ALTUMNEWS.Com, LAMPUNG SELATAN — Institut Teknologi Sumatera (ITERA) mendapat dorongan untuk mengambil peran lebih besar dalam pembangunan Lampung. Pemerintah Provinsi Lampung ingin kampus teknologi tersebut menjadi pusat inovasi yang menghasilkan solusi nyata bagi daerah.
Dorongan itu muncul dalam Dies Natalis ke-12 ITERA di Gedung Kuliah Umum 2 ITERA, Lampung Selatan, Selasa (6/10/2026).
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menyampaikan dorongan tersebut melalui Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Marindo Kurniawan. Menurutnya, ITERA memiliki posisi strategis dalam pengembangan teknologi, riset, dan hilirisasi komoditas unggulan daerah.
Pemprov Lampung Ingin Komoditas Naik Kelas
Sekdaprov Lampung Marindo Kurniawan mengatakan pertanian masih menjadi salah satu kekuatan utama ekonomi Lampung. Karena itu, pemerintah ingin hasil pertanian tidak berhenti pada produksi bahan mentah.
“Ini adalah kekuatan yang harus kita kelola dengan baik. Kita ingin pertanian tidak berhenti pada aktivitas produksi. Kita ingin pertanian menjadi sumber nilai tambah yang lebih besar bagi petani, pelaku usaha, dan masyarakat di desa,” ujar Marindo.
Saat ini, Lampung memiliki beragam komoditas unggulan. Daerah ini menghasilkan padi, jagung, ubi kayu, kopi, lada, karet, kelapa, tebu, nanas, pisang, dan kelapa sawit.
Selain itu, sektor peternakan dan perikanan juga menyimpan potensi besar.
Melalui teknologi, pemerintah ingin mengubah komoditas tersebut menjadi produk bernilai tambah. Dengan demikian, petani dan pelaku usaha dapat memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar.
“Kita ingin komoditas Lampung tidak hanya keluar dari daerah dalam bentuk bahan mentah, tetapi dapat diolah, dikembangkan teknologinya, diproduksi menjadi produk bernilai tinggi, dan kemudian dipasarkan ke pasar nasional maupun global,” kata Marindo.
ITERA Diminta Percepat Hilirisasi
Marindo melihat ITERA memiliki peran penting dalam mewujudkan target tersebut. Dalam hal ini, kampus dapat menghubungkan penelitian dengan kebutuhan industri dan masyarakat.
“Di sinilah saya melihat peran ITERA menjadi sangat penting,” ujarnya.
Untuk mendukung agenda itu, ITERA membentuk sejumlah kelompok riset. Tim peneliti mengembangkan nilai tambah singkong dan berbagai komoditas unggulan Lampung.
Selain komoditas pertanian, para peneliti juga menggarap riset logam tanah jarang, energi baru terbarukan, desa binaan, serta pengelolaan sampah terintegrasi.
Sejalan dengan itu, ITERA terus memperkuat riset dan inovasi untuk Sumatera. Pada Dies Natalis ke-12, kampus mengusung tema “Rumah Inovasi Menuju Keunggulan Global” dengan tagline “Brave, Independent, Sustainable and Adaptive.”
Mendiktisaintek Minta Masalah Lampung Masuk Kampus
Sementara itu, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto turut mendorong ITERA mengambil peran langsung dalam menyelesaikan persoalan pembangunan.
Menurut Brian, pemerintah daerah dapat membawa berbagai persoalan ke kampus. Selanjutnya, mahasiswa dan peneliti dapat mengembangkan riset untuk mencari solusi.
“Kami berharap ITERA dapat terus membantu Pemda Lampung. Berbagai masalah yang ada di provinsi kami persilakan untuk diberikan kepada ITERA atau kampus-kampus lainnya,” kata Brian.
Lebih lanjut, Brian berharap mahasiswa mengangkat persoalan nyata di Sumatera melalui skripsi dan tesis. Dengan cara itu, Lampung dapat menjadi salah satu wilayah penelitian bagi mahasiswa dan peneliti.
Tidak hanya menghasilkan penelitian, Brian meminta perguruan tinggi memastikan hasil riset memberi manfaat bagi masyarakat. Menurut dia, pengetahuan perlu berkembang menjadi solusi yang dapat digunakan secara nyata.
22.651 Mahasiswa Jadi Kekuatan ITERA
Rektor ITERA Prof. Dr. apt. Elfahmi mengatakan Dies Natalis ke-12 menjadi momentum untuk memperkuat transformasi kampus.
Saat ini, ITERA memiliki 22.651 mahasiswa aktif. Mereka menempuh pendidikan pada 41 program studi sarjana dan satu program magister.
Selain itu, ITERA telah meluluskan 16.159 mahasiswa. Delapan program studi meraih predikat unggul. Sementara itu, sejumlah program studi lain masih menjalani proses akreditasi.
Elfahmi menegaskan bahwa kampus ingin menghubungkan riset dengan kebutuhan masyarakat.
“Riset harus menjadi inovasi, inovasi harus menjadi solusi, dan solusi harus memberikan dampak,” kata Elfahmi.
Kolaborasi Jadi Kunci
Pada sisi lain, pengembangan inovasi membutuhkan kerja sama banyak pihak. Pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, media, dan masyarakat perlu bergerak bersama.
Marindo menyebut pendekatan tersebut sebagai kolaborasi hexahelix. Selain itu, semangat tersebut sejalan dengan nilai Sakai Sambayan yang menekankan gotong royong dalam pembangunan.
Untuk memperkuat sumber daya manusia, Pemprov Lampung menjalankan sejumlah program. Di antaranya Satu Desa Satu Sarjana, Kelas Migran Vokasi, Kelas Cangkok, Lampung Mengajar, serta pembebasan biaya pendidikan bagi siswa SMA dan SMK negeri.
“Kita ingin setiap penelitian memiliki peluang untuk diterapkan. Kita ingin inovasi tidak berhenti di laboratorium. Kita ingin ilmu pengetahuan hadir di tengah masyarakat,” ujar Marindo.
Dengan demikian, Dies Natalis ke-12 ITERA menjadi momentum untuk memperkuat agenda tersebut. Pemerintah dan kampus ingin mengubah riset menjadi inovasi yang memberi manfaat langsung.
Ke depan, teknologi diharapkan mampu meningkatkan nilai komoditas. Pada saat yang sama, inovasi juga perlu membuka peluang ekonomi dan membantu menyelesaikan persoalan Lampung serta Sumatera.***





