Renungan Katolik: Menjalani Proses Pembentukan Bersama Yesus

Menjalani Proses Pembentukan

(Sr. M. Isabela, FSGM)

Tanda Salib dan Salam

P: Dalam Nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus.
U: Amin.

P: Semoga kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan dari Tuhan kita Yesus Kristus selalu beserta kita.
U: Sekarang dan selama-lamanya.

Pengantar

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, hari ini kita berkumpul dalam pertemuan doa keluarga. Pada kesempatan ini, kita mendengarkan kisah Yesus yang berdoa semalam-malaman sebelum memilih kedua belas murid.

Pertama-tama, kita perlu memahami bahwa kedua belas murid memiliki peran penting dalam karya Yesus. Selanjutnya, mereka juga berperan dalam pembentukan Gereja.

Karena itu, kita mungkin berpikir bahwa Yesus akan memilih orang-orang yang sudah sempurna. Namun, ternyata Yesus memilih manusia biasa. Mereka memiliki kelemahan dan kekurangan seperti kita.

Meskipun demikian, para murid tetap mengikuti Yesus. Mereka juga bersedia menjalani proses pembentukan dari hari ke hari.

Demikian pula, kita mendapat undangan yang sama. Allah mengajak kita menjalani proses pembentukan dalam kehidupan sehari-hari.

Oleh sebab itu, kita perlu menyadari bahwa Allah terus membentuk hidup kita. Melalui berbagai pengalaman, kita belajar bertumbuh dalam iman. Dengan demikian, kita dapat menjadi murid Kristus yang semakin dewasa.

Doa Pembuka

Marilah kita berdoa. (hening sejenak)

Allah Bapa yang Mahabaik, sebelum memilih kedua belas murid, Yesus terlebih dahulu berdoa kepada-Mu.

Yesus tidak mencari orang yang sudah sempurna. Sebaliknya, Ia memilih orang-orang yang mau bertumbuh. Ia juga mengajak mereka menjalani proses pembentukan seumur hidup.

Karena itu, kami mohon, karuniakanlah kepada kami ketekunan dan kesabaran. Bantulah kami menjalani setiap proses pembentukan dalam hidup kami.

Selain itu, ajarlah kami menerima kelemahan dengan rendah hati. Kemudian, tuntunlah kami agar terus memperbaiki diri dan bertumbuh dalam iman.

Dengan demikian, kami dapat menjadi murid dan saksi Kristus yang setia.

Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, kini dan selama-lamanya. Amin.

Bacaan

Lukas 6:12–19

P: Semoga Tuhan beserta kita.
U: Sekarang dan selama-lamanya.

P: Inilah Injil Suci menurut Lukas.
U: Terpujilah Kristus.

Renungan: Yesus Memilih Manusia Biasa

Gereja yang kita imani berdiri di atas iman para rasul. Yesus sendiri memilih dan mempersiapkan mereka untuk menjalankan tugas perutusan.

Sebelum memilih kedua belas rasul, Yesus naik ke gunung. Di sana, Ia berdoa semalaman kepada Allah Bapa.

Dengan demikian, Yesus menunjukkan keseriusan-Nya dalam mengambil keputusan. Karena itu, kita pun perlu membawa keputusan penting dalam hidup kepada Tuhan.

Melalui doa, kita belajar mencari kehendak Allah. Selain itu, kita belajar menyerahkan rencana hidup kepada-Nya.

Namun, ada hal lain yang menarik. Yesus tidak memilih orang-orang yang sempurna. Sebaliknya, Ia memilih manusia biasa dengan berbagai kelemahan dan pergumulan.

Sebagai contoh, Petrus pernah menyangkal Yesus. Sementara itu, Yakobus dan Yohanes pernah meminta kedudukan terhormat.

Selain itu, Tomas sempat meragukan kebangkitan Yesus. Bahkan, Yudas Iskariot mengkhianati dan menjual Yesus.

Meskipun demikian, Yesus tetap memanggil manusia biasa untuk mengikuti-Nya. Dengan kata lain, kelemahan seseorang tidak otomatis menghapus panggilan Tuhan.

Murid Kristus Menjalani Proses

Yesus memilih orang-orang yang mau menjalani proses penyempurnaan. Karena itu, Ia mengajak para murid berubah dan bertumbuh setiap hari.

Para murid pun menjalani proses tersebut. Ketika mereka jatuh dalam dosa dan kesalahan, mereka belajar untuk bertobat. Setelah itu, mereka bangkit dan kembali menjalankan tugas perutusan.

Selanjutnya, para murid tumbuh menjadi pewarta yang berani. Mereka mewartakan kebangkitan Tuhan dengan penuh keyakinan.

