ALTUMNEWS.COM, PRINGSEWU — Ruwa Jurai Laudato Si menggelar aksi tanam pohon di dua desa. Kegiatan tersebut berlangsung di Desa Purwodadi dan Waringinsari Timur, Kecamatan Adiluwih, Pringsewu, Sabtu (11/12/2021).
Ruwa Jurai Laudato Si merupakan komunitas yang peduli terhadap lingkungan. Karena itu, komunitas tersebut terus mendorong berbagai kegiatan untuk menjaga alam.
Komunitas ini juga ingin mewujudkan semangat ensiklik kedua Paus Fransiskus. Sebagai bagian dari komitmen tersebut, mereka menjalankan sejumlah program sosial.
Salah satu programnya berupa aksi tanam pohon. Selain itu, komunitas juga membagikan bibit kepada masyarakat.
Dalam aksi tersebut, Ruwa Jurai Laudato Si menanam 900 bibit pohon. Adapun tiga jenis pohon yang dipilih yakni kayu manis, bayur, dan sengon.
Masing-masing jenis berjumlah 300 bibit. Selanjutnya, komunitas mengambil seluruh bibit dari Persemaian Permanen BPDAS WSS-KLHK.
Persemaian tersebut berada di Desa Karangsari, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan. Dengan demikian, bibit yang ditanam memiliki sumber pembibitan yang jelas.
“Masing-masing jenis pohon berjumlah 300. Semuanya kami ambil dari Persemaian Permanen BPDAS WSS-KLHK, Desa Karangsari, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan,” jelas anggota Ruwa Jurai Laudato Si, Yohanes Titis Trinoto, Sabtu (11/12/2021).
Sementara itu, Titis berharap seluruh bibit dapat tumbuh dengan baik. Ia juga ingin pohon-pohon tersebut menciptakan lingkungan yang lebih asri.
Warga Apresiasi Aksi Tanam Pohon
Ketua Stasi Santo Stefanus Purwodadi, Cosmas Sukisto, mengapresiasi aksi tersebut. Menurutnya, kegiatan itu membantu warga menghijaukan lingkungan.
“Karena ini sangat membantu bagi kami umat Katolik dan warga desa di sini. Kami bisa menghijaukan dan menyegarkan lingkungan,” ujar Cosmas.
Selain membantu penghijauan, kegiatan tersebut juga memperkuat semangat menjaga lingkungan. Karena itu, warga menyambut baik program yang dijalankan komunitas.
Ruwa Jurai Laudato Si kemudian menyerahkan bibit kepada perwakilan warga Desa Purwodadi. Setelah itu, warga akan menanam bibit tersebut di lingkungan desa.
Sementara itu, Suster Miriam, HK., anggota Ruwa Jurai Laudato Si, menjelaskan makna ensiklik Laudato Si. Menurutnya, Paus Fransiskus mengajak masyarakat merawat bumi sebagai rumah bersama.
“Laudato Si mengajak supaya kita bergerak bersama untuk merawat bumi kita ini,” jelas Sr. Miriam.
Menurutnya, masyarakat dapat merawat lingkungan dengan berbagai cara. Salah satunya, masyarakat dapat menanam pohon.
Ia juga menyoroti dampak kerusakan lingkungan. Misalnya, penebangan pohon dan lahan gundul dapat meningkatkan risiko bencana banjir.
“Kita lihat bersama bencana banjir diakibatkan banyaknya pohon ditebang dan banyak lahan gundul,” katanya.
Tanam Pohon untuk Tekan Kerusakan Lingkungan
Selain banjir, Sr. Miriam juga menyoroti pemanasan global. Ia mengaitkannya dengan keberadaan rumah kaca dan berbagai bentuk kerusakan alam.
Di sisi lain, polusi udara juga menjadi perhatian. Karena itu, Sr. Miriam mendorong masyarakat memperbanyak penanaman pohon.
“Pentingnya menanam pohon agar O2 cukup untuk pernapasan manusia. Dengan begitu, orang-orang bisa hidup segar dan sehat,” tandas Sr. Miriam.
Selain menjaga lingkungan, menurut Sr. Miriam, menanam pohon juga dapat memperkuat keimanan. Masyarakat dapat belajar bersyukur sekaligus merawat ciptaan Tuhan.
“Dengan menanam pohon kita bisa beriman dan bersyukur kepada Tuhan. Semua kehidupan itu berasal dari Tuhan. Maka, ciptaan Tuhan wajib kita rawat bersama,” ujarnya.
Dorong Gerakan Menanam Pohon
Lebih lanjut, Sr. Miriam berharap kegiatan tersebut berkembang menjadi gerakan bersama. Ia ingin masyarakat ikut terlibat secara berkelanjutan.
“Semoga bisa kontinu. Gerakan ini harus menjadi gerakan akar rumput, tidak hanya spontan saja,” katanya.
Selain itu, ia berharap gereja-gereja Katolik ikut menjalankan semangat Laudato Si. Dengan begitu, masyarakat dapat bersama-sama menjaga lingkungan.
Anggota Ruwa Jurai Laudato Si lainnya, Cynthia Dewi, juga berharap aksi tersebut menginspirasi masyarakat. Menurutnya, gerakan sederhana dapat memberikan manfaat besar bagi lingkungan.
“Harapannya semakin banyak yang mengerti. Menanam satu pohon sangat berarti bagi bumi dan kelangsungan hidup anak cucu,” ungkap Cynthia.
Di samping menjaga lingkungan, kegiatan tersebut juga menjadi kesempatan untuk bersilaturahmi. Warga dapat berbagi kasih sekaligus menjalankan aksi nyata untuk bumi.
Aksi Dimulai dari Gereja St. Stefanus
Kegiatan tanam pohon diawali dari halaman Gereja St. Stefanus Purwodadi. Pada kesempatan itu, anggota Ruwa Jurai Laudato Si menanam pohon bersama puluhan umat setempat.
Kemudian, sejumlah anggota komunitas turut aktif dalam kegiatan tersebut. Mereka antara lain Suster Jovita, HK., Aloysius Sulistiono, dan Frederikus Yuwanto.
Dengan adanya aksi tersebut, Ruwa Jurai Laudato Si berharap gerakan penghijauan terus berkembang. Komunitas juga ingin semakin banyak masyarakat ikut menanam pohon.
Pada akhirnya, gerakan menjaga lingkungan membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Karena itu, Ruwa Jurai Laudato Si mengajak masyarakat menjadikan penanaman pohon sebagai kebiasaan bersama.***





