Panggilan Tuhan untuk Hidup Bahagia
RP. Ignasius Supriyatno, MSF
Tanda Salib dan Salam
P: Dalam Nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus.
U: Amin.
P: Semoga kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan dari Tuhan kita Yesus Kristus selalu beserta kita.
U: Sekarang dan selama-lamanya.
Pengantar
Kita memasuki hari ke-7 Bulan Kitab Suci Nasional Tahun 2022. Tema besarnya ialah “Allah Sumber Harapan Baru”. Sementara itu, tema hari ini ialah “Panggilan Tuhan untuk Hidup Bahagia”.
Dalam kehidupan bersama, kita selalu menghadapi berbagai pilihan. Karena itu, setiap saat kita perlu menentukan jawaban atas panggilan Tuhan: memilih bahagia atau celaka.
Tentu saja, tidak seorang pun ingin memilih celaka. Namun, mengapa kehidupan bersama masih memperlihatkan tindakan yang melukai, merusak, menghancurkan, bahkan mematikan?
Oleh sebab itu, kita perlu melihat kembali pilihan hidup kita. Sebelum mengambil keputusan, marilah kita bertanya apakah pilihan tersebut sesuai dengan kehendak Tuhan.
Doa Pembuka
Marilah kita berdoa.
(Hening sejenak)
Allah Bapa Sang Sumber Kehidupan, Engkaulah sumber hidup dan pengharapan bagi kami. Oleh karena itu, kami kembali bersyukur karena Engkau memberi kami kesempatan untuk menerima panggilan menuju kebahagiaan.
Melalui Sabda-Mu, kami memahami bahwa hidup kami merupakan sebuah panggilan. Untuk itu, Engkau mengajak kami memilih bahagia daripada celaka.
Kami juga membutuhkan kekuatan untuk menjalani panggilan tersebut. Semoga kami, umat-Mu, khususnya keluarga kami, semakin kuat melalui santapan Sabda-Mu.
Dengan demikian, kami dapat menemukan sumber kehidupan dalam Sabda-Mu. Selanjutnya, teguhkan hati kami agar tetap memilih bahagia karena Engkau.
Meskipun berbagai penderitaan dan kesusahan hadir dalam kehidupan kami, semoga kami tetap percaya kepada-Mu.
Demi Yesus Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. Amin.
Bacaan Injil
Lukas 6:20–26
P: Semoga Tuhan beserta kita.
U: Sekarang dan selama-lamanya.
P: Inilah Injil Suci menurut Lukas.
U: Terpujilah Kristus.
Renungan
Makna Kebahagiaan
Jika seseorang bertanya tentang tujuan hidup, kebanyakan orang tentu menjawab, “Saya ingin bahagia.” Namun, setiap orang memiliki pemahaman berbeda tentang kebahagiaan.
Sebagian orang merasa bahagia karena memiliki kekayaan. Sementara itu, orang lain merasa bahagia karena berhasil dalam pekerjaan.
Ada pula yang menemukan kebahagiaan melalui anak-anak, jabatan, atau status sosial. Dengan kata lain, setiap orang dapat memiliki ukuran kebahagiaan yang berbeda.
Sebaliknya, perubahan keadaan sering memengaruhi kebahagiaan seseorang. Ketika seseorang kehilangan kekayaan atau gagal dalam pekerjaan, ia dapat merasa kecewa.
Begitu pula ketika anak-anak menghadapi masalah atau seseorang kehilangan jabatan. Keadaan tersebut dapat membuat seseorang merasa hidupnya penuh kesusahan.
Panggilan Yesus untuk Bahagia
Namun, melalui Injil Lukas 6:20–26, Yesus mengajak kita melihat kebahagiaan dari sudut pandang berbeda. Tuhan memanggil kita untuk tetap bahagia meskipun kita menghadapi berbagai kesusahan.
Sebab itu, kita perlu memahami bahwa Allah merupakan sumber kebahagiaan sejati. Jangan sampai kita menggantungkan kebahagiaan hanya pada keadaan duniawi.