Bahkan, mereka rela menyerahkan hidup demi kesaksian iman. Dengan demikian, perjalanan para rasul menunjukkan pentingnya ketekunan dalam mengikuti Kristus.

Pada akhirnya, para murid mampu menjalankan tugas perutusan dengan penuh keberanian. Mereka tidak lagi menjadi pribadi yang sama seperti ketika Yesus pertama kali memanggil mereka.

Oleh karena itu, kita juga perlu memberi kesempatan kepada Tuhan untuk membentuk hidup kita. Proses tersebut membutuhkan waktu, kesabaran, dan kesetiaan.

Menjalani Proses Pembentukan Setiap Hari

Panggilan Allah tidak otomatis menjadikan kita manusia sempurna. Sebaliknya, Allah mengajak kita menjalani proses pembentukan secara bertahap.

Pertama, kita perlu belajar menerima diri dengan segala kelebihan dan kekurangan. Kemudian, kita belajar memperbaiki kesalahan dan bertumbuh dalam iman.

Kita melangkah sedikit demi sedikit. Selain itu, kita belajar dari setiap pengalaman yang Tuhan izinkan terjadi.

Hari demi hari, kita berusaha menjadi pribadi yang lebih baik. Dengan demikian, setiap pengalaman dapat menjadi kesempatan untuk mendekat kepada Tuhan.

Karena itu, janganlah kita takut terhadap proses. Meskipun perjalanan terasa sulit, Tuhan tetap menyertai kita.

Bahkan, melalui kesulitan, kita dapat belajar menjadi lebih kuat. Kita juga dapat belajar menjadi pribadi yang lebih sabar dan rendah hati.

Ketika kita jatuh, segeralah bertobat. Setelah itu, bangkitlah dan lanjutkan perjalanan bersama Tuhan.

Jangan sampai kelemahan membuat kita berhenti mengikuti Kristus. Sebaliknya, jadikan kelemahan sebagai kesempatan untuk semakin mengandalkan Tuhan.

Selain itu, jangan membandingkan proses hidup kita dengan orang lain. Setiap orang memiliki perjalanan dan pergumulan masing-masing.

Sebab itu, kita perlu menghargai proses yang Tuhan berikan kepada setiap pribadi. Tuhan mengenal kebutuhan kita dan terus membimbing kita.

Oleh karena itu, marilah kita menjadi murid yang mau dibentuk. Jangan menolak proses yang Tuhan izinkan dalam kehidupan kita.

Sebaliknya, terimalah setiap pengalaman sebagai kesempatan untuk bertumbuh. Dengan cara tersebut, kita dapat semakin mengenal kasih dan kehendak Tuhan.

Jika kita tekun menjalani proses tersebut, iman kita akan semakin matang. Pada akhirnya, kita pun dapat menjadi saksi Kristus yang baik dan setia.

Doa Umat

Doa untuk Orang yang Tidak Setia pada Iman (PS No. 191).

Bapa Kami

Marilah kita satukan doa dan harapan kita dengan doa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus sendiri.

Bapa kami yang ada di surga…

Doa Penutup

Marilah kita berdoa. (hening sejenak)

Ya Bapa yang penuh kasih, kami bersukacita dan bersyukur karena Engkau selalu memberi kami kesempatan untuk menjadi lebih baik.

Setiap kali kami jatuh dalam dosa dan kesalahan, Engkau menerima kami kembali. Selain itu, Engkau memberikan kekuatan baru agar kami dapat bangkit dan berjalan bersama-Mu.

Karena itu, bantulah kami menjalani proses pembentukan dalam hidup kami. Berikanlah kami ketekunan, kesabaran, dan keberanian untuk terus bertumbuh dalam iman.

Selain itu, ajarlah kami menerima setiap pengalaman dengan hati terbuka. Melalui pengalaman tersebut, kami ingin semakin mengenal kehendak-Mu.

Dengan demikian, hidup kami dapat semakin mencerminkan kasih Kristus. Kami juga dapat membawa berkat bagi sesama.

Akhirnya, tuntunlah kami agar tetap setia sampai akhir perjalanan. Semoga kami mampu menjadi murid Kristus yang rendah hati, tekun, dan penuh kasih.

Demi Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, kini dan selama-lamanya. Amin.

Mohon Berkat

P: Marilah kita mohon berkat dari Tuhan.

P: Semoga Tuhan beserta kita.
U: Sekarang dan selama-lamanya.

P: Semoga kita sekalian dilindungi, dibimbing, dan diberkati oleh Allah Yang Mahakuasa. Dalam Nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus.
U: Amin.