ChatGPT bilang:
Awal Mula Radio Suara Wajar
ALTUMNEWS.com, BANDAR LAMPUNG – Berdirinya Radio Suara Wajar Bandar Lampung tidak lepas dari peran Pater Boeren, SCJ. Siapa sangka, pastor asal Belanda itu ternyata memiliki keahlian di bidang teknik radio.
“Karena kita sama-sama ingin tahu radio, kita sama-sama orang teknik dan eksperimen. Waktu itu, saya ingat tahun 1971, saya bertemu beliau. Kami sama-sama memiliki hobi yang sama,” kata Yul. Haidir Nasution (70) saat mengunjungi Radio Suara Wajar, Kamis, 10 Januari 2019.
Pak Nas, begitu Yul. Haidir Nasution biasa dipanggil, merupakan saksi sejarah Radio Suara Wajar. Ia melihat langsung perjalanan radio tersebut saat mulai mengudara di Bumi Ruwa Jurai.
Selain itu, Pak Nas dikenal sebagai teknisi radio kawakan di Lampung. “Orang-orang radio di Lampung, siapa yang tidak kenal Pak Nas?” Kalimat itu menggambarkan kiprahnya di bidang teknik radio.
Radio Suara Wajar Mengudara Sejak 1971
Menurut Pak Nas, Radio Suara Wajar mulai mengudara pada 1971. Saat itu, lokasi radio berada di sebuah rumah yang kini menjadi bagian dari Sekolah Xaverius Pahoman, Bandar Lampung.
Dulu, kawasan tersebut masih berupa kebun kelapa. Stadion Pahoman juga berada di kawasan yang sama.
“Suara Wajar dulu saya ingat di tengah-tengah kebun kelapa di seberang sana. Bukan di sini,” kenang pria kelahiran 1948 itu.
Karena memiliki hobi yang sama, Pak Nas sering berdiskusi dengan Romo Boeren. Mereka membahas berbagai hal tentang teknik radio.
“Kami dulu sering berkumpul di Radio Suara Wajar untuk berdiskusi mengenai radio. Beliau itu jago teknik. Dia bisa mengutak-atik alat-alat radio dan sangat menguasainya,” kata Pak Nas.
Romo Boeren, Sosok Terbuka dan Bersahabat
Pria kelahiran Tapanuli Selatan itu memiliki kesan mendalam terhadap Romo Boeren, SCJ. Menurutnya, Romo Boeren merupakan pribadi yang terbuka dan mau menerima masukan.
“Kesan saya pribadi, orangnya sangat baik. Beliau mau berdialog dan menerima masukan dari kami,” ujarnya.
Saat itu, sekitar 30 orang memiliki hobi yang sama di bidang radio. Karena itu, mereka sering bertemu untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman.
Peralatan radio pada masa tersebut juga belum mudah ditemukan di pasaran. Akibatnya, mereka harus merakit berbagai perangkat secara mandiri.
“Kami dulu rakit sendiri. Beliau bisa rakit sendiri dibantu dengan kita-kita,” cerita Pak Nas.
Menurutnya, diskusi dengan Romo Boeren selalu menghasilkan ide baru. Mereka saling berbagi pengetahuan karena memiliki ketertarikan yang sama terhadap dunia radio.
Persahabatan Melampaui Perbedaan
Di mata Pak Nas dan rekan-rekan teknisi radio, Romo Boeren dikenal sebagai pribadi yang terbuka dan loyal.
“Loyalitasnya luar biasa. Kalau kami rapat di Suara Wajar, hidangan melimpah. Kalau sudah berteman dengan dia, kami dianggap keluarga,” kata Pak Nas sembari tertawa.
Selain itu, Romo Boeren tidak menjadikan perbedaan agama sebagai penghalang persahabatan. Ia justru mampu membangun hubungan baik dengan berbagai kalangan.
“Walau beda iman, kami bisa bekerja sama. Dia bisa menyatu. Itulah keunggulan dia,” ujar Pak Nas.
Pak Nas sendiri telah menekuni dunia teknik radio sejak 1969. Karena itu, ia mengenal cukup dekat kiprah Romo Boeren dalam pengembangan Radio Suara Wajar.
Peran Hartono dalam Pendirian Radio
Pak Nas juga mengingat sosok Hartono yang selalu mendampingi Romo Boeren. Hartono kini telah meninggal dunia.
Menurut Pak Nas, Hartono merupakan seorang kontraktor Katolik. Ia turut mendampingi Romo Boeren saat proses awal pendirian Radio Suara Wajar.
“Saya ingat, kalau sedang berkumpul untuk berdiskusi mengenai radio, Pak Hartono selalu mendampingi Romo Boeren,” kata kakek empat cucu itu.
Antena Radio Masih Memanfaatkan Pohon Kelapa
Pak Nas juga mengungkapkan kisah unik tentang pemancar Radio Suara Wajar. Sebelum radio tersebut memperoleh legalitas pada 1971, mereka menggunakan pohon kelapa sebagai penyangga antena.
“Tiang antena, antena bentang, long wire seperti benang atau kawat. Dari pohon kelapa satu ke pohon kelapa yang lain. Kemudian ditarik ke pemancar yang berada dalam gedung Suara Wajar,” jelasnya.
Cara tersebut menunjukkan keterbatasan peralatan radio pada masa awal. Namun, keterbatasan itu tidak menghalangi mereka untuk terus bereksperimen.
Radio Suara Wajar Tetap Eksis
Bagi Pak Nas, Radio Suara Wajar memiliki sejarah panjang di Lampung. Ia menyebut radio tersebut sebagai salah satu radio yang mampu mempertahankan identitasnya selama puluhan tahun.
“Seingat saya, Suara Wajar adalah radio swasta di Lampung yang tidak pernah ganti nama. Dari dulu tetap Suara Wajar. Hebatnya, masih siaran sampai sekarang,” tutup Yul. Haidir Nasution.***





