ALTUMNEWS.Com, LAMPUNG SELATAN – Bagi masyarakat luas, imam Gereja Katolik identik dengan pelayanan umat di paroki. Imam juga menjalankan tugas pastoral melalui berbagai komisi di keuskupan.
Namun, ada imam yang menjalankan tugas berbeda. Ia juga bertugas sebagai perwira aktif Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Sosok itu ialah R.D. Letnan Dua (Sus.) Paulus Nasib Suroto. Ia merupakan imam sekaligus perwira aktif TNI Angkatan Udara (AU). Romo Nasib berasal dari Keuskupan Malang sebagai Imam Diosesan (Projo).
Untuk menjawab rasa ingin tahu tersebut, Altumnews.com berbincang langsung dengan Romo Paulus Nasib Suroto. Saat itu, ia sedang pulang ke tanah kelahirannya di Desa Marga Lestari, Kecamatan Jati Agung, Lampung Selatan, pada 28 April 2023.
Lima Imam Bertugas sebagai Perwira TNI
Pada awal perjumpaan, Romo Nasib menyebut beberapa imam yang juga menjalankan tugas sebagai perwira TNI.
“Kalau dalam hal ini saya kembali meng-update, sebenarnya kami yang di tentara itu ada lima sekarang. Yang satu Kolonel, kebetulan Romo Yos Bintoro ikut dalam misa perayaan syukur hari ini. Kemudian nomor dua saya,” ujarnya.
Selain itu, ada Romo Paulus Ardi yang bertugas di Sulaiman, Bandung. Dua imam lainnya bertugas di lingkungan TNI Angkatan Laut dan masih menjalani pendidikan.
Romo Nasib juga menjelaskan asal keuskupan para imam tersebut.
“Kalau Romo Yos itu dari Keuskupan Agung Jakarta. Kemudian Romo Paulus Adi itu dari Keuskupan Semarang. Saya sendiri dari Keuskupan Malang. Kemudian Romo Satya dari Keuskupan Surabaya. Satu lagi dari Keuskupan Agung Palembang,” jelas imam kelahiran 15 September 1985 itu.
Menjalani Dua Panggilan
Selanjutnya, Romo Nasib menceritakan pengalaman suka dan duka ketika menjalani panggilan sebagai imam sekaligus perwira TNI.
“Kalau dikatakan suka duka, ada banyak pengalaman suka duka. Namun, pengalaman itu bukan untuk diratapi. Kita harus menjalaninya,” kata dia.
Menurut Romo Nasib, berbagai pengalaman hidup dapat membentuk seseorang menjadi lebih tangguh.
“Proses tidak akan mengkhianati hasil. Secara pribadi, pengalaman suka duka itu ada banyak hal. Namun, pengalaman tersebut membentuk diri seseorang menjadi lebih baik,” tandasnya.
Selain bertugas sebagai pastor rekan, Romo Nasib juga menjalankan tugas kedinasan. Ia mendampingi anggota TNI, Polri, serta ASN di lingkungan tempatnya bertugas.
“Kalau romo-romo lainnya merawat umat paroki di mana dia ditugaskan, kami merawat anggota TNI/Polri dan juga ASN. Itulah tugas kegembalaan kami secara spesifik,” jelasnya.
Dalam tugas kedinasan, ia juga mengerjakan berbagai pekerjaan administratif. Tugas itu mencakup surat-menyurat, pendampingan sebelum menikah, hingga urusan rujuk dan cerai.
Selain itu, ia dapat menjalankan tugas lapangan. Misalnya, ia membawa atau memimpin pasukan sesuai kebutuhan kedinasan.
“Sebagai seorang romo, tugasnya kalau boleh dikatakan tujuh hari 24 jam. Kalau jam kerja mungkin untuk dinas. Namun, selepas jam kerja itu untuk umat Allah yang membutuhkan imam,” jelasnya.
Menjalani Pendidikan TNI dengan Tekun
Romo Nasib mengaku menjalani pendidikan TNI dengan penuh ketekunan. Ia melihat proses tersebut sebagai tantangan yang harus ia hadapi.
“Kalau memulai pendidikan, orang pertama-tama melihat itu berat. Namun, sesuatu yang berat kalau kita jalani dan tekuni tidak akan menjadi lebih berat,” ungkapnya.
Karena itu, ia merasa bersyukur setelah melewati berbagai tahapan pendidikan.
“Ketika berhasil melewati itu, kita mengatakan, bersyukur aku bisa melewati sesuatu yang berat itu. Ke depannya saya bisa mengatakan, saya sudah pernah dan saya bisa,” papar Romo Nasib.
Keinginan Menjadi Tentara Sejak Kecil
Menariknya, keinginan menjadi anggota TNI sudah muncul sejak Romo Nasib masih kecil. Saat itu, ia gemar bermain dengan miniatur tentara.
