Pesan Natal PGI dan KWI di Tengah Pandemi Covid-19

Saudara-saudari terkasih,

Kami, Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia dan Konferensi Waligereja Indonesia, menyampaikan salam sejahtera.

Salam kami sampaikan kepada Ibu dan Bapak, Saudari dan Saudara, serta seluruh keluarga.

Tahun ini kita merayakan Natal dalam suasana prihatin. Wabah Covid-19 masih melanda dunia, termasuk Indonesia.

Virus tersebut telah mengganggu berbagai sendi kehidupan manusia. Banyak keluarga berduka karena kehilangan sanak saudara.

Banyak pula orang kehilangan pekerjaan. Anak-anak harus belajar dari rumah. Mereka pun kehilangan kesempatan bergaul dengan teman sebaya.

Umat juga merasa gelisah karena tidak dapat beribadah seperti biasanya. Selain itu, kekerasan dalam keluarga dan perceraian dilaporkan meningkat.

Situasi semakin sulit dengan maraknya politik identitas. Kondisi tersebut memicu ujaran kebencian dan intoleransi.

Kita juga menghadapi intoleransi agama dan etnis. Selain itu, radikalisme agama dan perpecahan terus mengancam masyarakat.

Pandemi Mengingatkan Kita tentang Kerapuhan Manusia

Seluruh situasi krisis ini mengingatkan kita pada kerapuhan manusia. Kita dapat rapuh secara fisik maupun psikis.

Kita juga mudah terjebak dalam keputusasaan. Beratnya beban kehidupan dapat melemahkan keteguhan kita.

Selain itu, kita rentan terhadap keserakahan. Keserakahan sering mendorong orang melakukan korupsi.

Kita juga dapat berlaku tidak adil terhadap sesama dan lingkungan. Tubuh kita pun mudah sakit ketika terinfeksi virus.

Bahkan, sebuah kelalaian kecil dapat menyebabkan kematian. Keganasan virus ini juga menegaskan kesamaan kita sebagai manusia.

Profesi kita mungkin berbeda. Suku dan agama kita juga berbeda.

Pendidikan dan jabatan kita pun tidak sama. Namun, Covid-19 mengingatkan bahwa semua orang dapat terinfeksi.

Karena itu, kita saling membutuhkan satu sama lain.

Allah Menjadi Sumber Pertolongan

Satu hal membuat kita tetap berdiri teguh di tengah badai. Kita yakin bahwa Allah menjadi sumber pertolongan kita.

Sebagai orang Kristen, kita juga dapat mengalami penderitaan. Namun, kita menjalaninya dengan damai dalam keyakinan kepada Allah.

Kita percaya Allah berjalan bersama kita. Dia mendampingi kita menghadapi berbagai kesulitan.

Allah tidak membiarkan kita dikuasai roh ketakutan. Sebaliknya, Dia memberi kekuatan cinta kepada kita.

Kekuatan itu membantu kita mengendalikan hidup. Selain itu, kekuatan tersebut menolong kita menghadapi situasi sulit.

Kita pun dapat menjalaninya dengan keyakinan dan kedamaian.

Saudara-saudari yang terkasih,

Yesus Hadir sebagai Terang dalam Kegelapan

Perayaan Natal dalam situasi seperti ini mengajak kita merasakan kehadiran Yesus. Dia hadir sebagai Sang Terang di tengah kegelapan.

Dalam diri Yesus, Sang Imanuel, Allah nyata hadir di antara kita. Kehadiran-Nya menegaskan bahwa kita yang rapuh tetap bernilai bagi-Nya.

Nama Imanuel berarti “Allah beserta kita”. Nama tersebut menandakan kehadiran Allah di tengah kehidupan manusia.

Allah hadir dan bekerja untuk memulihkan diri kita. Penyertaan-Nya memampukan kita menghadapi kecemasan dan kekhawatiran.

Selain itu, penyertaan Allah membantu kita menghadapi konflik dan kekacauan. Kita percaya transformasi akan terjadi dalam masa sulit ini.

Kita juga yakin bahwa Allah menyertai proses perubahan tersebut.

Penyertaan Allah dalam Perjalanan Manusia

Salah satu pesan penting Natal berkaitan dengan penyertaan Allah. Kisah Perjanjian Lama menunjukkan hal tersebut.

