Oleh: Eddy Aqdhiwijaya
ALTUMNEWS.Com — Ada sejenis keheningan yang hanya bisa dilahirkan oleh malam-malam penuh perenungan. Bagi saya, Muharram bukan sekadar pergantian angka pada kalender Hijriah. Ia adalah gerbang waktu yang sarat akan aroma hijrah—sebuah jembatan sunyi antara masa lalu yang harus ditinggalkan dan masa depan yang mesti ditempuh dengan jiwa yang baru.
Ketika momentum sakral itu berpadu dengan ritme hujan, yang jatuh bukan lagi sekadar air, melainkan simfoni berkah, kesedihan, sekaligus pembersihan. Di sinilah kontemplasi yang mendalam itu bermula.
Kita semua bergerak dalam siklus waktu yang terus berputar. Sayangnya, bisingnya rutinitas duniawi kerap membuat pergantian hari, bulan, dan tahun berlalu begitu saja tanpa sempat kita maknai. Manusia modern sering kali terlalu sibuk berlari hingga kehilangan momentum untuk berhenti sejenak, menjenguk ke dalam diri, dan melakukan muhasabah.
Padahal, dalam tradisi Islam, Muharram adalah monumen sejarah tentang pengorbanan dan kepindahan dari kegelapan menuju cahaya. Malam-malam di awal Muharram selalu menyimpan atmosfer magis—sebuah waktu di mana langit seolah membuka pintunya lebar-lebar, bersiap merengkuh keluh kesah dan taubat seorang hamba.
Lalu, bayangkan ketika malam yang agung itu dibasuh oleh hujan.
Hujan di malam hari selalu punya cara unik untuk menyeret kita ke dalam pusaran memori, kerinduan, dan rasa sepi. Namun, ketika gerimis itu jatuh tepat di malam Muharram, ia menjelma menjadi simbol meluruhnya dosa-dosa masa lalu. Ia datang untuk membasahi hati yang sempat mengering, sekaligus menumbuhkan kembali benih-benih harapan yang sempat patah.
Tulisan sederhana saya yang bertajuk “Hujan di Malam Muharram” hadir persis di titik temu tersebut.
Melalui untaian narasi yang mengalir di tulisan ini, saya tidak sedang ingin memamerkan estetika kata. Lebih dari itu, saya ingin berjalan bersama Anda sebagai sesama penjelajah rasa. Saya ingin mengajak kita semua mengetuk kembali pintu-pintu kesadaran yang telah lama berdebu akibat hiruk-pikuk dunia.
Saya meramu tulisan ini dengan kejujuran rasa dan rima batin, dengan harapan agar setiap baitnya tidak hanya selesai dibaca di mata, tetapi juga selesai untuk dirasakan di dada.
Di tengah gempuran zaman yang bergerak begitu cepat dan melelahkan, “Hujan di Malam Muharram” hadir sebagai sebuah jeda yang teduh. Bagi saya, tulisan ini laksana secangkir teh hangat di tengah cuaca yang tak menentu. Ia hadir untuk memeluk kita yang sedang lelah, memaksa kita menarik napas dalam-dalam, lalu berbisik lirih pada diri sendiri: “Ke mana arah langkah kita selanjutnya?”
Melalui coretan-coretan ini, saya hanya ingin menangkap kontemplasi sunyi yang lahir saat dunia sedang tertidur dan gerimis sedang mengetuk jendela. Ini adalah ikhtiar saya untuk menyediakan sebuah “ruang tenang”—baik bagi diri saya sendiri, maupun bagi siapapun yang sedang membutuhkannya.
Tulisan ini adalah undangan terbuka bagi siapapun yang sedang mencari ketenangan di tengah badai kehidupan, serta bagi jiwa-jiwa yang rindu menjadikan momentum hijrah sebagai titik balik kehidupan yang hakiki. Lewat tulisan ini, saya ingin kita sama-sama meyakini: seberat apa pun masa lalu yang telah kita lewati, selalu ada jalan untuk “pulang” dan memulai lembaran baru yang lebih bersih.
Pintu waktu telah berganti, lembaran baru telah digelar. Di bawah langit Muharram 1448 H, mari kita melangkah bukan dengan beban masa lalu, melainkan dengan harapan yang membubung tinggi ke langit, percaya bahwa rahmat-Nya selalu lebih besar dari segala rapuhnya kita. Selamat Tahun Baru, 1 Muharram 1448 H.***





