Oleh: Eddy Aqdhiwijaya, Ketua Yayasan Islam Cinta Indonesia
ALTUMNEWS.Com — Di tengah dinamika zaman yang terus bergerak, zakat—sebagai pilar ketiga dalam Islam—tetap berdiri tegak, memikul amanah besar untuk mengentaskan kemiskinan dan mewujudkan keadilan sosial. Namun, tantangan yang dihadapi tak lagi sama. Kompleksitas masyarakat modern, perubahan pola ekonomi, hingga pesatnya arus informasi, menuntut kita untuk tidak hanya memahami zakat sebagai kewajiban ritual, tetapi juga sebagai solusi sosial-ekonomi yang adaptif dan visioner.
Selama ini, diskursus zakat seringkali didominasi oleh isu-isu makro: manajemen lembaga amil, optimalisasi penghimpunan, atau regulasi pemerintah. Pembahasan ini penting, namun seringkali mengabaikan fondasi paling fundamental dari peradaban Islam: keluarga (rumah) dan institusi pendidikan (sekolah).
Sebelum Ramadan, saya dihubungi Kang Ijal, sapaan akrab saya kepada guru dan kawan filantropi Rizaludin Kurniawan, beliau adalah pimpinan Baznas yang amanah, cerdas dan kaya ide.
Pada saat itu, Kang Ijal ingin menerbitkan buku karya beliau dengan judul The Future of Zakat: Membumikan Zakat dari Rumah dan Sekolah. Isinya bukan untuk mengulang teori-teori fikih zakat yang sudah mapan, melainkan untuk menawarkan sebuah perspektif esensial: bahwa masa depan zakat ditentukan oleh bagaimana ia diajarkan, diamalkan, dan diinternalisasi di dua institusi terkecil dan terdekat dalam kehidupan kita. Lantas, Kang Ijal meminta saya untuk memberikan prolog atas buku karyanya, dan saya sampaikanlah narasi perspektif saya yang berkaitan dengan buku Kang Ijal bertajuk “Mewujudkan Ekosistem Zakat di Rumah dan di Sekolah”.
Melalui karyanya ini Kang Ijal percaya, sebuah revolusi zakat tidak akan dimulai dari gedung-gedung tinggi lembaga filantropi, melainkan dari ruang-ruang keluarga yang hangat dan dari bangku-bangku sekolah yang membentuk karakter generasi penerus.
Dari rumah, keluarga adalah laboratorium pertama tempat anak belajar tentang harta, tanggung jawab, dan empati. Bagaimana orang tua mengajarkan konsep zakat, mengelola keuangan keluarga dan menjadikan pembayaran zakat sebagai tradisi yang ditunggu, akan membentuk kesadaran zakat yang kokoh sejak dini. Kita akan menelaah bagaimana menciptakan ‘Ekosistem Zakat Keluarga’ yang bukan hanya membayar, tetapi juga memberdayakan.
Dari sekolah, yang memiliki peran krusial dalam mentransformasi pengetahuan kognitif tentang zakat menjadi kecakapan moral dan praktis. Bagaimana kurikulum, kegiatan ekstrakurikuler, dan proyek-proyek sosial dapat mengintegrasikan zakat sehingga siswa lulus bukan hanya tahu definisi nishab dan haul, tetapi juga memiliki semangat sebagai muzaki dan penggerak sosial di masa depan. Kita akan merumuskan ‘Pendidikan Zakat Holistik’ yang melahirkan zakat-preneur dan pemimpin yang berintegritas.
Inilah saatnya kita menggeser paradigma. Zakat bukan sekadar kewajiban tahunan yang ditunaikan di akhir Ramadan. Zakat adalah gaya hidup (lifestyle), kurikulum moral (moral curriculum), dan infrastruktur spiritual (spiritual infrastructure) bagi setiap individu muslim. Buku ini merupakan ajakan dan rujukan praktis dan inspiratif bagi orang tua untuk menjadikan rumah sebagai madrasah zakat pertama. Kemudian bagi guru dan pendidik untuk mengintegrasikan zakat ke dalam setiap mata pelajaran dan program sekolah. Dan bagi pengelola lembaga zakat untuk memperluas jangkauan edukasi dan sosialisasi zakat hingga ke unit masyarakat terkecil.
Mari kita mulai perjalanan ini, menanamkan benih kesadaran zakat di lahan yang paling subur: di hati sanubari generasi melalui rumah dan sekolah. Sebab, hanya dengan membumikan zakat di titik terdekat, kita dapat menjemput masa depan zakat yang berkeadilan, lestari, dan memberdayakan. Selamat berzakat dengan penuh cinta, mari bersama-sama merancang masa depan zakat, satu rumah, satu sekolah pada satu waktu.***





