ALTUMNEWS.Com, PALEMBANG – Bukit Siguntang di Kota Palembang bukan sekadar destinasi wisata religi biasa bagi masyarakat lokal. Secara mengejutkan, kawasan cagar budaya ini menyimpan benang merah sejarah yang sangat kuat dengan kerajaan-kerajaan besar di Asia Tenggara. Faktanya, para pemimpin tertinggi dari negara tetangga seperti Raja Malaysia hingga para Sultan dari Malaka rutin mendatangi situs suci ini untuk menelusuri asal-usul leluhur mereka.
Juru kunci kawasan Cagar Budaya Bukit Siguntang, Sulaiman (52), membenarkan fenomena kunjungan kenegaraan tersebut. Ia menyampaikan informasi berharga ini secara langsung kepada Altumnews.com pada Senin, 8 Juni 2026.
“Sebagai bukti nyata, Raja Malaysia sering datang berziarah ke tempat ini. Hal ini terjadi karena asal-usul masyarakat maupun raja-raja di Malaysia memang berasal dari rumpun Melayu, tepatnya dari Bukit Siguntang,” jelas Sulaiman secara gamblang.
Kedatangan Sultan Malaka dan Pengawalan Ketat Kepolisian
Selanjutnya, Sulaiman menceritakan momen kunjungan diplomatik dan keagamaan yang baru saja berlangsung di sana. Sekitar dua minggu lalu, seorang Sultan dari wilayah Malaka datang berkunjung menjelang prosesi pelantikan resminya. Selain itu, rombongan bangsawan dari Negeri Sembilan, Malaysia, juga turut hadir memadati komplek pemakaman kuno tersebut.
Mengingat pentingnya status para tamu negara, pihak pengelola menerapkan standar keamanan yang sangat tinggi. Secara terpadu, aparat kepolisian dari Polres hingga Polda Sumatra Selatan ikut mengawal ketat jalannya prosesi ziarah.
• Tamu Kehormatan: Kehadiran para sultan lengkap dengan barisan pengawal kerajaan berpakaian adat resmi.
• Sinergi Keamanan: Pihak dinas pariwisata bekerja sama secara intensif dengan jajaran Polda untuk menjaga kekhusyukan ritual adat.
Tercatat Resmi dalam Dua Kitab Sejarah Dunia
Lebih lanjut, Sulaiman menegaskan bahwa hubungan darah antara Malaysia, Singapura, dan Bukit Siguntang bukanlah sekadar mitos atau dongeng belaka. Sebaliknya, kebenaran sejarah tersebut tertulis secara valid dan otentik di dalam dua kitab kuno yang diakui dunia, yaitu:
1. Kitab Sulalatus Salatin (Sejarah Melayu)
Tun Sri Lanang menulis karya agung ini pada tanggal 13 Mei 1612. Dalam catatan tersebut, ia mengisahkan turunnya seorang manusia sakti setengah dewa bernama Sang Sapurba di Bukit Siguntang. Tokoh legendaris ini kemudian menikah dengan putri dari penguasa lokal, Damang Lebar Daun. Pernikahan sakral tersebut menurunkan garis keturunan raja-raja di tanah Melayu yang mendirikan Tumasik (Singapura lama), Malaka, dan Malaysia.
2. Kitab Suma Oriental (Catatan Portugis)
Seorang penjelajah asal Portugis bernama Tom Pires menulis manuskrip penting ini pada tahun 1513. Melalui pengamatannya, Tom Pires juga menegaskan bahwa nenek moyang penguasa Tumasik dan Malaka berasal dari perbukitan di Palembang.
Menjadi Materi Pelajaran Wajib Sekolah di Singapura dan Malaysia
Dampak dari kuatnya bukti sejarah ini ternyata sangat memengaruhi sistem pendidikan di negara tetangga. Hingga saat ini, kisah kebesaran Bukit Siguntang Palembang menjadi materi pelajaran sejarah wajib bagi para siswa sekolah di Singapura dan wilayah Malaka, Malaysia.
“Oleh karena itu, ikatan ini memang bukan cerita rakyat khayalan atau hoaks turun-temurun. Sebab, semua hal ini tercatat rapi di dalam kitab-kitab mereka. Alasan kuat inilah yang menggerakkan para raja dan sultan untuk datang berziarah ke sini,” tegas Sulaiman menutup pembicaraan.***