Sebagai murid Tuhan, kita belajar untuk beriman. Melalui iman tersebut, kita menemukan harapan dalam setiap langkah kehidupan.
Oleh sebab itu, kita perlu mengubah cara pandang tentang kebahagiaan. Jangan hanya berkata bahagia “karena”, tetapi belajarlah berkata bahagia “walaupun”.
Bahagia dalam Berbagai Keadaan
Ketiadaan kekayaan tidak harus menghilangkan kebahagiaan kita. Kegagalan dalam pekerjaan pun tidak harus mematikan harapan.
Masalah yang anak-anak hadapi juga tidak harus membuat kita kehilangan rasa syukur. Demikian pula, kehilangan jabatan atau status tidak harus menjauhkan kita dari kebahagiaan bersama Tuhan.
Dengan demikian, iman membantu kita menemukan kebahagiaan yang tidak bergantung pada keadaan. Bahkan, iman memberi kita kekuatan untuk tetap berharap ketika hidup terasa berat.
Pada saat yang sama, kita perlu belajar mempercayakan kehidupan kepada Tuhan. Kita juga perlu menjaga harapan ketika menghadapi berbagai kesulitan.
Teladan Yesus
Tuhan Yesus sendiri memberikan teladan bagi kita. Ia mencapai kemuliaan Paskah setelah melewati penderitaan dan kesengsaraan Jumat Agung.
Karena itu, mari kita belajar dari Yesus. Kehidupan boleh menghadirkan berbagai penderitaan, tetapi kita tetap dapat berharap dan menemukan kebahagiaan dalam Tuhan.
Pada akhirnya, kebahagiaan sejati tidak hanya bergantung pada keadaan. Sebaliknya, kebahagiaan tumbuh dari iman, harapan, dan kedekatan kita dengan Allah.
Doa Umat
Doa untuk Jemaat
Selanjutnya, marilah kita menyampaikan doa umat secara spontan sejauh diperlukan.
Sebagai tambahan, kita dapat menggunakan Doa untuk Jemaat Setempat (Puji Syukur No. 180).
Bapa Kami
Doa yang Diajarkan Yesus
Marilah kita satukan doa dan harapan kita. Setelah itu, bersama-sama kita panjatkan doa yang Tuhan Yesus sendiri ajarkan:
Bapa kami yang ada di surga…
Doa Penutup
Bersyukur atas Sabda Tuhan
Marilah kita berdoa.
(Hening sejenak)
Allah Sang Sumber Harapan, kami bersyukur atas firman-Mu hari ini. Melalui Sabda-Mu, kami semakin memahami arti kebahagiaan sebagai murid-Mu.
Karena itu, kami ingin terus belajar memilih kebahagiaan. Bahkan ketika keadaan menuntut sebaliknya, Engkau tetap memberi kami kekuatan untuk berharap.
Membangun Keluarga dalam Iman
Kami juga ingin membangun kehidupan keluarga berdasarkan Sabda-Mu. Dengan demikian, kami mampu menghadapi dan melewati berbagai penderitaan dalam kehidupan.
Ukuran duniawi tidak boleh menghilangkan kebahagiaan yang kami miliki. Oleh sebab itu, bantulah kami menjaga kebahagiaan yang Engkau berikan.
Selanjutnya, mampukan kami membagikan kebahagiaan tersebut kepada keluarga dan sesama. Dengan cara demikian, kami dapat menghadirkan kasih-Mu dalam kehidupan sehari-hari.
Tetap Memilih Bahagia
Pada akhirnya, semoga iman dan harapan selalu menguatkan langkah kami. Semoga kami tetap memilih bahagia karena percaya kepada-Mu.
Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.
Mohon Berkat Tuhan
Berkat Penutup
P: Marilah kita mohon berkat dari Tuhan.
P: Semoga Tuhan beserta kita.
U: Sekarang dan selama-lamanya.
P: Semoga Allah Yang Mahakuasa melindungi, membimbing, dan memberkati kita sekalian.
Dalam Nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus.
U: Amin.***





