Bercermin pada Diri Sendiri
Losiyus Suyono
Tanda Salib dan Salam
P: Dalam Nama Bapa, dan Putra dan Roh Kudus.
U: Amin.
P: Semoga kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan dari Tuhan kita Yesus Kristus selalu beserta kita.
U: Sekarang dan selama-lamanya.
Pengantar
Menilai dan menyalahkan orang lain sangat mudah kita lakukan. Sebaliknya, kita sering kesulitan mengakui kesalahan dan meminta maaf kepada sesama.
Karena itu, Yesus mengajarkan kita untuk selalu melakukan introspeksi. Dengan demikian, kita tidak mudah menghakimi orang lain.
Selain itu, kita perlu belajar melihat kekurangan diri sendiri sebelum menilai kehidupan sesama. Oleh sebab itu, marilah kita membuka hati dan membiarkan Tuhan membimbing kita untuk menjadi pribadi yang rendah hati.
Doa Pembuka
Marilah kita berdoa.
(Hening sejenak)
Bapa di Surga, bimbinglah kami agar selalu terbuka terhadap firman dan kebenaran-Mu. Selain itu, bukalah hati kami agar mampu mendengar dan merenungkan Sabda-Mu.
Dengan demikian, kami dapat memahami kehendak-Mu. Semoga Sabda-Mu juga membantu kami memperbaiki diri dan menjalani kehidupan dengan lebih baik.
Demi Kristus, pengantara kami. Amin.
Bacaan
Lukas 6:39–42
P: Semoga Tuhan beserta kita.
U: Sekarang dan selama-lamanya.
P: Inilah Injil Suci menurut Lukas.
U: Terpujilah Kristus.
Renungan: Bercermin pada Diri Sendiri
Yesus mengajarkan kita untuk selalu bercermin pada diri sendiri. Dengan demikian, kita dapat mensyukuri setiap kebaikan yang Tuhan berikan dalam kehidupan.
Namun, kita sering lebih mudah melihat kekurangan orang lain. Karena itu, kita perlu berhati-hati agar tidak menghakimi sesama dan menganggap diri sendiri lebih baik.
Selain itu, perkataan kita dapat melukai hati orang lain. Ketika kita mengomentari kekurangan seseorang tanpa menjaga perasaannya, kita juga dapat menyakiti hati Tuhan.
Sebab, sejak awal penciptaan, Tuhan menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya. Oleh karena itu, kita perlu menghargai setiap orang sebagai ciptaan Tuhan.
Selanjutnya, marilah kita melihat diri sendiri sebelum menilai orang lain. Apakah kita sudah mampu menerima kekurangan sesama? Apakah kita juga sudah mau mengakui kekurangan diri sendiri?
Pada akhirnya, sikap rendah hati membantu kita membangun hubungan yang lebih baik dengan sesama. Dengan hati yang terbuka, kita pun dapat belajar menjadi pribadi yang lebih baik.
Doa Umat
1. Ya Tuhan, kami sering bersikap egois dan menganggap orang lain lemah. Karena itu, hapuskanlah kesombongan dalam diri kami. Bimbinglah kami agar mampu mengutamakan sesama daripada diri sendiri.
Marilah kita mohon …
2. Allah Bapa di Surga, bimbinglah hati kami agar selalu menghargai sesama dalam pergaulan. Selain itu, ajarlah kami untuk menerima orang lain apa adanya dan terbuka terhadap kritik.
Dengan demikian, kami dapat memperbaiki diri dan membangun hubungan yang lebih baik dengan sesama.
Marilah kita mohon …
3. Selanjutnya, silakan mengungkapkan doa secara pribadi.
Marilah kita mohon …
Bapa Kami
Marilah kita satukan doa dan permohonan kita. Selanjutnya, bersama-sama kita panjatkan doa yang diajarkan Tuhan Yesus:
Bapa kami …
Doa Penutup
Marilah kita berdoa.
(Hening sejenak)
Allah Bapa yang penuh kasih, kami bersyukur kepada-Mu karena Engkau menciptakan kami berbeda satu sama lain. Dengan perbedaan tersebut, kami dapat saling melengkapi.
Karena itu, kami mohon agar kelebihan yang kami miliki tidak membuat kami menjadi sombong. Sebaliknya, tuntunlah kami agar menggunakan setiap kelebihan sebagai sarana untuk membantu dan melayani sesama.
Selain itu, ajarlah kami untuk selalu bercermin pada diri sendiri. Dengan demikian, kami mampu memperbaiki kekurangan dan semakin dekat dengan kehendak-Mu.
Demi Kristus, Tuhan kami. Amin.
Mohon Berkat
P: Marilah kita mohon berkat dari Tuhan.
P: Semoga Tuhan beserta kita.
U: Sekarang dan selama-lamanya.
P: Semoga kita sekalian dilindungi, dibimbing, dan diberkati oleh Allah Yang Mahakuasa:
Dalam Nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus.
U: Amin.***





