oleh

Alasan Mengapa Umat Katolik Menyalakan Lilin Saat Berdoa, Ini Penjelasan Romo F. Fritz Dwi Saptoadi

ALTUMNEWS.Com, BANDARLAMPUNG – Bagi umat Katolik, praktek penggunaan lilin yang menyala senantiasa dilakukan baik saat misa atau periibadatan di gereja maupun saat berdoa di rumah atau prosesi liturgi lainnya.

Mengapa umat Katolik harus menggunakan lilin, bukan benda lain seperti obor, senter atau lampu?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Altumnews.com berkesempatan berbincang dengan Romo F. Fritz Dwi Saptoadi, Pator Diosesan dari Keuskupan Tanjungkarang.

“Untuk menjawab pertanyaan di atas, kita harus mengetahui dasar biblisnya terlebih dahulu yang dijadikan dasar untuk memahami makna simbolisasi lilin, lampu, lentera, atau sejenisnya,” kata Romo Fritz saat ditemui Altumnews.com, Sabtu (06/03/2021).

Pastor yang saat ini bertugas sebagai Romo Kepala di Paroki Paroki Santo Paulus Kota Gajah Lampung Tengah ini, mengajak untuk melihat dasar biblis-nya dalam Kitab Suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

Berikut penjelasan Romo Frits

Dalam Perjanjian Lama: Kitab Keluaran 27:20-21; Imamat 24:2-3, mencatat uraian mengenai minyak untuk lampu. Di pelataran suci orang Israel diperintahkan supaya mereka memasang lampu dengan minyak zaitun tumbuk yang murni agar tetap menyala.

Harun dan anak-anaknya harus tetap mengaturnya dari petang sampai pagi di hadapan Tuhan, sebagai ketetapan bagi kaum Harun turun-temurun. Oleh karena itu dalam bait suci dan rumah-rumah ibadat Yahudi (Sinagoga) terdapat penempatan lampu yang senantiasa menyala. Lampu yang senantiasa bernyala di bait suci dan sinagoga itu menggambarkan kehadiran Yahweh (YHWH) atau Allah.

Simbol Allah juga kita kenal dalam kitab Keluaran 3:2, Allah menampakkan diri kepada Musa di atas gunung Horeb melalui nyala api yang terbakar di atas semak berduri.

Gereja Katolik mengambil praktek itu dengan menempatkan lilin atau lampu di dekat Tabernakel, tempat menyimpan Sakramen Mahakudus yang senantiasa menyala.

Jadi lilin yang dinyalakan dalam gereja saat berlangsungnya peribadatan maupun lampu yang bernyala di dekat Tabernakel menunjukkan kehadiran Tuhan dan penghormatan kepada Sakramen Mahakudus.

Selain simbol kehadiran Tuhan, menyalakan lilin dalam sebuah peribadatan juga melambangkan kekuatan Allah. Hal itu bisa kita ketahui saat kisah Allah menuntun umat Israel keluar dari mesir, saat itu Allah hadir dalam rupa pilar api (Keluaran 13:21–22). Jadi, dengan membakar lilin saat berdoa, kita diingatkan bahwa Allah beserta kita dan menuntun perjalanan hidup kita.

Dalam Perjanjian Baru: “Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan” (Yohanes 12:46); “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikuti Aku, Ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup,” (Yohanes 8: 12).

Dalam Tradisi Katolik, lilin yang menyala menggambarkan Kristus sebagai Terang Dunia di tengah kegelapan. Lilin yang menyala juga melukiskan kehidupan sejati di dalam Tuhan Yesus, Sang Terang. Dalam liturgi pembaptisan, makna Kristus Sang Terang itu menjadi sebuah anugerah kehidupan sejati yang terungkap secara jelas.

Dalam perayaan Malam Paskah sangat jelas pada upacara cahaya. Saat Diakon atau Imam yang membawa lilin paskah berseru tiga kali: “Kristus Cahaya Dunia.” Semakin jelas lagi saat Pujian Paskah dilantunkan, di situ makna lilin paskah itu dinyatakan.

Dalam upacara pembaptisan, lilin yang menyala yang diserahkan kepada baptisan baru itu melambangkan hidup baru dalam kebersatuannya dengan Kristus, Cahaya Dunia. Dalam upacara baptisan, saat menyerahkan lilin bernyala (yang bersumber dari nyala Lilin Paskah), seorang imam berkata: “Saudara telah bersatu dengan Kristus, cahaya dunia. Maka hendaknya hidup sebagai putera cahaya dan menghayati iman dengan setia, sehingga pada saat Tuhan datang, saudara dapat menyongsong Dia bersama semua orang Kudus dalam istana Bapa di surga.

”Jadi lilin itu melambangkan Kristus yang datang ke dunia untuk mengusir kegelapan. Rasul Yohanes mengatakan: “Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya. Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia” (Yohanes 1:4-5,9).***

Editor : Robertus Bejo

Komentar

News Feed