ALTUMNEWS.Com, PALEMBANG -– Selama berabad-abad, narasi kejayaan maritim dan prasasti batu mendominasi catatan sejarah Kemaharajaan Sriwijaya. Padahal, sebagai pusat perdagangan dunia pada masa lalu, bumi Sumatra menyimpan dokumen perjanjian ekonomi yang sangat kompleks. Terbaru, sebuah kisah spiritual di kawasan Cagar Budaya Bukit Siguntang kembali membuka tabir rahasia jaringan saudagar kuno tersebut.
Cerita yang sarat akan nilai historis ini bermula dari pengalaman batin seorang lelaki tua berusia 72 tahun pada era dua dekade silam. Dalam hal ini, sang pria misterius tersebut menjalani laku meditasi selama lima malam berturut-turut di Bukit Siguntang pada tahun 2003. Hasilnya, ia menerima sebuah petunjuk gaib yang datang dalam keheningan malam yang pekat.
Jejak tutur sejarah yang tidak biasa ini mengalir melalui penjelasan seorang saksi budaya, Arya Mahessa. Arya membagikan kisah langka tersebut saat berjumpa dengan Altumnews.com di Bandar Lampung, Minggu (14/6/2026).
Misi Pembuka Tabir Aset dan Perjanjian Lama yang Terlupakan
Selanjutnya, Arya menegaskan bahwa esensi dari kemunculan anak laki-laki tersebut sama sekali bukan berkaitan dengan hal mistis yang dangkal. Faktanya, sosok ini tidak memiliki tugas sebagai pencari harta karun material yang terkubur di dalam tanah. Sebaliknya, ia memikul tanggung jawab besar untuk menjadi pembuka tabir sejarah perdagangan internasional yang kusut.
Menurut penuturan sang lelaki tua, pemuda keturunan tersebut kelak akan menyatukan kembali serpihan kisah lama yang terpendam. Berbagai informasi penting itu selama ini bersemayam di dalam catatan kuno, simbol rahasia, serta jejak hubungan kongsi dagang.
- Jaringan Transnasional: Hubungan dagang kuno ini melibatkan para saudagar lokal kerajaan dengan jaringan perdagangan dari berbagai negeri di kawasan Asia.
- Aliansi Maritim: Para pelaut internasional tersebut dahulu rutin singgah dan menjalin persekutuan resmi di tanah Sriwijaya.
- Rekonstruksi Sejarah: Tugas utama sang pemuda adalah mengurai benang kusut yang menghubungkan aset kongsi, perjanjian lama, dan warisan masa lalu.
Restu Segitiga Spiritual: Bukit Siguntang, Sungai Musi, dan Datuk Camong
Di sisi lain, narasi sejarah ini juga berjalan selaras dengan kepercayaan lokal masyarakat Sumatra Selatan mengenai penguasa kosmos. Sebelum melangkah lebih jauh, anak laki-laki pilihan tersebut akan memperoleh proteksi spiritual yang sangat kuat dari alam. Ia mengantongi restu langsung dari tiga kekuatan gaib utama, yaitu penjaga mistis Bukit Siguntang, aliran Sungai Musi, serta Datuk Camong.
Sebagai tanda keabsahan dari garis leluhur, alam membekali fisik anak tersebut dengan sebuah tanda lahir atau pusaka khusus. Tanda fisik dari alam tersebut memiliki visual menyerupai sembilan helai bunga kamboja, bunga wijaya kusuma, atau simbol matahari.
Pada akhirnya, Arya Mahessa menutup kisah tersebut dengan sebuah kalimat filosofis yang terus melekat dalam ingatan para pendengarnya.
“Apabila waktunya tiba, anak laki-laki dari garis Kapitan itu akan dipanggil oleh jejak-jejak leluhurnya sendiri. Bukan ia yang mencari rahasia itu, melainkan rahasia itulah yang akan menemukan dirinya,” tutup Arya Mahessa.
Kalimat pamungkas dari sang lelaki tua itu seolah menegaskan bahwa sejarah memiliki jalannya sendiri untuk mengungkap kebenaran.***





