ALTUMNEWS.Com, BANDAR LAMPUNG – Bekas tempat kos mahasiswa yang sempat terbengkalai kini berubah menjadi pusat gerakan ekologis dan pembinaan iman Katolik. Dalam perayaan Ekaristi penuh syukur, Uskup Tanjungkarang, Mgr. Vinsensius Setiawan Triatmojo, meresmikan Asilo Hermelink sebagai pusat kegiatan rohani dan sosial, Sabtu (19/7).
Dengan luas lahan lebih dari 2,5 hektare, kompleks di kawasan Gedung Meneng, Rajabasa, ini kini memiliki berbagai fasilitas. Sebelumnya, kawasan tersebut sempat terabaikan. Namun, umat Katolik kemudian mengubahnya menjadi ruang pembinaan dan kegiatan sosial.
Kini, kompleks Asilo Hermelink memiliki Laudato Si Centre, Camping Ground, Sekretariat ORMAS dan Komisi Kepemudaan, Campus Ministry, Sanggar Seni Budaya, Jogging Track, hingga Dapur Umum.
Selain itu, seluruh fasilitas tersebut mendukung pembinaan generasi muda Katolik. Pengelola ingin membentuk anak muda yang peduli lingkungan, memiliki iman tangguh, dan aktif dalam kehidupan masyarakat.
Asilo Hermelink Jadi Ruang Gerakan Ekologi
“Tempat ini adalah panggilan untuk membangun dunia yang lebih nyaman—bukan hanya untuk kita, tapi untuk generasi mendatang,” ungkap Mgr. Vinsensius dalam homilinya.
Selanjutnya, Mgr. Avien, sapaan akrab Mgr. Vinsensius, menjelaskan makna revitalisasi Asilo Hermelink. Menurutnya, gerakan tersebut menjadi jawaban atas ajakan Paus Fransiskus melalui Ensiklik Laudato Si.
Ensiklik tersebut mengajak umat untuk merawat bumi sebagai rumah bersama. Karena itu, Asilo Hermelink tidak hanya berfungsi sebagai pusat kegiatan rohani. Tempat ini juga menjadi ruang untuk menjalankan aksi nyata bagi lingkungan.
Mgr. Vinsensius juga mengenang kondisi awal kawasan tersebut. Saat pertama melihat lokasi, ia menemukan area yang ruwet dan tidak terawat.
“Saya sendiri tak punya harapan. Tapi ternyata Tuhan membuka jalan lewat banyak tangan sederhana,” katanya.
Kemudian, para relawan mulai membenahi kawasan tersebut secara bertahap. Mereka bekerja dari bawah dan membangun satu visi bersama. Dengan semangat gotong royong, kawasan yang sebelumnya terbengkalai perlahan berubah.
Wadah Pembinaan Generasi Muda Katolik
Kini, Asilo Hermelink berdiri sebagai simbol gerakan kolektif umat. Selain itu, kompleks tersebut menjadi ruang inkubasi berbagai program ekologis dan pendidikan iman.
Pengelola juga menerapkan pendekatan kaderisasi secara berjenjang. Dengan pendekatan tersebut, Asilo Hermelink menjadi ruang terbuka untuk pembentukan iman Katolik.
Konsep pembinaan itu mengusung semangat 100 persen Katolik dan 100 persen Indonesia. Artinya, generasi muda tidak hanya memperkuat iman. Mereka juga belajar mengambil peran dalam kehidupan sosial dan kebangsaan.
Dengan demikian, Asilo Hermelink ingin melahirkan generasi yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan. Di sisi lain, tempat ini juga mendorong anak muda untuk membangun solidaritas dan kepemimpinan sosial.
Tiga Momentum Lingkungan Jadi Penguat
Launching Asilo Hermelink juga menjadi bagian dari rangkaian tiga momentum penting pada 2025.
Pertama, peringatan 10 tahun Ensiklik Laudato Si pada 24 Mei 2025. Kemudian, ada Hari Lingkungan Hidup Sedunia pada 5 Juni 2025 dengan tema “Jauhkan Bumi dari Polusi Plastik”.
Selanjutnya, Gereja juga memperingati Hari Mangrove Sedunia pada 26 Juli 2025. Ketiga momentum tersebut memperkuat pesan tentang pentingnya menjaga lingkungan.
Karena itu, gerakan Gereja tidak berhenti pada kegiatan liturgi. Sebaliknya, umat juga diajak melakukan aksi nyata. Bentuknya antara lain menjaga ekosistem, membangun solidaritas, dan melatih kepemimpinan sosial berbasis nilai-nilai Injili.
Asilo Hermelink Diharapkan Jadi Model Nasional
Ke depan, Mgr. Vinsensius berharap Asilo Hermelink dapat berkembang menjadi model pembinaan lingkungan dan iman. Bahkan, ia berharap konsep tersebut bisa menjadi contoh bagi masyarakat di tingkat nasional dan global.
“Pelan-pelan, kita akan jadi percontohan dunia: membangun ruang yang nyaman dan mencetak generasi emas Indonesia,” pungkasnya.
Dengan transformasi tersebut, Asilo Hermelink kini memiliki peran baru bagi umat Katolik di Bandar Lampung. Bukan hanya sebagai tempat kegiatan rohani, kompleks ini juga menjadi ruang untuk merawat lingkungan, membangun kebersamaan, dan menyiapkan generasi masa depan.***
Penulis: Sr. M. Fransiska FSGM