Musa mengalami penyertaan Allah ketika menjalankan tugasnya. Tuhan mengutus Musa memimpin umat Israel keluar dari tanah perbudakan.

Musa takut menghadapi Firaun. Dia sadar akan kelemahannya dalam menjalankan tugas tersebut.

Namun, Tuhan menguatkan hatinya dengan berkata, “Bukankah Aku akan menyertai engkau?” (Kel 3:10-14).

Hal serupa dialami Nabi Yeremia. Dia enggan menerima perutusan Tuhan karena masih muda.

Yeremia juga merasa tidak pandai berbicara. Namun, Tuhan meneguhkan hatinya.

Tuhan berkata, “… kepada siapa pun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi.” Tuhan juga berpesan, “Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau….” (Yer 1:7-8).

Penyertaan Allah juga menguatkan Yusuf. Penyertaan itu membantunya menghadapi kecemasan dan kekhawatiran.

Yusuf akhirnya menerima kelahiran Sang Imanuel dari rahim Maria. Saat itu, Maria merupakan tunangannya yang belum ia nikahi (Mat 1:18-25).

Saudara-saudari yang terkasih,

Natal Membawa Sukacita dan Cinta

Natal merupakan berita sukacita dan pewartaan cinta. Juruselamat, Sang Raja Damai, lahir di dunia.

Allah hadir bersama kita melalui kelahiran Yesus. Kekuatan cinta dan penyertaan Allah mendorong kita membangun solidaritas.

Kita juga perlu melayani mereka yang terpinggirkan dan menderita. Kehadiran Allah mengingatkan bahwa semua manusia diciptakan menurut gambaran-Nya.

Inilah dasar martabat kita sebagai manusia. Karena itu, kita harus melindungi dan merawat kehidupan setiap orang.

Kehidupan memiliki nilai yang tidak terhingga. Oleh sebab itu, kita harus berjuang untuk merawat dan mempertahankannya.

Gereja Dipanggil untuk Berbuat Baik

Kita perlu merenungkan satu pertanyaan penting pada Natal kali ini. Bagaimana Gereja menjalankan perutusannya di tengah berbagai tantangan?

Kita dapat menjawabnya dengan mengikuti Yesus Kristus, Sang Imanuel. Dia “berjalan berkeliling sambil berbuat baik ….” (Kis. 10:38).

Yesus juga “telah menyerahkan diri-Nya bagi kita untuk membebaskan kita dari segala kejahatan”. Dia juga menguduskan umat-Nya agar rajin berbuat baik (Tit. 2:14).

Karena itu, kita perlu melakukan berbagai perbuatan baik. Kita dapat menyesuaikannya dengan perutusan, pelayanan, serta kondisi masing-masing.

Dengan berbuat baik, kita mengalami kehadiran Sang Imanuel. Pada saat yang sama, kita menghadirkan pengalaman akan Allah bersama kita.

Menghadirkan Kasih di Tengah Pandemi

Pengalaman akan kehadiran Allah menggerakkan kita untuk mengikis ujaran kebencian. Kita juga harus melawan berita bohong, intoleransi, dan kekerasan.

Caranya ialah dengan terus berbuat baik. Selain itu, kita perlu bersaksi tentang belas kasih dan kemurahan Allah.

Kita dapat melakukannya dengan bermurah hati. Kita juga perlu saling membantu dan menanggung beban sesama.

Selanjutnya, kita perlu membangun kerja sama dengan pemerintah. Kita juga perlu bekerja bersama semua pihak yang menangani dampak pandemi.

Dengan kerja sama tersebut, kita dapat menghadirkan kebaikan bagi negeri ini.

Kita yakin Allah tetap menyertai kita dalam setiap tantangan. Dia membawa terang di tengah kegelapan.

Dia juga memberi harapan di tengah keputusasaan.

Tuhan memberkati.

Jakarta, 1 November 2020

Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI)
Pdt. Gomar Gultom — Ketua Umum
Pdt. Jacklevyn Frits Manuputty — Sekretaris Umum

Konferensi Waligereja Indonesia (KWI)
Ignatius Kardinal Suharyo — Ketua
Mgr. Antonius Subianto Bunjamin — Sekretaris Jenderal