ALTUMNEWS.Com, BANDARLAMPUNG – H. Choiruddin, S.T. telah menghabiskan 36 tahun hidupnya di dunia penyiaran. Dari Palembang hingga Bandar Lampung, radio menjadi bagian penting dalam perjalanan kariernya.
Choiruddin kini menjabat Station Manager La Nugraha FM Bandar Lampung 97.6 FM. Ia tetap aktif di dunia radio setelah puluhan tahun menjalani profesi tersebut.
“Saya berkecimpung di dunia penyiaran ini dari tahun 90. Awal mulai jadi penyiar itu di Palembang, di Radio Lanugraha Palembang,” kata Bang Choi begitu Choiruddin akrab disapa saat dijumpai Altumnews.com, Jumat (21/8/2026).
Setelah itu, Bang Choi pindah ke Lampung pada 2003. Sejak saat itu, ia terus menekuni dunia radio di Bandar Lampung.
36 Tahun Menekuni Dunia Radio
Perjalanan Bang Choi di La Nugraha dimulai dari Palembang. Ia kemudian melanjutkan kariernya di La Nugraha Lampung.
“Kalau di Palembang dari tahun 1990 sampai dengan 2003. Kemudian 2003 sampai dengan 2026 ini, berarti sudah 23 tahun saya di Bandar Lampung,” ujarnya.
Dengan demikian, Bang Choi telah menghabiskan sekitar 36 tahun di lingkungan La Nugraha. Pengalaman panjang itu membuatnya memahami berbagai perubahan dalam industri radio.
Menurutnya, dunia penyiaran memiliki tantangan yang tidak ringan. Tantangan tersebut muncul dari sisi pemasaran maupun kemampuan seorang penyiar.
“Di radio ini memang banyak tantangan, baik itu dari segi marketing maupun dalam penyiaran,” jelasnya.
Selain itu, Bang Choi menilai tidak semua orang mampu menjadi penyiar. Bahkan, seorang penyiar juga belum tentu mampu menjadi pembawa acara yang kuat.
“Karena tidak semua orang bisa menjadi penyiar, dan tidak semua penyiar bisa menjadi salah satu pembawa acara,” katanya.
Bang Choi Yakin Radio Tidak Akan Mati
Di tengah perkembangan media digital, Bang Choi tetap optimistis terhadap masa depan radio. Menurutnya, masyarakat masih membutuhkan radio sebagai media informasi dan hiburan.
“Untuk masyarakat mendengarkan radio itu, kita orang radio harus optimis bahwa sampai saat ini orang masih membutuhkan radio. Sampai kapan pun radio tidak akan mati,” tegasnya.
Ia melihat suara tetap memiliki kekuatan tersendiri dalam kehidupan masyarakat. Karena itu, radio menurutnya akan tetap menemukan pendengarnya.
“Dunia ibarat mengatakan tanpa suara, tanpa kata-kata di radio, itu akan hampa,” ujarnya.
Bang Choi memperkirakan sekitar 40 persen masyarakat masih mendengarkan radio saat ini. Angka tersebut, menurutnya, menunjukkan bahwa radio masih memiliki ruang di tengah persaingan media.
Tantangan Membuat Penyiar Bertahan Lama
Lalu, apa yang membuat Bang Choi tetap bertahan di dunia radio selama puluhan tahun?
Ia menyebut tantangan sebagai salah satu alasan terkuat. Baginya, profesi penyiar menawarkan tantangan untuk terus berkembang dan meninggalkan kesan bagi pendengar.
“Kalau di dunia radio ini, sampai sekarang saya masih bertahan di radio karena salah satu tantangan,” katanya.
Menurut Bang Choi, seorang penyiar perlu membangun karakter yang kuat. Dengan begitu, pendengar dapat mengingat suara dan gaya penyiar tersebut.
“Tidak semua orang bisa menjadi penyiar. Itu tantangan di profesi untuk menjadi seorang penyiar yang selalu dikenang oleh masyarakat, pendengar khususnya,” jelasnya.
Ia juga melihat tidak banyak pekerja radio yang mampu bertahan hingga puluhan tahun. Sebagian memilih meninggalkan profesi tersebut sebelum mencapai masa kerja panjang.
“Tidak banyak teman-teman radio yang bertahan sampai dengan 23 tahun, bahkan sampai 30 tahun,” ungkap Bang Choi.
Karena itu, ia memilih terus bertahan dan menghadapi perubahan industri. Baginya, perjalanan panjang di dunia radio bukan sekadar pekerjaan, tetapi juga tantangan untuk terus menjaga hubungan dengan pendengar.
Kini, setelah 36 tahun berkecimpung di dunia radio, Bang Choi masih memilih mikrofon, suara, dan pendengar sebagai bagian dari perjalanan hidupnya.***





