Alas Roban dan Ingatan tentang Adab yang Kerap Dilupakan

ALTUMNEWS.Com, BANDARLAMPUNG — Beberapa hari lalu, saya menonton film Alas Roban di Bioskop Lampung City Mall XXI. Film horor ini bukan sekadar menawarkan jumpscare atau visual menyeramkan, melainkan mengajak penonton menyelami lapisan cerita yang lebih dalam tentang manusia, alam, dan adab yang sering kita abaikan.

Film Alas Roban terinspirasi dari kisah nyata yang berkembang di kawasan tanjakan Alas Roban, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Jalur curam dan berliku ini dikenal luas sebagai daerah rawan kecelakaan yang kerap terjadi di luar nalar, hingga oleh masyarakat dijuluki sebagai “jalur tengkorak.”

Salah satu lokasi yang paling sering dikaitkan dengan kisah mistis di kawasan ini adalah pohon beringin putih, yang dipercaya menjadi tempat berkumpulnya makhluk halus. Banyak pengendara mengaku mengalami gangguan gaib, terutama saat melintas pada malam hari. Kisah-kisah lisan inilah yang kemudian diramu menjadi jalan cerita film Alas Roban.

Cerita film berfokus pada sosok Sita, seorang ibu tunggal yang hidup dalam keterbatasan ekonomi di Pekalongan. Demi masa depan putrinya, Gendis, yang memiliki keterbatasan penglihatan, Sita menerima tawaran pekerjaan sebagai tenaga medis di sebuah rumah sakit di Semarang.

Perjalanan menuju hidup baru itu justru menjadi awal petaka. Sita dan Gendis menaiki bus terakhir yang harus melewati jalur hutan Alas Roban. Sejak awal perjalanan, film berhasil membangun suasana mencekam—sunyi, gelap, dan penuh rasa diawasi, seolah ada sesuatu yang tak terlihat mengikuti setiap laju kendaraan.

Ketegangan memuncak ketika bus mendadak mogok di tengah hutan Alas Roban. Dalam kondisi malam yang dingin, minim cahaya, dan penuh ketidakpastian, rasa takut para penumpang terasa nyata dan perlahan berubah menjadi teror.

Sejak peristiwa itu, kehidupan Sita dan Gendis tak pernah kembali normal. Setiap malam, Gendis mengalami kerasukan. Tubuhnya seolah menjadi wadah bagi sosok lain yang perlahan menggerogoti jiwanya, membuat Sita berada di titik keputusasaan.

Upaya mencari jawaban membawa Sita, bersama sepupunya Tika, bertemu Anto, seorang sopir ambulans yang memahami mitos, pantangan, dan janji-janji lama yang melekat di Alas Roban. Dari Anto terungkap bahwa apa yang dialami Gendis bukan kebetulan, melainkan konsekuensi dari ritual lama manusia yang melanggar janji kepada penghuni gaib penjaga kawasan tersebut.

Satu-satunya cara untuk menyelamatkan Gendis adalah kembali ke Alas Roban dan menuntaskan ritual yang pernah ditinggalkan.

Usai menonton film ini, mata saya terasa lebih terbuka akan pentingnya menjaga adab dan etika, bukan hanya di hutan, tetapi di setiap tempat yang belum kita kenal. Film ini seolah mengingatkan bahwa ada ruang-ruang yang tidak hanya dihuni manusia, melainkan juga oleh leluhur atau penguasa tak kasat mata yang menjaga keseimbangan dan kedamaian suatu wilayah.

Manusia sering lupa bahwa kita hidup berdampingan dengan makhluk yang tidak terlihat. Ada yang bertugas menjaga, ada pula yang menuntut penghormatan atas janji yang pernah diucapkan. Intinya, adab menjadi kunci utama dalam menjaga harmoni.

Namun demikian, ada satu bagian yang meninggalkan pertanyaan bagi saya. Ketika upaya penyelamatan Gendis mengharuskan sang ibu menggantikan sukma anaknya, saya bertanya-tanya: benarkah tidak ada jalan lain? Apakah tidak mungkin menebusnya dengan persembahan atau bentuk pengganti lain, sebagaimana banyak mitos dan kepercayaan lokal yang berkembang di masyarakat?

Analogi ini terasa masuk akal jika dikaitkan dengan konteks budaya dan ritual yang selama ini dikenal, sehingga keputusan pengorbanan sukma terasa cukup berat dan mengundang perdebatan batin.

Terlepas dari itu, Alas Roban berhasil menghadirkan horor yang tidak semata menakutkan, tetapi juga reflektif. Film ini mengajak penonton merenung bahwa teror terbesar bukan selalu soal makhluk gaib, melainkan kelalaian manusia dalam menjaga adab, janji, dan rasa hormat terhadap alam serta sejarah yang menyelimutinya.***