Pandemi Bikin Penghasilan Turun? Ini Cara Mengatur Keuangan Keluarga

ALTUMNEWS.Com, BANDARLAMPUNG — Membahas persoalan rumah tangga memang selalu menarik. Salah satu yang penting ialah persoalan finansial atau keuangan keluarga.

Apalagi, pandemi Covid-19 membuat banyak keluarga menghadapi tekanan ekonomi. Pemasukan semakin sulit, sedangkan kebutuhan keluarga tetap berjalan.

Pengawas KSP Kopdit Mekar Sai Lampung, Yuli Nugrahani, membagikan tips mengelola keuangan keluarga. Ia menyampaikan tips tersebut dalam talkshow di Radio Suara Wajar beberapa waktu lalu.

Lantas, bagaimana cara keluarga mengelola keuangan di tengah krisis akibat pandemi Covid-19? Berikut rangkuman penuturan Yuli Nugrahani bersama suaminya, Piet Hendro, yang dihimpun Altumnews.com.

Keluarga Menghadapi Tekanan Ekonomi

Menurut Yuli, banyak keluarga harus bertahan selama pandemi. Sebagian keluarga mengalami pengurangan gaji. Selain itu, sebagian lainnya menghadapi pemutusan hubungan kerja (PHK).

Tidak hanya itu, sejumlah keluarga juga harus menutup usaha. Pada saat yang sama, pengeluaran rumah tangga justru meningkat.

Keluarga harus mengeluarkan biaya lebih untuk internet dan telepon. Sementara itu, penerapan protokol kesehatan (prokes) membatasi aktivitas masyarakat.

Akibatnya, kekhawatiran juga meningkat. Kondisi tersebut dapat memicu stres dalam keluarga.

Cara Mengelola Keuangan Keluarga

Untuk menghadapi kondisi tersebut, keluarga dapat menerapkan beberapa langkah sederhana. Pertama, keluarga perlu menghemat pengeluaran.

Kedua, keluarga dapat memanfaatkan pekarangan rumah. Misalnya, keluarga menanam berbagai kebutuhan pangan di sekitar rumah.

Selanjutnya, keluarga dapat mencari sumber penghasilan tambahan. Selain itu, keluarga perlu memperkuat akses keuangan untuk kebutuhan jangka panjang.

Yang tidak kalah penting, keluarga tetap perlu menabung meski kondisi ekonomi sulit.

Jangan Jadikan Uang sebagai Tujuan Utama

Menurut Yuli, uang memang penting dalam kehidupan keluarga. Namun, keluarga tidak boleh menjadikan uang sebagai satu-satunya tujuan.

“Uang itu penting, tapi bukan yang paling penting. Uang ada di mana-mana, tinggal diambil saja. Hanya saja yang mampu melihat uang itu orang yang ‘tahu, bijak dan mau bekerja’.”

Dengan kata lain, peluang ekonomi bisa muncul di berbagai tempat. Orang yang mau melihat dan bekerja dapat menemukan peluang tersebut.

“Apakah uang ada di meja makan? Bagi orang yang tahu, bijak dan mau bekerja, ada uang di situ. Dalam semangkuk sambel saja ada uang, di atas pohon ada uang, di jalan ada uang, dan seterusnya.”

Karena itu, Yuli mengingatkan keluarga agar tidak menjadikan uang sebagai berhala.

Atur Pengeluaran Rumah Tangga

Selanjutnya, keluarga perlu membagi pengeluaran berdasarkan kebutuhan. Pembagian tersebut dapat membantu keluarga mengatur prioritas.

Beberapa jenis pengeluaran keluarga meliputi:

  • Kebutuhan harian, seperti makan dan minum.
  • Kebutuhan bulanan, seperti biaya sekolah, listrik, telepon, internet, angsuran pinjaman, dan tabungan.
  • Kebutuhan tahunan, seperti rekreasi atau mudik.
  • Kebutuhan tidak terduga, seperti biaya sosial dan kebutuhan lainnya.

Dengan pembagian tersebut, keluarga dapat mengetahui prioritas pengeluaran. Selain itu, keluarga dapat menghindari penggunaan uang secara berlebihan.

Kelola Keuangan Bersama

Selain mengatur pengeluaran, keluarga perlu mengelola uang melalui satu pintu.

Yuli menekankan pentingnya keterbukaan dalam mengelola keuangan rumah tangga. Menurutnya, keluarga tidak perlu membedakan uang suami dan uang istri.

Sebaliknya, suami dan istri dapat menganggap uang sebagai milik bersama. Kemudian, keduanya mengelola dan menggunakan uang tersebut untuk kepentingan keluarga.

Manfaatkan Bank, Koperasi, dan Pegadaian

Dalam mengelola keuangan, keluarga juga dapat memanfaatkan berbagai lembaga keuangan. Setidaknya ada tiga lembaga yang dapat mendukung kebutuhan tersebut.

  • Bank
  • Koperasi
  • Pegadaian

Ketiganya dapat membantu keluarga mengatur tabungan dan transaksi. Selain itu, keluarga dapat memanfaatkannya untuk kebutuhan sehari-hari.

Di luar ketiga lembaga tersebut, keluarga juga memiliki jaringan pengaman. Jaringan itu dapat berasal dari keluarga dan teman.

Namun, hubungan tersebut membutuhkan kepercayaan. Karena itu, setiap orang perlu menjaga kepedulian dan kepercayaan dalam relasi sosial.

Jangan Berutang Saat Darurat

Sementara itu, Yuli juga membahas persoalan utang. Menurutnya, utang memang bisa menjadi bagian dari pengelolaan keuangan.

Akan tetapi, keluarga sebaiknya tidak mengambil utang ketika menghadapi kondisi darurat. Sebaliknya, keluarga perlu merencanakan utang sejak awal.

Dengan demikian, keluarga dapat menggunakan utang secara lebih terukur. Perencanaan juga membantu keluarga menghindari beban utang yang tidak perlu.

Yuli juga mengutip pandangan almarhum Bob Sadino mengenai utang.

“Dia mengatakan kita mesti berhutang selama kita masih bisa berhutang. Bukan untuk konsumsi, tapi untuk dipekerjakan.”

Menurut pandangan tersebut, utang dapat menjadi sarana produktif. Namun, keluarga tetap membutuhkan perencanaan matang dan sikap hati-hati.

Cari Sumber Penghasilan Tambahan

Selain mengatur utang, keluarga juga perlu melihat peluang penghasilan baru. Menurut Yuli, banyak peluang yang bisa dikembangkan.

Ia mencontohkan SAM Bengkel dan Sparepart. Usaha tersebut menjadi salah satu usaha yang ia jalankan setelah mengalami sejumlah kegagalan.

Menariknya, usaha tersebut mulai berjalan pada Juli 2020. Saat itu, banyak pelaku usaha mengeluhkan kondisi bisnis yang lesu.

Namun, Yuli melihat peluang dari kondisi tersebut. Ia melihat adanya teman yang membutuhkan pekerjaan.

Selain itu, ia berharap usaha tersebut dapat menjadi sarana keuangan keluarga pada masa depan.***