IKDKI Dorong Desa Sidosari Lampung Selatan Ubah Potensi Lokal Jadi Kekuatan Ekonomi

ALTUMNEWS.Com, BANDAR LAMPUNG — Desa Sidosari, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan, memiliki berbagai potensi yang dapat menggerakkan ekonomi masyarakat. UMKM, pemuda, BUMDes, dan lingkungan menjadi bagian penting dari potensi tersebut.

Melihat peluang itu, Ikatan Dosen Katolik Indonesia (IKDKI) menggelar program pengabdian kepada masyarakat. Kegiatan tersebut mengajak pemerintah desa dan warga mengembangkan potensi lokal melalui inovasi, digitalisasi, dan kolaborasi.

Program pengabdian masyarakat itu berlangsung di Desa Sidosari, Jumat (14/8/2026). Ratusan peserta mengikuti kegiatan tersebut dan berdiskusi bersama para akademisi.

Pelaku UMKM kuliner dan kerajinan ikut mengambil bagian. Selain itu, Karang Taruna, BUMDes, dan Komunitas Peduli Sungai turut membahas berbagai persoalan desa.

Pendekatan tersebut membuat kegiatan tidak berhenti pada penyampaian materi. Para peserta juga menyusun gagasan dan rencana tindak lanjut berdasarkan kebutuhan masyarakat.

IKDKI Gali Potensi Desa Sidosari

Koordinator Bidang Pengabdian kepada Masyarakat IKDKI Wilayah Lampung, Dr. Ir. Lilik Ariyanto, S.T., M.T., I.P.M., ASEAN Eng., mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari program pengabdian IKDKI.

IKDKI Wilayah Lampung menjalankan program tersebut bersama IKDKI Pusat. Sidosari menjadi salah satu desa binaan yang mendapat perhatian organisasi tersebut.

“Kegiatan ini merupakan salah satu program dari Komunitas Ikatan Dosen Katolik Indonesia, khususnya wilayah Lampung, di mana salah satu bidangnya adalah bidang pengabdian kepada masyarakat,” kata Lilik saat ditemui Krakatoa.id di lokasi kegiatan, Jumat (14/8/2026).

Menurut Lilik, IKDKI terlebih dahulu melihat kebutuhan masyarakat. Setelah itu, pihaknya mengidentifikasi potensi yang dapat dikembangkan.

“Apa yang dibutuhkan oleh desa binaan, potensi-potensi yang ada di desa binaan, itu kita ambil, kita jadikan topik dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini,” ujarnya.

Cara tersebut membuat program lebih dekat dengan kondisi warga. Akademisi juga dapat menerapkan keahlian mereka untuk menjawab persoalan yang muncul di desa.

UMKM Sidosari Didorong Naik Kelas

Pelaku UMKM kuliner dan kerajinan menjadi salah satu kelompok yang mengikuti diskusi. Mereka membahas tantangan dalam menjalankan dan mengembangkan usaha.

Pengelolaan keuangan menjadi salah satu topik utama. Akses permodalan dan pemasaran produk juga mendapat perhatian.

IKDKI mendorong pelaku UMKM memperkuat manajemen usaha. Para pelaku usaha juga perlu mengembangkan strategi pemasaran yang sesuai dengan perkembangan pasar.

“Kita akan tindak lanjuti dengan mereka menyusun manajemen keuangan yang lebih baik, akses pemodalan yang lebih baik, kemudian cara-cara pemasaran produk,” kata Lilik.

Selain memperkuat kapasitas pelaku usaha, IKDKI ingin mendorong keterlibatan warga sekitar. Masyarakat dapat ikut mengembangkan kegiatan UMKM sesuai potensi yang tersedia.

Dengan pola tersebut, UMKM berpeluang menjadi penggerak ekonomi lokal. Produk masyarakat juga memiliki kesempatan menjangkau pasar yang lebih luas.

Sungai Sidosari Jadi Potensi Ekonomi

Pengelolaan sungai menjadi salah satu fokus menarik dalam program IKDKI. Komunitas Peduli Sungai diajak melihat sungai dari dua sisi, yakni persoalan lingkungan dan potensi pemanfaatan.

Tim komunitas akan memetakan kondisi sungai. Pemetaan itu mencakup potensi pemanfaatan serta berbagai persoalan yang membutuhkan perhatian.

Jika menemukan persoalan yang membutuhkan dukungan pemerintah, masyarakat dapat menyampaikan usulan kepada instansi terkait. IKDKI juga mendorong warga memahami mekanisme pengusulan dan penganggaran program.

Di sisi lain, sungai memiliki sumber daya yang dapat dimanfaatkan. Lumpur sungai, misalnya, dapat digunakan sebagai media tanam.

Sampah yang masuk ke sungai juga dapat dipilah. Warga kemudian dapat mengolahnya menjadi barang yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi.

“Untuk potensi pemanfaatan, maka kita akan mencoba menggali potensi di desa ini,” ujar Lilik.

Lilik juga mendorong masyarakat membersihkan sungai secara rutin. Langkah tersebut dapat menjaga lingkungan sekaligus membuka peluang pemanfaatan sumber daya lokal.