“Dari kecil saya sering suka miniatur tentara kecil-kecil. Mungkin itu mindset saya, alam bawah sadar saya,” tuturnya.
Ia juga menyukai mainan pesawat dan gambar burung. Setelah dewasa, ia baru menyadari bahwa berbagai kegemaran tersebut mungkin berkaitan dengan ketertarikannya pada dunia militer.
“Ketika besar, saya baru memahami bahwa keinginan saya untuk menjadi seorang tentara, seorang Angkatan Udara, ternyata sudah terbangun sejak dahulu kala,” jelasnya.
Berani Mencoba Hal Baru
Romo Nasib mengaku menyukai hal-hal baru dan menantang. Ia menyebut dirinya sebagai pribadi yang senang mencoba.
“Saya secara pribadi orangnya suka coba-coba. Mencoba sesuatu bagi saya, hasil itu nanti. Yang penting saya berproses,” katanya.
Ketika mendapat informasi pendaftaran TNI, ia pun mencoba mengikuti proses tersebut. Saat itu, ia tidak terlalu yakin akan lolos.
“Saya sudah yakin semuanya tidak akan masuk. Namun, itu kehendak saya, bukan kehendak Tuhan. Ketika Tuhan berkehendak, segala sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin,” ungkapnya.
Menjaga Panggilan Imamat
Menjalankan tugas sebagai imam sekaligus perwira TNI tentu menghadirkan tantangan. Namun, Romo Nasib memiliki cara untuk menjaga panggilan imamatnya.
Ia mengutip pemikiran Pater Beek, SJ tentang prinsip “larut tetapi tidak hanyut”.
“Ketika kita mampu bergaul bersama, kita serawung dengan mereka. Iman kita tetap iman kita. Ketika dia berbicara tentang imannya, kita dengarkan. Yang penting bukan untuk menyerang,” jelasnya.
Menurut dia, kehadiran menjadi cara penting untuk mewartakan iman Katolik.
“Karya pewartaan saya hanya kehadiran. Saya bersama anggota mengecat kanstin. Saya hadir bersama mereka, panas-panasan. Ketika mereka mengecat, saya ambilkan makanan dan minuman,” tuturnya.
Dengan cara tersebut, ia ingin menunjukkan iman melalui tindakan nyata. Ia tidak ingin membangun jarak dengan orang lain karena perbedaan keyakinan.
Cincin Imamat dalam Tradisi Pedang Pora
Romo Nasib juga menceritakan pengalaman menarik saat mengikuti tradisi Upacara Pedang Pora. Ia selalu mengenakan cincin sebagai pengingat panggilan imamatnya.
“Cincin ini selain mengingatkan saya sebagai seorang imam, juga membentengi diri saya ketika mengikuti Pedang Pora,” katanya.
Menurut Romo Nasib, cincin tersebut menjadi tanda bahwa ia seorang imam. Karena itu, orang lain dapat memahami status dan panggilannya.
Pesan untuk Orang Muda Katolik
Pada kesempatan tersebut, Romo Nasib menyampaikan pesan bagi Orang Muda Katolik (OMK) di Keuskupan Tanjungkarang.
Ia mengajak kaum muda keluar dari zona nyaman. Selain itu, ia meminta mereka berani mengambil keputusan dan menghadapi risiko.
“Seruan untuk orang muda di Keuskupan Tanjungkarang: keluarlah dari zona nyaman. Berani melangkah dan berani mengambil keputusan,” tegasnya.
Menurut dia, orang Katolik juga perlu membangun pergaulan yang luas.
“Jangan bergaul dengan yang seiman saja. Bergaullah dengan mereka. Justru di situ kita dapat banyak teman,” tandasnya.
Pesan untuk Orang Tua
Romo Nasib juga menyampaikan harapan bagi kedua orang tuanya, Matius Karjio dan Maria Kasminah. Keduanya merayakan Pesta Intan 60 tahun pernikahan.
“Kalau harapan dengan 60 tahun perkawinan saya sederhana, SETIA,” ujarnya.
Menurut Romo Nasib, setiap keluarga pasti menghadapi persoalan. Namun, kesetiaan kepada Tuhan dan proses kehidupan dapat menjadi kekuatan.
“Ketika kita setia pada Tuhan dan setia pada setiap proses, saya yakin Tuhan akan memberikan. Kita berusaha dengan bagian kita sebaik mungkin. Selebihnya, biar Tuhan yang menyelesaikan,” tutup Romo Nasib.
Dalam perayaan syukur Pesta Intan tersebut, Pastor Kepala Paroki Marga Agung Romo Roy memimpin Misa sebagai selebran utama.
Konselebran dalam perayaan itu antara lain R.D. Gregorius Suripto, R.D. Letnan Dua (Sus.) Paulus Nasib Suroto, R.D. Kolonel Yosef Maria Marcellianus Bintoro, R.P. Stepanus Sigit Pranoto, SCJ, dan R.D. Aloysius Muji Antono.***





