Kunjungan Wisatawan Lampung Meningkat, Okupansi Hotel Masih Rendah

ALTUMNEWS.Com, BANDAR LAMPUNG — Sektor pariwisata Provinsi Lampung terus menunjukkan geliat positif. Jumlah kunjungan wisatawan dan perputaran ekonomi meningkat sepanjang 2025. Hingga November 2025, Lampung mencatat sekitar 24,70 juta perjalanan wisatawan. Kota Bandar Lampung menjadi tujuan utama dengan porsi 20,62 persen, disusul Lampung Selatan sebesar 13,88 persen dan Lampung Tengah 12,25 persen.

Perputaran Ekonomi Pariwisata Lampung Meningkat

Pertumbuhan kunjungan wisatawan turut mendorong perputaran ekonomi pariwisata. Nilainya meningkat dari Rp16,26 triliun pada 2023 menjadi Rp30,39 triliun pada 2024. Pada 2025, angka tersebut kembali melonjak hingga Rp53,11 triliun.

Rata-rata pengeluaran wisatawan juga mencapai Rp2,15 juta per kunjungan. Angka ini menunjukkan besarnya potensi ekonomi yang dapat Lampung kembangkan melalui sektor pariwisata.

Okupansi Hotel di Lampung Masih Rendah

Meski jumlah kunjungan dan pengeluaran wisatawan meningkat, industri perhotelan belum menikmati pertumbuhan yang sebanding. Tingkat penghunian kamar (TPK) hotel berbintang di Lampung rata-rata hanya mencapai 48,93 persen. Sementara itu, hotel nonbintang mencatat TPK sebesar 25,60 persen.

Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa banyak wisatawan masih memilih perjalanan singkat. Rata-rata lama tinggal mereka hanya sekitar 1,29 hari per kunjungan.

Pola perjalanan ini menjadi tantangan bagi pengelola hotel dan pemerintah daerah. Keduanya perlu mendorong wisatawan agar menghabiskan lebih banyak waktu di Lampung.

Jumlah Hotel dan Destinasi Wisata Terus Bertambah

Lampung terus menambah kapasitas akomodasi untuk mendukung pertumbuhan pariwisata. Saat ini, provinsi tersebut memiliki 49 hotel berbintang dengan 4.572 kamar dan 7.009 tempat tidur.

Selain itu, sebanyak 495 hotel nonbintang menyediakan 12.245 kamar dan 16.698 tempat tidur. Pertambahan kapasitas tersebut menuntut strategi promosi yang lebih efektif agar permintaan kamar dapat tumbuh seimbang dengan ketersediaan akomodasi.

Jumlah destinasi wisata juga terus meningkat. Lampung memiliki 557 destinasi pada 2022, kemudian bertambah menjadi 627 destinasi pada 2025.

Pertumbuhan serupa terlihat pada sektor kuliner. Jumlah restoran dan rumah makan meningkat dari 1.975 unit menjadi 2.511 unit. Berbagai fasilitas hiburan, seperti bioskop, karaoke, pusat olahraga, dan arena rekreasi, juga terus berkembang.

Namun, penambahan destinasi dan fasilitas pendukung belum sepenuhnya meningkatkan tingkat hunian hotel.

Tren Nasional Turut Memengaruhi Industri Perhotelan

Tantangan okupansi hotel di Lampung juga sejalan dengan kondisi nasional. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa tingkat hunian kamar hotel sepanjang 2025 masih menghadapi tekanan. Pada November 2025, hotel bintang lima mencatat TPK sebesar 56,30 persen, turun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Momentum libur panjang juga belum sepenuhnya mendongkrak okupansi hotel di Lampung. Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Lampung mencatat tingkat hunian hotel selama libur Natal dan Tahun Baru 2025/2026 turun sekitar 5,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa peningkatan mobilitas wisatawan belum tentu menghasilkan kenaikan permintaan kamar hotel secara langsung.

Lampung Perlu Mendorong Wisatawan Tinggal Lebih Lama

Para pengamat menilai rendahnya okupansi mencerminkan tantangan struktural dalam pembangunan pariwisata Lampung. Meskipun investasi hotel terus tumbuh, banyak wisatawan masih menjadikan Lampung sebagai daerah persinggahan, bukan tujuan utama untuk berlibur lebih lama.

Karena itu, pemerintah daerah dan pelaku industri perlu memperkuat strategi pengembangan destinasi unggulan. Mereka dapat menggelar acara berbasis pengalaman, mengintegrasikan pariwisata dengan ekonomi kreatif, serta mempromosikan budaya lokal secara lebih luas.

Pengelola destinasi juga perlu menawarkan paket wisata yang menghubungkan berbagai objek wisata dalam satu perjalanan. Strategi ini dapat mendorong wisatawan menginap lebih lama sekaligus meningkatkan belanja mereka di sektor kuliner, transportasi, dan ekonomi kreatif.

Melalui langkah tersebut, Lampung berpeluang meningkatkan lama tinggal wisatawan, memperbaiki tingkat hunian hotel, dan memperkuat kontribusi sektor pariwisata terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.***