Inflasi Lampung April 2026 naik 0,55% (mtm). Bank Indonesia Lampung mencatat kenaikan harga pangan seperti minyak goreng, beras, dan cabai sebagai penyumbang utama inflasi.
ALTUMNEWS.Com, BANDAR LAMPUNG -— Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Provinsi Lampung mengalami inflasi sebesar 0,55 persen (mtm) pada April 2026. Angka ini naik dari bulan sebelumnya yang mencapai 0,19 persen (mtm).
Selain itu, inflasi April 2026 juga melampaui rata-rata inflasi bulan April dalam tiga tahun terakhir yang berada di level 0,44 persen (mtm). Sementara itu, secara tahunan Lampung mencatat inflasi 0,53 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan inflasi nasional sebesar 2,42 persen (yoy).
Deputi Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung, Achmad P. Subarkah, menyampaikan data tersebut dalam keterangan resmi yang diterima Altumnews.com, Selasa (5/6/2026).
Harga Pangan Dorong Inflasi Lampung
BPS mencatat kelompok makanan, minuman, dan tembakau mendorong inflasi Lampung pada April 2026. Selain itu, beberapa komoditas pangan mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan.
Minyak goreng menyumbang inflasi sebesar 0,09 persen (mtm). Kemudian, ikan nila memberikan andil 0,04 persen, sementara sigaret kretek mesin, beras, dan cabai merah masing-masing menyumbang 0,03 persen.
Achmad menjelaskan bahwa kenaikan harga minyak goreng terjadi karena biaya kemasan meningkat akibat lonjakan harga plastik yang dipicu konflik geopolitik di Timur Tengah. Selain itu, permintaan ikan nila meningkat di tengah cuaca yang tidak menentu sehingga mendorong kenaikan harga.
Sementara itu, harga beras dan cabai merah naik karena petani telah menyelesaikan panen raya dan sebagian menunda masa tanam akibat cuaca kurang stabil. Di sisi lain, produsen sigaret kretek mesin menaikkan harga seiring naiknya harga tembakau dan biaya distribusi setelah penyesuaian tarif Tol Bakauheni–Terbanggi Besar.
Sejumlah Komoditas Menahan Inflasi
Di sisi lain, beberapa komoditas menahan laju inflasi di Lampung. Cabai rawit menurunkan inflasi sebesar 0,06 persen (mtm), sedangkan daging ayam ras menurunkannya sebesar 0,02 persen (mtm).
Selain itu, petani di Kabupaten Pringsewu dan Lampung Tengah meningkatkan produksi sehingga pasokan tetap terjaga. Kondisi ini juga terjadi karena permintaan masyarakat menurun setelah periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).
Sementara itu, penurunan harga emas dunia ikut menurunkan harga emas perhiasan sebesar 0,03 persen (mtm).
Bank Indonesia Proyeksikan Inflasi Tetap Stabil
Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Lampung memproyeksikan inflasi tetap berada dalam sasaran 2,5±1 persen (yoy) pada akhir 2026.
Namun demikian, Bank Indonesia tetap mengingatkan adanya sejumlah risiko yang dapat memengaruhi inflasi. Oleh karena itu, berbagai pihak perlu memperkuat langkah pengendalian harga.
Risiko Inflasi Masih Perlu Diwaspadai
Dari sisi inflasi inti, Bank Indonesia mencatat peningkatan permintaan akibat kenaikan UMP 2025 sebesar 5,35 persen yang pemerintah terapkan secara bertahap pada 2026. Selain itu, kenaikan harga emas dunia juga berpotensi mendorong inflasi.
Dari sisi pangan, petani di Lampung menurunkan realisasi tanam pada Maret 2026 karena curah hujan tinggi. Kondisi ini berpotensi mengurangi produksi pada triwulan II.
Selain itu, BMKG memprediksi curah hujan rendah pada April–September 2026 di sebagian besar wilayah Lampung. Potensi El Nino lemah pada semester II juga dapat menekan produksi pangan dan hortikultura.
Dari sisi harga yang diatur pemerintah, pemerintah menghadapi risiko kenaikan harga BBM akibat naiknya harga minyak dunia. Selain itu, kenaikan tarif Tol Bakauheni–Terbanggi Besar juga memengaruhi biaya transportasi dan harga barang.
TPID Lampung Perkuat Pengendalian Inflasi
Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Lampung memperkuat strategi pengendalian inflasi melalui pendekatan 4K.
Pertama, TPID menjaga keterjangkauan harga dengan menggelar operasi pasar beras dan memantau harga komoditas strategis seperti cabai, bawang, daging sapi, serta ayam dan telur.
Kedua, TPID memperluas Toko Pengendalian Inflasi dan memperkuat kerja sama antar daerah untuk menjaga pasokan pangan.
Ketiga, TPID memperbaiki distribusi pangan dengan meningkatkan infrastruktur, mengoperasikan Mobil TOP, serta memberikan subsidi ongkos angkut.
Keempat, TPID meningkatkan komunikasi publik dengan rutin menyampaikan perkembangan inflasi dan memperkuat sistem informasi pangan berbasis data.
Inflasi Lampung Tetap dalam Target
Dengan berbagai langkah tersebut, Bank Indonesia dan TPID Lampung menjaga inflasi tetap stabil di tengah tekanan global. Selain itu, sinergi antarinstansi terus diperkuat agar daya beli masyarakat tetap terjaga dan pasokan pangan tetap aman.***