Dengan demikian, pengelolaan sungai tidak hanya berorientasi pada kebersihan. Masyarakat juga dapat mengembangkan kegiatan produktif dari potensi yang ada.

Karang Taruna Didorong Jadi Motor Pembangunan

Selain UMKM dan lingkungan, IKDKI memberi perhatian kepada Karang Taruna. Pemuda memiliki peran penting dalam mengembangkan masa depan Desa Sidosari.

Menurut Lilik, posisi Sidosari yang relatif dekat dengan Bandar Lampung menjadi salah satu peluang. Kondisi tersebut dapat mendukung pengembangan kegiatan ekonomi dan kreativitas pemuda.

Karena itu, IKDKI ingin memperluas wawasan anggota Karang Taruna. Para pemuda perlu melihat potensi desa dari perspektif yang lebih luas.

“Kita mencoba membangkitkan kembali semangat muda Karang Taruna,” kata Lilik.

Pemuda dapat mengambil peran sebagai penggerak kegiatan desa. Mereka juga dapat mengembangkan kegiatan ekonomi, sosial, dan promosi potensi lokal.

Pemanfaatan teknologi digital menjadi salah satu peluang. Karang Taruna dapat membantu memperkenalkan produk dan potensi Sidosari melalui platform digital.

Dengan keterlibatan generasi muda, desa memiliki lebih banyak penggerak pembangunan. Karena itu, Karang Taruna menjadi bagian penting dalam rencana pengembangan Sidosari.

IKDKI Siapkan Rencana Tindak Lanjut

Kegiatan pengabdian tersebut tidak berhenti pada diskusi. Setiap kelompok menyusun rencana sesuai kebutuhan dan potensi masing-masing.

Komunitas Peduli Sungai akan fokus pada pemetaan sungai. Sementara itu, kelompok UMKM akan memperkuat manajemen keuangan, permodalan, dan pemasaran.

Karang Taruna juga mendapat ruang untuk menyusun gagasan pengembangan pemuda. BUMDes dapat mengambil peran dalam menghubungkan potensi ekonomi desa dengan kegiatan usaha.

Lilik mengatakan pelaksanaan program akan menyesuaikan agenda pemerintah desa dan IKDKI. Kampus yang menjadi anggota IKDKI juga dapat ikut berkontribusi.

“Biasanya dalam waktu satu semester tahun akademik itu bisa dilakukan dua sampai tiga kali program yang berdampak langsung ke masyarakat seperti yang kegiatan hari ini kita laksanakan,” kata Lilik.

Pola tersebut membuka peluang pendampingan secara berkala. Dengan demikian, masyarakat dapat memperoleh dukungan sesuai kebutuhan dan perkembangan program.

Kolaborasi Akademisi dan Warga Jadi Kunci

Program IKDKI di Sidosari mempertemukan dua kekuatan. Akademisi membawa pengetahuan dan keahlian. Sementara itu, masyarakat membawa pengalaman serta pemahaman tentang kondisi desa.

Pemerintah desa kemudian dapat membantu menghubungkan kebutuhan warga dengan program pembangunan. Kolaborasi ketiga unsur tersebut menjadi modal penting untuk mengembangkan potensi lokal.

UMKM dapat memperkuat ekonomi keluarga. Pemuda dapat menggerakkan inovasi. Pengelolaan sungai juga dapat membantu menjaga lingkungan.

Pada saat yang sama, BUMDes memiliki peluang memperkuat kegiatan ekonomi desa. Digitalisasi dapat membantu masyarakat memperluas akses informasi dan pemasaran.

Karena itu, pengabdian masyarakat tidak cukup berlangsung satu kali. Pendampingan dan evaluasi perlu berjalan secara konsisten.

Sidosari Punya Peluang Jadi Desa Lebih Mandiri

Lilik berharap masyarakat dapat memanfaatkan hasil kegiatan tersebut. Menurutnya, potensi desa akan berkembang jika masyarakat ikut mengambil peran.

Sidosari memiliki UMKM yang dapat dikembangkan. Desa tersebut juga memiliki pemuda dan komunitas yang dapat menjadi penggerak.

Potensi sungai juga dapat dikelola dengan pendekatan yang lebih produktif. Namun, pengelolaan tersebut tetap perlu memperhatikan kebersihan dan keberlanjutan lingkungan.

Melalui inovasi dan digitalisasi, masyarakat dapat membuka peluang baru. Kolaborasi dengan akademisi juga dapat membantu warga mendapatkan pengetahuan dan pendampingan.

Pada akhirnya, tujuan utama program tersebut adalah mendorong kemandirian masyarakat. IKDKI ingin pengalaman di Sidosari menjadi contoh bahwa potensi desa dapat berkembang melalui kerja bersama.

Kolaborasi antara IKDKI, pemerintah, dan masyarakat menjadi langkah awal. Jika program berjalan secara berkelanjutan, Sidosari memiliki peluang membangun ekonomi lokal yang lebih kuat.

Dengan begitu, pemberdayaan masyarakat tidak berhenti pada sebuah kegiatan. Program tersebut dapat menjadi bagian dari proses panjang menuju Desa Sidosari yang lebih mandiri dan sejahtera.***