Mengikuti Yesus dengan Kesadaran dan Kesetiaan
(Bacaan: Lukas 14:25–33)
(Ignasius Yudho Yuliono)
Tanda Salib dan Salam
P: Dalam Nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus.
U: Amin.
P: Semoga kasih karunia dan damai sejahtera Tuhan kita Yesus Kristus selalu beserta kita.
U: Sekarang dan selama-lamanya.
Pengantar
Gereja mengajak kita membaca Kitab Suci secara khusus pada bulan September. Karena itu, marilah kita semakin membiasakan diri membaca dan merenungkan Sabda Allah.
St. Hieronimus mengatakan, “Qui non legunt scripturas nesciunt Iesum Christum.” Artinya, orang yang tidak membaca Kitab Suci tidak akan mengenal Yesus Kristus, Tuhan kita.
Oleh karena itu, pada kesempatan ini mari kita mulai membangun kebiasaan membaca Kitab Suci. Dengan demikian, kita dapat mengenal Yesus secara lebih dekat dan menjadikan Sabda-Nya sebagai pedoman hidup.
Doa Pembuka
Marilah kita berdoa. (hening sejenak)
Allah Bapa kami, sumber segala kebijaksanaan, siapakah di antara kami yang mampu memahami seluruh rencana-Mu?
Sering kali kami mengejar waktu dan menjalani hidup tanpa berpikir dengan tenang. Karena itu, kami sulit memahami kehendak-Mu.
Maka, tenangkanlah hati kami. Utuslah Roh Kebijaksanaan-Mu untuk menerangi pikiran kami dan membimbing setiap langkah kami.
Dengan demikian, kami dapat mengenali kehendak-Mu dan menjalankannya dengan setia.
Demi Kristus, pengantara kami. Amin.
Bacaan
Lukas 14:25–33
P: Semoga Tuhan beserta kita.
U: Sekarang dan selama-lamanya.
P: Inilah Injil Suci menurut Lukas.
U: Terpujilah Kristus.
Renungan: Tiga Syarat Mengikuti Yesus
Dalam perikop ini, Yesus berbicara tentang panggilan untuk mengikuti-Nya. Karena itu, kita perlu memahami dengan sungguh-sungguh syarat yang Yesus ajukan kepada setiap orang yang ingin menjadi murid-Nya.
Yesus menyampaikan tiga hal penting. Pertama, kita harus menempatkan Dia di atas semua hubungan dan kepentingan pribadi. Kedua, kita harus memikul salib dan mengikuti-Nya. Ketiga, kita harus mengambil keputusan dengan kesadaran dan pertimbangan yang matang.
Menempatkan Yesus di Atas Segalanya
Yesus berkata bahwa orang yang mengikuti-Nya harus membenci bapa, ibu, istri, anak, saudara, bahkan nyawanya sendiri.
Namun, perkataan tersebut tidak mengajarkan kita untuk membenci keluarga. Yesus mengajak kita menempatkan kasih kepada-Nya di atas segala sesuatu.
Artinya, kita tidak boleh menggantungkan seluruh hidup kepada manusia. Sebaliknya, kita perlu mengandalkan Tuhan sebagai sumber keselamatan dan kekuatan.
Keluarga tetap memiliki tempat penting dalam kehidupan kita. Akan tetapi, kasih kepada keluarga tidak boleh membuat kita meninggalkan Tuhan.
Memikul Salib dan Mengikuti Yesus
Yesus juga mengajak setiap murid memikul salibnya sendiri. Setiap orang memiliki tanggung jawab, perjuangan, dan beban hidup masing-masing.
Karena itu, kita tidak dapat menyerahkan seluruh tanggung jawab kepada orang lain. Kita perlu menghadapi persoalan hidup dengan berani dan penuh tanggung jawab.
Ketika mengalami kegagalan, jangan terus mengeluh. Jangan pula menyalahkan orang lain atas semua persoalan yang kita hadapi.
Sebaliknya, mari kita melihat kembali diri kita. Kemudian, kita belajar memperbaiki kesalahan dan melanjutkan perjalanan bersama Kristus.
Dengan demikian, memikul salib berarti menerima tanggung jawab hidup sambil tetap percaya kepada Tuhan.
Mengambil Keputusan dengan Matang
Yesus juga mengajarkan pentingnya pertimbangan sebelum mengambil keputusan. Ia mengajak kita menghitung kemampuan sebelum membangun sebuah menara.
Demikian pula, seseorang perlu memahami konsekuensi ketika memilih mengikuti Kristus.
Dalam proses pembaptisan orang dewasa, Gereja menekankan dua hal, yaitu tahu dan mau. Karena itu, sebelum menerima pembaptisan, calon baptis menjalani masa katekumenat.
Melalui proses tersebut, calon baptis belajar mengenal iman Katolik. Selain itu, mereka mempersiapkan hati dan budi untuk mengambil keputusan secara sadar.
Dengan demikian, seseorang tidak mengambil keputusan secara tergesa-gesa. Ia memahami iman yang hendak dijalani dan menyatakan kesediaannya untuk mengikuti Kristus.
Mengikuti Kristus dengan Sungguh-Sungguh
Mengikuti Kristus berarti berjalan bersama Yesus ke mana pun Ia pergi. Karena itu, keputusan mengikuti-Nya membutuhkan keberanian, kesetiaan, dan kesadaran.
Kita tidak cukup hanya mengagumi Yesus. Kita juga perlu menjalankan ajaran-Nya dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, kita perlu menempatkan Tuhan sebagai pusat kehidupan. Kita juga perlu menerima salib dan menjalankan tanggung jawab dengan setia.
Pada akhirnya, pertanyaan Yesus juga menjadi pertanyaan bagi kita: Bersediakah kita mengikuti Kristus dengan sungguh-sungguh?
Doa Umat
Doa untuk Jemaat Setempat (PS No. 180).
Bapa Kami
Saudara-saudari terkasih, marilah kita satukan seluruh doa dan permohonan kita dalam doa yang diajarkan Yesus sendiri.
Bapa kami yang ada di surga…
Doa Penutup
Marilah kita berdoa. (hening sejenak)
Allah Bapa, sumber kebijaksanaan, kami bersyukur atas kebijaksanaan yang tampak dalam diri Yesus Kristus, Putra-Mu.
Karena itu, bantulah kami agar selalu siap menjalankan perintah-Nya. Teguhkanlah hati kami agar mampu mengikuti-Nya dengan setia.
Selain itu, berikanlah kami keberanian untuk memikul salib kehidupan. Ajarlah kami mengambil setiap keputusan dengan iman, kesadaran, dan tanggung jawab.
Dengan demikian, kami dapat menikmati kebahagiaan yang Kristus janjikan kepada setiap orang yang setia mengikuti-Nya.
Sebab Dialah Tuhan dan Penyelamat kami. Amin.
Mohon Berkat
P: Semoga Tuhan beserta kita.
U: Sekarang dan selama-lamanya.
P: Semoga kita semua senantiasa menerima dan menikmati berkat Allah Yang Mahakuasa, Dalam Nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus.
U: Amin.
P: Ibadat kita telah selesai. Marilah kita menjadi pewarta kabar gembira Allah.
U: Syukur kepada Allah.





