ALTUMNEWS.com, BANDARLAMPUNG – Keuskupan Tanjungkarang kehilangan imam senior, Romo Marcelinus Dwijiwandowo. Ia wafat pada Selasa siang, 31 Maret 2020.
Romo Dwijo, sapaan akrabnya, mengembuskan napas terakhir pada usia 78 tahun.
Sekretaris Keuskupan Tanjungkarang, Romo Kornelius Anjarsi, menyebut usia lanjut sebagai penyebab wafatnya Romo Dwijo.
“Karena sepuh (tua),” kata Romo Kornelius saat dikonfirmasi Altumnews.com, Selasa (31/3/2020).
Romo Dwijo Aktif Menulis
Romo Dwijo memiliki kegemaran menulis. Umat Katolik Keuskupan Tanjungkarang mengenalnya melalui rubrik “Goro-Goro” di Majalah Nuntius.
Sejumlah tokoh Gereja dan umat mengenang sosok Romo Dwijo setelah kabar duka tersebut. Mereka melihatnya sebagai imam yang tekun, cerdas, berani, dan memiliki wawasan luas.
Ketua Komisi HAK dan Kerawam Keuskupan Tanjungkarang, Romo Roy, menyampaikan penghormatan terakhir untuk Romo Dwijo.
“Selamat jalan. Selamat beristirahat dan berbahagia dalam kedamaian abadi bersama Allah Tritunggal dan para kudus di surga,” tulis Romo Roy.
Romo Roy juga mengingat keteladanan almarhum dalam menjalani panggilan imamat.
“Terima kasih atas teladan kesetiaannya hingga akhir peziarahan hidup. Doakan kami yang masih dalam peziarahan hidup,” lanjutnya.
Tekun Membaca dan Menulis
Pastor Kepala Paroki Sribawono, Romo Piet Yoenanta Soekowiloeja, turut mengenang Romo Dwijo.
“Imam yang sungguh imami. Tekun membaca dan menulis. Banyak tulisannya tapi tidak dipublikasikan,” tulis Romo Piet.
Menurut Romo Piet, almarhum memiliki wawasan luas. Namun, ia tetap memahami kebutuhan umat di tingkat lokal.
“Berpikir luas dan global tapi berpastoral sangat lokal dan kontekstual. Pasti rajin berdoa,” ungkapnya.
Berani Memegang Prinsip
Ch. Dwi Yuli Nugrahani dari Komisi Keadilan Perdamaian dan Pastoral Migran Perantau (KKPPMP) Keuskupan Tanjungkarang juga mengenang Romo Dwijo.
Yuli mengakui sebagian orang menilai Romo Dwijo kaku atau keras. Namun, ia melihat keberanian almarhum dalam mengekspresikan dirinya.
“Dia akan diam karena memang tak mau bicara. Dia akan bersuara keras karena dorongan hatinya,” kata Yuli.
Romo Dwijo tetap memegang pendiriannya meski orang lain menentangnya.
“Mungkin banyak orang menolak atau menentang pendapatnya, tapi dia akan tetap maju dengan senyum tipisnya itu,” lanjut Yuli.
Yuli juga mengenal pemikiran Romo Dwijo melalui tulisan dengan nama Semarlinu.
Lewat tulisan tersebut, Romo Dwijo mengamati orang, situasi, budaya, dan persoalan umat. Ia kemudian menuangkan pengamatannya dalam bahasa sederhana.
“Saya ikut dalam duka dan doa untuk Romo Dwijo. Salah satu romo yang memberiku semangat dan kegembiraan saat dulu mengelola majalah Nuntius,” ungkap Yuli.
Mgr Yohanes Minta Umat Berdoa dari Rumah
Pandemi COVID-19 membuat umat tidak bisa datang melayat. Karena itu, Uskup Keuskupan Tanjungkarang, Mgr Yohanes Harun Yuwono, meminta umat mendoakan Romo Dwijo dari rumah.
“Tanpa mengurangi rasa duka kita yang kehilangan sesepuh kita, setelah berkoordinasi dengan aparat setempat, Anda sekalian diminta tidak melayat ke Pringsewu,” tulis Mgr Yuwono.
Ia meminta setiap komunitas mendoakan almarhum. Kuria Keuskupan juga akan mewakili umat dalam penghormatan terakhir.
“Mohon doanya saja dari komunitas masing-masing. Kehadiran Anda akan diwakili oleh Kuria Keuskupan,” lanjutnya.
Misa Requiem Digelar Secara Daring
Keuskupan Tanjungkarang menjadwalkan Misa Requiem pada Rabu, 1 April 2020, pukul 10.00 WIB.
Komsos Keuskupan Tanjungkarang akan menyiarkan Misa melalui live streaming. Dengan demikian, umat tetap dapat mengikuti Misa dari rumah.
“Mohon pengertiannya dan mohon maklum. Berkah Dalem,” ujar Mgr Yohanes Harun Yuwono.***





