ALTUMNEWS.Com, BANDAR LAMPUNG – Pemerintah Provinsi Lampung mendorong desa menjadi pusat pertumbuhan ekonomi sekaligus benteng ketahanan pangan. Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal ingin petani tidak lagi hanya menjual hasil panen dalam bentuk bahan mentah.
Strategi tersebut menjadi bagian dari program Desaku Maju. Pemprov Lampung mengembangkan produksi, pengolahan, hingga pemasaran hasil pertanian dari tingkat desa.
Gubernur Mirza memaparkan strategi itu dalam Focus Group Discussion (FGD) bersama peserta didik Sespimti Polri Dikreg ke-36 Tahun 2026.
FGD tersebut mengangkat tema “Kebijakan Daerah dalam Rangka Penguatan Ekonomi Masyarakat dan Sumber Ketahanan Pangan di Provinsi Lampung”.
Kegiatan berlangsung di Ruang Rapat Utama, Rabu (7/10/2026).
Lampung Punya Kekuatan Besar di Sektor Pertanian
Menurut Mirza, pertanian menjadi salah satu kekuatan utama ekonomi Lampung. Kondisi geografis dan jumlah pekerja sektor pertanian memperkuat posisi tersebut.
Lampung memiliki luas daratan sekitar 3,3 juta hektare. Sekitar 1,7 juta hektare lahan tersebut dimanfaatkan untuk pertanian dan perkebunan.
Sementara itu, sekitar 1 juta hektare masuk kawasan hutan. Sekitar 1,7 juta masyarakat Lampung juga bekerja sebagai petani dan pekebun.
Kondisi tersebut membuat sektor pertanian sangat menentukan pergerakan ekonomi daerah.
“Kalau 60 persennya penduduk ini adalah petani, maka yang paling menyebabkan naik-turunnya perekonomian suatu daerah kami ini adalah pertanian sebenarnya,” ujar Mirza.
Lampung memiliki sejumlah komoditas unggulan. Padi, jagung, ubi kayu, nanas, dan pisang menjadi bagian penting sektor pangan daerah.
Produksi padi Lampung mencapai sekitar 3,2 juta ton. Produksi jagung mencapai sekitar 1,7 juta ton.
Lampung juga menjadi salah satu daerah penghasil ubi kayu terbesar di Indonesia.
Produksi Besar Belum Cukup Sejahterakan Petani
Mirza menilai besarnya produksi pangan belum otomatis meningkatkan kesejahteraan petani. Salah satu persoalannya terletak pada lemahnya nilai tambah di tingkat petani.
Selama ini, banyak petani menjual hasil panen dalam bentuk bahan mentah. Kondisi tersebut membuat keuntungan lebih besar mengalir ke rantai pasok setelah petani.
Petani juga menghadapi daya tawar yang lemah. Situasi tersebut membuat petani belum memperoleh manfaat maksimal dari besarnya potensi komoditas Lampung.
“Pangan yang di Provinsi Lampung ini selama ini belum bisa memakmurkan masyarakat Lampung. Petani kita selama ini menjual bahan mentah,” kata Mirza.
Karena itu, Pemprov Lampung mengubah pendekatan pembangunan pertanian. Pemerintah tidak hanya mengejar peningkatan produksi.
Pemprov juga mendorong hilirisasi pertanian dari desa.
Desaku Maju Ubah Desa Jadi Pusat Produksi
Melalui program Desaku Maju, Pemprov Lampung ingin desa menjadi pusat produksi sekaligus pengolahan pangan.
“Ketahanan pangan kita mulai dari desa, bukan dari nation saja. Maka kami buat program namanya Desaku Maju,” ujar Mirza.
Program tersebut mencakup berbagai dukungan bagi petani. Salah satunya melalui penyediaan Pupuk Hayati Cair (PHC) di desa.
Pemprov memanfaatkan limbah sebagai bahan baku PHC. Program tersebut bertujuan meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya produksi.
Pada 2025, Pemprov Lampung menjalankan program PHC di 500 desa. Pada 2026, cakupannya meningkat menjadi 2.000 desa.
Setiap fasilitas menargetkan dukungan untuk sekitar 400 hektare lahan pertanian.
Bed Dryer Naikkan Nilai Jual Hasil Panen
Pemprov Lampung juga mendorong desa memiliki mesin bed dryer. Mesin tersebut membantu petani mengeringkan hasil pertanian sebelum menjualnya.
Selama ini, petani sering menjual komoditas dalam kondisi basah. Kondisi tersebut meningkatkan biaya logistik dan menekan harga jual.
Pemprov ingin petani menjual produk dalam kondisi lebih siap pasar.
“Kita selalu menjual bahan mentahnya basah. Padi dijual basah, jagung dijual basah, singkong dijual basah,” ujar Mirza.
Menurutnya, mesin pengering dapat membuat produk lebih efisien saat masuk pasar. Harga jual juga dapat meningkat karena petani tidak lagi menjual produk dalam kondisi basah.
Pemprov Lampung menyiapkan program mesin bed dryer di desa. Kebijakan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat rantai pasok pangan dari tingkat produksi.
Petani Tak Lagi Sekadar Jual Gabah
Mirza ingin desa tidak berhenti pada aktivitas produksi. Desa juga harus mengolah hasil pertanian menjadi produk bernilai tambah.
Padi, misalnya, tidak harus keluar dari desa dalam bentuk gabah. Pemerintah mendorong penggilingan berada lebih dekat dengan sentra produksi.
Begitu pula jagung. Pemprov ingin desa mengolah jagung menjadi pakan ternak.
Langkah tersebut dapat menciptakan ekosistem baru. Petani menghasilkan jagung, desa mengolahnya menjadi pakan, lalu peternak mendapatkan pakan dengan harga lebih efisien.
