Bermula dari Kesederhanaan dan Kesediaan Diri
(RP. Ignasius Supriyatno, MSF)
Tanda Salib dan Salam
P: Dalam Nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus.
U: Amin.
P: Semoga kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan dari Tuhan kita Yesus Kristus selalu beserta kita.
U: Sekarang dan selama-lamanya.
Pengantar
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, pada hari ini kita kembali berkumpul dalam pertemuan doa keluarga. Selain itu, kita masih berada dalam rangkaian Bulan Kitab Suci Nasional tahun 2022. Secara khusus, hari ini merupakan hari ke-8.
Tema besar Bulan Kitab Suci Nasional ialah “Allah Sumber Harapan Baru.” Sementara itu, tema permenungan hari ini ialah “Bermula dari Kesederhanaan dan Kesediaan Diri.”
Pada kesempatan ini, Gereja merayakan Pesta Kelahiran Santa Perawan Maria. Karena itu, kita diajak melihat kembali peran Maria dalam karya keselamatan Allah.
Pesta Kelahiran Santa Perawan Maria awalnya dirayakan di Basilika yang dibangun di sekitar Kolam Bethesda (bdk. Yoh. 5:1-9). Menurut tradisi, tempat tersebut dipercaya sebagai rumah Santo Yoakim dan Santa Anna, orang tua Santa Maria.
Kemudian, Paus Sergius I memperkenalkan pesta ini di Roma. Umat merayakannya di Basilika Santa Maria Maggiore. Selanjutnya, perayaan tersebut menyebar dan dirayakan di seluruh Gereja.
Dengan demikian, kita dapat melihat bahwa karya keselamatan Allah bermula dari hal yang sederhana. Rancangan tersebut berawal dari keluarga Santo Yoakim dan Santa Anna.
Selain itu, karya keselamatan Allah membutuhkan kesediaan Maria. Ia menerima warta sukacita dari Tuhan melalui Malaikat Gabriel.
Oleh sebab itu, hari ini kita diajak belajar dari kesederhanaan keluarga Maria. Pada saat yang sama, kita juga belajar dari kesediaan Maria menerima kehendak Allah.
Doa Pembuka
Marilah kita berdoa. (hening sejenak)
Allah Bapa yang Mahakuasa, Engkaulah yang merancang seluruh kehidupan alam semesta. Termasuk di dalamnya, Engkau merancang kehidupan kami.
Terpujilah nama-Mu yang mulia. Sebab, Engkau menjadikan orang-orang sederhana dan siap sedia sebagai bagian dari rancangan keselamatan-Mu.
Melalui keluarga sederhana Bapak Yoakim dan Ibu Anna, rencana keselamatan-Mu mulai bersemi. Kemudian, melalui kesediaan Maria, rencana tersebut menjadi kenyataan.
Karena itu, kami bersyukur atas keluarga kami. Engkau memakai keluarga kami untuk belajar menghidupi dan melaksanakan Sabda-Mu.
Namun, janganlah kami mengandalkan kehebatan, kelebihan, atau kekuatan diri sendiri. Sebaliknya, ajarilah kami menerima rancangan dan kehendak-Mu dengan rendah hati.
Dengan demikian, kami mampu menjalankan perutusan untuk bersaksi melalui keluarga kami. Selain itu, semoga keluarga kami menjadi tempat pewartaan kabar baik.
Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami, kini dan selamanya. Amin.
Bacaan
Matius 1:1–16, 18–23 (1:18–23)
P: Semoga Tuhan beserta kita.
U: Sekarang dan selama-lamanya.
P: Inilah Injil Suci menurut Matius.
U: Terpujilah Kristus.
Renungan: Kesederhanaan yang Dipakai Allah
Orang berkata, bahagia itu sederhana. Namun, sesuatu yang sederhana bukan berarti tidak memiliki arti.
Kesederhanaan Bapak Yoakim dan Ibu Anna mengalir dalam diri putrinya, Maria. Pada waktunya, nilai tersebut menjadi jawaban iman Maria kepada Malaikat Gabriel.
Malaikat Gabriel membawa warta gembira tentang keselamatan dunia. Kemudian, Maria menerima tawaran Allah dengan penuh iman.
Dengan demikian, kesederhanaan Maria tampak melalui kesediaannya menerima kehendak Tuhan. Ia bersedia mengandung dari Roh Kudus dan melahirkan Yesus ke dunia.
Peristiwa kelahiran Maria yang sederhana kemudian berulang dalam kelahiran Yesus. Pada saat itu, Maria melahirkan Yesus di sebuah palungan yang sederhana.
Karena itu, kesederhanaan Maria tidak hanya menunjukkan keadaan hidup. Sebaliknya, kesederhanaan tersebut menunjukkan iman yang mendalam.
Kesediaan Maria dalam Rancangan Keselamatan
Keselamatan yang dirancang Allah Bapa hadir melalui kesederhanaan dan kesediaan Maria. Dengan kata lain, Allah memilih pribadi yang sederhana untuk menjalankan karya besar-Nya.
Bahkan, silsilah dalam Injil Matius memperlihatkan hal tersebut. Silsilah itu memuat berbagai pribadi dengan kerapuhan dan kelemahan.
Ada pula tokoh-tokoh yang memiliki masa lalu penuh dosa. Meskipun demikian, Allah tetap memilih dan memakai mereka dalam karya keselamatan.
Oleh sebab itu, kita tidak perlu merasa kecil karena memiliki keterbatasan. Sebaliknya, Allah dapat memakai siapa saja untuk menghadirkan kebaikan.
Silsilah itu dapat kita ibaratkan seperti kerangka yang menopang sebuah tubuh. Demikian pula, setiap pribadi dalam sejarah keselamatan memiliki peran masing-masing.
Karena itu, kesederhanaan tidak boleh membuat kita merasa tidak berguna. Justru sebaliknya, Allah dapat memakai kesederhanaan kita untuk menghadirkan kasih-Nya.
Maria dan Kesediaan Mengikuti Kehendak Allah
Maria menerima perlakuan istimewa sejak berada dalam kandungan ibunya, Santa Anna. Dalam ajaran Gereja Katolik, Bunda Maria dikandung tanpa noda dosa asal.
Bulla Ineffabilis Deus menegaskan ajaran tersebut. Karena itu, Gereja memandang Maria sebagai pribadi yang mendapat rahmat istimewa dari Allah.
Namun demikian, keistimewaan Maria tidak membuatnya hidup tanpa tanggung jawab. Sebaliknya, Maria menunjukkan kesediaan untuk menjalankan kehendak Allah.
Jawaban Maria kepada Malaikat Gabriel menjadi teladan bagi kita. Melalui sikap tersebut, Maria menunjukkan iman, kerendahan hati, dan kesediaan diri.
Selanjutnya, kita pun dapat meneladan sikap Maria. Dengan demikian, kita mampu menerima kehendak Allah dalam kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, Allah mengundang kita untuk belajar dari Maria. Karena itu, marilah kita mengambil bagian





