Wayang Sekelik Angkat Legenda Gunung Sugih, Mahasiswa Unila Antusias

ALTUMNEWS.Com, BANDARLAMPUNG – Wayang Sekelik mengangkat lakon “Legenda Gunung Sugih” dalam Perpustakaan Expo Unila 2022. Pertunjukan itu sekaligus mengenalkan cerita rakyat Lampung kepada generasi muda.

Wayang berbahasa Lampung tersebut tampil di Gedung Perpustakaan Universitas Lampung (Unila) lantai III, Senin (17/10/2022). Sekitar 150 penonton kemudian memenuhi ruang pertunjukan.

Mayoritas penonton berasal dari kalangan mahasiswa Unila. Mereka pun menunjukkan antusiasme tinggi sepanjang pertunjukan.

Wayang Sekelik Ceritakan Asal-usul Gunung Sugih

Dalang Wayang Sekelik, Supriyanto, S.Sn., M.M. atau Pn. Natawijaya, menjelaskan alasan memilih lakon tersebut.

Ia mengangkat cerita tentang awal mula terbentuknya Kampung Gunung Sugih, Lampung Tengah. Melalui lakon itu, ia ingin mengenalkan cerita rakyat Lampung kepada penonton.

“Jadi pertunjukan Wayang Sekelik ini kita menceritakan tentang Legenda Gunung Sugih Lampung Tengah. Jadi menceritakan terbentuknya Kampung Gunung Sugih,” jelas Pn. Natawijaya seperti dikutip dari Krakatoa.id, Rabu (19/10/2022).

Menurutnya, legenda tersebut menceritakan asal-usul nama Kampung Gunung Sugih. Karena itu, ia memilih cerita tersebut untuk mengangkat kekayaan budaya lokal Lampung.

Wayang Sekelik Bawa Misi Edukasi

Pn. Natawijaya tidak hanya mengejar sisi hiburan. Ia juga membawa misi edukasi melalui setiap pertunjukan Wayang Sekelik.

Menurutnya, wayang dapat menjadi media untuk mengenalkan literasi budaya dan kearifan lokal Lampung. Selain itu, pertunjukan tersebut memuat berbagai unsur seni tradisional.

“Sebagai salah satu media untuk mengedukasi tentang literasi budaya kearifan lokal kita Lampung,” ujarnya.

Ia kemudian menjelaskan sejumlah unsur budaya yang masuk dalam pertunjukan. Di antaranya terdapat sastra Lampung, nilai estetika, lagu atau ngedio, bebandung, ringget, dan pepacul.

“Nah itu dikombinasi atau dikolaborasikan dalam sebuah kemasan drama yang menggunakan media wayang,” katanya.

Dengan konsep tersebut, Wayang Sekelik memadukan cerita dengan bahasa dan kesenian tradisional Lampung. Alhasil, penonton tidak hanya menikmati pertunjukan, tetapi juga mengenal kekayaan budaya daerah.

Dorong Anak Muda Cintai Budaya Lampung

Pn. Natawijaya berharap Wayang Sekelik mampu menjangkau lebih banyak generasi muda. Ia ingin anak muda mengenal sekaligus mencintai budaya Lampung.

“Saya harap Wayang Sekelik ini bisa benar-benar menjadi media pengajaran, literasi, edukasi, bagi generasi bangsa kita untuk mengenali, mencintai, mengembangkan budaya-budaya Lampung,” tegasnya.

Karena itu, ia terus mengembangkan Wayang Sekelik sejak 2015. Ia juga mengklaim konsep tersebut sebagai satu-satunya Wayang Sekelik di Provinsi Lampung.

“Kebetulan saya sendiri yang mempunyai ide atau gagasan terkait dengan Wayang Sekelik ini, sejak 2015 yang lalu,” pungkasnya.

Mahasiswa Unila Beri Apresiasi

Wakil Ketua Panitia Perpustakaan Expo Unila 2022, Ir. Martinus, S.T., M.Sc., menjelaskan alasan panitia memilih Wayang Sekelik.

Menurut Martinus, panitia ingin memberikan wawasan baru kepada mahasiswa. Pertunjukan tersebut menunjukkan bahwa Lampung memiliki kesenian wayang yang mengangkat cerita lokal.

“Sebenarnya Wayang Sekelik ini untuk memberikan pencerahan kepada mahasiswa. Ternyata ada wayang yang memang mengangkat lakon-lakon kisah Lampung,” jelas Martinus.

Sementara itu, respons mahasiswa membuat Martinus terkesan. Mereka memberikan apresiasi besar setelah menyaksikan pertunjukan.

“Kalau melihat tadi ya, apresiasi dari mahasiswa itu sangat luar biasa, standing applause lho,” ujarnya.

Menurut Martinus, respons tersebut menunjukkan ketertarikan mahasiswa terhadap budaya Lampung. Bahkan, mahasiswa memberikan standing applause untuk pertunjukan tersebut.

“Artinya apa, bahwa penghargaan atau apresiasi dari mahasiswa terhadap budaya Lampung itu sudah luar biasa,” katanya.

Budaya Lampung Perlu Kemasan Kekinian

Namun, Martinus melihat tantangan lain dalam pengembangan budaya Lampung. Pelaku budaya perlu mencari cara agar kesenian tradisional semakin dekat dengan generasi muda.

Karena itu, ia mendorong pelaku seni menghadirkan kemasan yang lebih menarik. Dengan pendekatan tersebut, generasi muda akan lebih mudah menerima dan menikmati budaya daerah.

“Tinggal bagaimana kita mengemas kebudayaan Lampung ini menjadi sesuatu yang lebih menganak muda,” pungkas Martinus.

Menurutnya, generasi muda harus ikut mengambil peran dalam menjaga budaya Lampung. Dengan demikian, kesenian tradisional tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang mengikuti zaman.

Pertunjukan Wayang Sekelik di Perpustakaan Expo Unila 2022 menunjukkan peluang tersebut. Melalui cerita lokal dan kemasan kreatif, kesenian Lampung dapat menjangkau penonton muda.

Pada akhirnya, Wayang Sekelik tidak sekadar menghadirkan hiburan. Pertunjukan itu juga mengajak generasi muda mengenal, mencintai, dan mengembangkan budaya Lampung.***