Pola serupa juga dapat berkembang pada komoditas pangan lainnya.
“Intinya kami mempersiapkan desa kami bukan hanya memproduksi pangan, tapi juga memproduksi barang jadi,” tegas Mirza.
Koperasi Desa Pangkas Rantai Perdagangan
Pemprov Lampung juga mengintegrasikan program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dengan penguatan ketahanan pangan.
Koperasi dapat berperan dalam menyerap hasil pertanian masyarakat. Pola tersebut dapat membantu memangkas rantai perdagangan komoditas.
Mirza mencontohkan perdagangan gabah. Selama ini, sebagian gabah Lampung keluar daerah untuk menjalani proses pengolahan.
Setelah menjadi beras, produk tersebut dapat kembali masuk ke Lampung. Kondisi ini membuat nilai tambah tidak sepenuhnya tinggal di daerah.
Pemprov ingin KDMP membantu mengubah pola tersebut. Koperasi dapat menyerap gabah dan mengirimkannya ke penggilingan terdekat.
“Kalau KDMP ini bisa bekerja dengan masif di Provinsi Lampung, maka kami tidak mengirim gabah lagi ke luar Lampung, kami mengirim beras,” ujarnya.
Dengan pola tersebut, nilai tambah pengolahan beras dapat tetap berputar di Lampung. Petani dan pelaku usaha lokal juga memiliki peluang mendapatkan manfaat lebih besar.
Pemuda Desa Didorong Masuk Industri Pertanian
Pemprov Lampung tidak hanya menyasar petani. Pemerintah juga menyiapkan pemuda usia produktif melalui pelatihan vokasi.
Pelatihan tersebut dapat mendukung kebutuhan tenaga kerja di sektor pengolahan hasil pertanian. Pemuda desa juga dapat mengambil peran dalam industri berbasis komoditas lokal.
Pemprov turut memperkuat BUMDes dan koperasi. Pemerintah juga mendorong penggunaan mesin industri sederhana di tingkat desa.
Dengan cara itu, desa dapat menciptakan lebih banyak aktivitas ekonomi. Masyarakat tidak hanya bergantung pada penjualan hasil panen.
Ketahanan Pangan Harus Menguntungkan Petani
Mirza menegaskan ketahanan pangan tidak cukup hanya dengan menjaga jumlah produksi. Pemerintah juga harus memastikan masyarakat mampu memperoleh pangan bergizi dengan harga terjangkau.
Karena itu, Pemprov Lampung membangun ekosistem pangan dari hulu hingga hilir.
Petani padi harus mendapatkan harga yang baik. Petani jagung juga perlu memperoleh pasar yang kuat.
Di sisi lain, peternak membutuhkan pakan dengan harga terjangkau. Biaya pakan yang lebih rendah dapat membantu menekan harga protein hewani.
Pola tersebut akan menciptakan hubungan ekonomi antarsektor. Petani, peternak, pelaku usaha, koperasi, dan konsumen dapat saling mendukung.
“Ketika itu dijalankan, itulah namanya bagi saya itu adalah ketahanan pangan,” kata Mirza.
Pemprov Libatkan TNI, Polri dan Dunia Usaha
Pemprov Lampung menjalankan strategi tersebut melalui kolaborasi lintas sektor. Pemerintah menggandeng TNI, Polri, kejaksaan, kementerian, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat.
Kolaborasi juga menyasar produksi dan harga komoditas pangan.
Polri membantu penguatan sektor jagung. TNI mendukung sektor padi dan hilirisasi.
Pelaku UMKM juga mendapat ruang untuk mengembangkan produk olahan pertanian.
“Ini kolaborasi saya dengan Forkopimda semuanya. Di sini kami sepakat dalam Forkopimda kita majukan pangan, konsepnya seperti ini, kita jalan sama-sama,” ungkap Mirza.
Sespimti Polri Nilai Strategi Lampung Relevan
Pimpinan Rombongan Sespimti Polri Brigjen Pol. Mardiaz Kusin Dwihananto mengapresiasi dukungan Pemprov Lampung terhadap kegiatan Pendidikan Kerja Dalam Negeri (PKDN) Sespimti Polri Dikreg ke-36 Tahun 2026.
Menurut Mardiaz, PKDN memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menghubungkan teori dengan kondisi nyata di daerah.
Peserta juga dapat memahami karakteristik wilayah. Mereka kemudian dapat merumuskan solusi berdasarkan fakta dan data.
Ia menilai tema ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat sangat relevan dengan tantangan pembangunan nasional.
Mardiaz menyebut pemimpin tingkat tinggi perlu memiliki kemampuan membaca perubahan. Pemimpin juga perlu membangun kolaborasi lintas sektor.
Kemampuan tersebut penting untuk menghasilkan keputusan yang memberikan dampak positif bagi masyarakat.
Desa Jadi Kunci Ekonomi dan Ketahanan Pangan Lampung
Strategi Pemprov Lampung menunjukkan arah pembangunan yang lebih luas. Pemerintah tidak hanya ingin desa menjadi tempat produksi pangan.
Pemprov juga ingin desa mengolah, menyimpan, memasarkan, dan menciptakan nilai tambah dari komoditasnya sendiri.
Program Desaku Maju, PHC, bed dryer, penguatan KDMP, vokasi, dan hilirisasi menjadi bagian dari strategi tersebut.
Jika seluruh ekosistem berjalan, desa dapat menjadi pusat aktivitas ekonomi baru. Petani juga memiliki peluang memperoleh nilai tambah yang lebih besar dari hasil panennya.
Bagi Lampung, penguatan ekonomi desa sekaligus menjadi bagian dari strategi membangun ketahanan pangan dari tingkat paling bawah.***





