berbagai Komunitas
Untuk diketahui, panitia mengusung tema “Cegah Abrasi, Lestari Bumi”. Mereka membagi aksi penanaman menjadi tiga sesi.
Sesi pertama berlangsung 22 November 2021. Kemudian, sesi kedua berlangsung 27 November 2021. Sementara itu, sesi ketiga berlangsung 4 Desember 2021.
Selain itu, Komisi Kepemudaan menggandeng sejumlah komunitas. Mereka antara lain Small Steps Community, OSIS SMP Xaverius 1 Bandarlampung, OSIS SMP Xaverius 4 Bandarlampung, dan OSIS SMA Xaverius Bandarlampung.
Panitia juga melibatkan BEM STIE Gentiaras, Orang Muda Katolik (OMK), KMK St. Thomas Aquinas, Institut Teknologi Sumatra (ITERA), serta Kelompok Masyarakat Pelestari Mangrove (KMPM).
Melalui kolaborasi tersebut, aksi 1.000 mangrove diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Sebaliknya, kegiatan ini menjadi langkah bersama untuk menjaga pesisir dan merawat bumi.***





