Gubernur Lampung Satukan Langkah Pemerintah, Perbankan, dan Dunia Usaha untuk Transformasi Pertanian

KRAKATOA.ID, BANDAR LAMPUNG – Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menegaskan komitmennya untuk menjadikan pertanian sebagai penggerak utama ekonomi daerah dengan membangun kolaborasi erat antara pemerintah, dunia usaha, dan lembaga keuangan. Hal ini disampaikan dalam Rapat Optimalisasi Peran Perbankan dan Dunia Usaha dalam Memajukan Sektor Pertanian, yang digelar di Ruang Rapat Utama Kantor Gubernur, Kamis (2/10/2025).

Dalam pertemuan yang dihadiri pimpinan perbankan, pelaku usaha, dan jajaran instansi terkait tersebut, Gubernur mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk menyatukan visi pembangunan pertanian Lampung secara menyeluruh — dari pembiayaan, produksi, pengolahan, hingga hilirisasi.

“Lampung tumbuh dengan pertaniannya. Maka, pemerintah sebagai regulator, dunia usaha sebagai eksekutor, dan perbankan sebagai pendukung harus berjalan searah. Kita tidak bisa bekerja sendiri-sendiri lagi,” tegas Gubernur.

Menurut Gubernur, penguatan sektor pertanian tidak cukup hanya pada sisi produksi, tetapi juga membutuhkan pembenahan infrastruktur pascapanen, seperti pengeringan jagung dan padi, serta akses permodalan bagi petani dan pelaku UMKM.

Ia menyoroti rendahnya kapasitas pengeringan hasil panen, di mana pada 2024 hanya 30 persen produksi jagung yang dapat dikeringkan di dalam daerah. Akibatnya, sisanya dijual ke luar Lampung dengan harga lebih rendah. Gubernur menargetkan dalam dua tahun ke depan akan dilakukan alih fungsi 100 ribu hektare lahan singkong menjadi jagung dan padi gogo, untuk memperkuat ketahanan pangan dan memperbesar nilai ekonomi.

“Saya minta perbankan bantu pembiayaan alat pengering, RMU, dan industri desa lainnya. Kalau bisa kita selesaikan pengolahan hasil panen di sini, nilai tambahnya akan luar biasa bagi perekonomian daerah,” ungkapnya.

Selain penguatan infrastruktur, Gubernur juga mendorong peran Koperasi Merah Putih dan program Desaku Maju untuk memperkuat kemandirian desa melalui hilirisasi, mekanisasi, dan pelatihan vokasional tematik di sektor pertanian.

Kepala Bappeda Lampung Anang Risgiyanto menjelaskan bahwa meskipun sektor pertanian tetap menjadi tulang punggung ekonomi Lampung, kontribusinya terhadap PDRB mengalami penurunan dalam lima tahun terakhir, dari 29,73% pada 2020 menjadi 26,21% pada 2024.

Namun, tren pertumbuhan mulai membaik di 2025, dengan catatan pertumbuhan 5,44% di triwulan I dan 1,88% di triwulan II. Lampung juga mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) sebesar 128,9% — salah satu yang tertinggi secara nasional, menandakan daya beli petani relatif baik.

Sementara itu, sektor ini tetap menjadi penyerap tenaga kerja terbesar, dengan 2,29 juta orang (46,96%) bekerja di pertanian, kehutanan, dan perikanan.

Anang menegaskan bahwa percepatan transformasi pertanian harus melibatkan pembiayaan dari perbankan, serta kemitraan aktif dari dunia usaha melalui skema CSR, contract farming, inti–plasma, hingga penerapan teknologi precision farming dan digitalisasi.

Pihak perbankan menyambut positif arahan Gubernur. Kepala OJK Lampung Otto Fitriandy menyatakan bahwa model pengembangan berbasis ekosistem tertutup (closed loop) seperti pada program Desaku Maju dapat menjadi mitigasi risiko yang efektif bagi penyaluran kredit pertanian.

“Kami dukung penuh. Desainnya sangat terstruktur. Bagi perbankan, ini justru memudahkan dalam menjaga kualitas pembiayaan,” ujarnya.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung, Bimo Epyanto, menambahkan bahwa pertumbuhan sektor pertanian tahun ini bahkan melebihi sektor lain, dan Bank Indonesia siap mendukung program hilirisasi sesuai dengan “peta pohon komoditas” yang telah disusun.

“Sekarang tinggal memilih sektor mana yang paling sesuai untuk Lampung. Karena itulah pertemuan hari ini sangat strategis,” kata Bimo.

Rapat ini bukan sekadar ajang diskusi, melainkan awal dari konsolidasi besar untuk mentransformasi pertanian Lampung menjadi lebih modern, produktif, dan berkelanjutan. Dengan visi kepemimpinan yang inklusif dari Gubernur Rahmat Mirzani Djausal dan dukungan penuh dari stakeholder utama, Lampung menatap masa depan sektor pertaniannya dengan lebih percaya diri.

“Tanpa dunia usaha, Lampung tidak akan bisa maju. Tapi dunia usaha juga tidak boleh meninggalkan rakyat. Kita harus tumbuh bersama,” pungkas Gubernur.***