244 Siswa SMA Xaverius Bandar Lampung Selesaikan Program Live In di Lampung Utara

ALTUMNEWS.com, LAMPUNG UTARA — Sebanyak 244 siswa kelas XI SMA Xaverius Bandar Lampung menyelesaikan Program Live In di Lampung Utara. Kegiatan tersebut berakhir dengan Misa Ekaristi di Gereja Stasi Pagar Gading. RD Markus Sumantri memimpin misa penutupan itu.

Romo Markus Ajak Siswa Bangun Persahabatan

Dalam homilinya, Romo Markus Sumantri mengajak siswa membangun persahabatan dengan keluarga tempat mereka tinggal. Menurutnya, persahabatan dapat membantu setiap orang saling terbuka dan menguatkan.

“Carilah sahabat, karena sahabat itu akan membuat diri kita satu dengan yang lain. Kita bisa saling terbuka dan menguatkan dalam hidup,” kata Romo Mantri.

Karena itu, ia berharap para siswa tetap menjaga hubungan dengan keluarga yang menerima mereka selama Live In. Selain itu, siswa diharapkan terus menjalin komunikasi dengan orang tua dan anggota keluarga tersebut.

Sekolah Sampaikan Permohonan Maaf

Sementara itu, P. Gatot Eko Adrijanto mewakili Kepala SMA Xaverius Bandar Lampung menyampaikan permohonan maaf. Ia meminta maaf kepada warga Desa Pager Gading, Trimodadi, dan Karang Rejo jika ada perilaku siswa yang kurang berkenan.

“Mohon maaf jika ada tingkah laku anak-anak kami yang kurang berkenan. Terima kasih atas kebersamaan dan pendidikan yang telah diberikan kepada para siswa,” katanya.

Selain meminta maaf, P. Gatot juga menyampaikan apresiasi kepada masyarakat. Warga telah menerima dan mendampingi siswa selama mengikuti program tersebut.

Live In Bentuk Karakter Siswa

Koordinator Panitia Program Live In, Sisilia Surasi Andriani, kembali menjelaskan tujuan kegiatan. Menurutnya, sekolah menjalankan Live In sebagai bagian dari pendidikan karakter siswa.

Sebelumnya, sejumlah orang tua sempat mempertanyakan manfaat program tersebut. Namun, Sisilia memilih menunjukkan manfaatnya melalui pengalaman langsung para siswa.

“Saya hanya mengatakan bahwa paling tidak nanti dia pulang lebih bersyukur atas hidup dan keadaannya,” ujar Sisilia.

Kini, ia melihat para siswa mendapat pengalaman lebih dari sekadar rasa syukur. Mereka juga belajar hidup mandiri dan beradaptasi dengan keluarga serta masyarakat.

Momen Haru Saat Perpisahan

Selain itu, acara perpisahan menghadirkan momen mengharukan. Sisilia meminta salah satu siswa bernama Jody mencari orang tua asuhnya.

Ia meminta Jody menyampaikan permintaan maaf karena beberapa kali pulang terlambat. Menurut Sisilia, pengalaman itu menjadi pelajaran penting tentang sikap santun dan tanggung jawab.

“Saya minta Jody, cari bapakmu, cari papamu. Minta maaf karena kamu sering dicari sampai sore enggak pulang,” kata Sisilia.

Kepala Sekolah Apresiasi Siswa

Selanjutnya, Kepala SMA Xaverius Bandar Lampung, F. Joko Winarno, memberikan apresiasi kepada seluruh peserta. Ia menilai siswa berhasil mengikuti proses pendidikan multikultural dengan baik.

Joko juga berterima kasih kepada panitia dan warga dari tiga stasi. Mereka telah mendampingi siswa selama belajar langsung bersama masyarakat.

“Secara khusus saya berterima kasih kepada warga karena mereka telah menerima para siswa SMA Xaverius dengan tulus dan dengan hati,” kata Joko di Bandar Lampung, Sabtu, 2 Maret 2019.

Siswa Merasakan Perubahan

Salah satu peserta, Elisabet, siswi kelas XI MIPA 1, mengaku mendapat pengalaman yang mengubah dirinya. Ia merasa program Live In membantu membentuk karakter dan kemandirian.

“Menurut aku sih buat pendidikan karakter, Live In sih oke. Kayak memang benar-benar dilatih, tidak cuma manja-manja doang di rumah,” tuturnya.

Menurut Elisabet, kegiatan tersebut membuat siswa lebih aktif menjalani kehidupan sehari-hari. Mereka juga belajar melakukan berbagai pekerjaan secara mandiri.

244 Siswa Tinggal Bersama Warga

Sebagai informasi, 244 siswa kelas XI SMA Xaverius Bandar Lampung mengikuti Live In pada 24 Februari hingga 1 Maret 2019. Mereka tinggal di Desa Pager Gading, Trimodadi, dan Karang Rejo, Kecamatan Blambangan Pagar, Lampung Utara.

Selama enam hari, para siswa tinggal bersama keluarga yang menjadi orang tua asuh. Mereka juga mengikuti berbagai aktivitas dan rutinitas keluarga setiap hari.

Dengan demikian, program Live In memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar langsung dari masyarakat. Selain membangun kemandirian, kegiatan ini juga memperkuat pendidikan karakter dan pengalaman hidup multikultural.***

Kontributor: E. Gamma Pranadenta