ALTUMNEWS.Com, BANDAR LAMPUNG – Universitas Lampung (Unila) menghubungkan isu ketahanan pangan global dengan solusi berbasis komunitas melalui kolaborasi IR-Talk 2026 dan proyek HARVEST. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diajak memahami tantangan sistem pangan sekaligus mengembangkan gagasan inovatif untuk mendukung pertanian berkelanjutan.
Mengangkat tema “Food Security in a Changing World: Tantangan Ketahanan Pangan di Era Globalisasi”, diskusi ini mempertemukan perspektif akademisi Hubungan Internasional Unila dan perwakilan World Food Forum Indonesia. Selain itu, kegiatan ini menyoroti praktik lokal yang dapat memperkuat ketahanan pangan masyarakat.
Kegiatan tersebut juga memanfaatkan momentum Hari Pangan Sedunia (World Food Day) untuk membahas hubungan antara dinamika global dan kebutuhan pangan di tingkat lokal. Dengan demikian, mahasiswa dapat memahami bahwa persoalan pangan tidak hanya berkaitan dengan produksi, tetapi juga dengan kondisi ekonomi, politik, dan lingkungan.
Perubahan Iklim dan Geopolitik Tantang Ketahanan Pangan
Ketahanan pangan tidak hanya bergantung pada ketersediaan bahan makanan. Sebaliknya, perubahan iklim, konflik geopolitik, krisis ekonomi, perdagangan internasional, dan gangguan rantai pasok global turut memengaruhi akses masyarakat terhadap pangan.
Melalui pemaparan materi dan diskusi interaktif, para pembicara mengajak mahasiswa memahami berbagai tantangan tersebut. Selanjutnya, mereka membahas strategi untuk menjaga ketersediaan pangan, keterjangkauan harga, dan keberlanjutan sistem pangan.
Dosen Jurusan Hubungan Internasional Unila, Luerdi, bersama perwakilan World Food Forum Indonesia, memperkaya diskusi dengan perspektif akademik dan wawasan mengenai sistem pangan global. Kehadiran berbagai perspektif ini membantu mahasiswa melihat persoalan pangan secara lebih menyeluruh.
Di sisi lain, forum tersebut juga mendorong mahasiswa memahami hubungan antara kebijakan internasional dan persoalan pangan di daerah. Oleh karena itu, peserta diajak mempertimbangkan kondisi global sekaligus kebutuhan masyarakat ketika merancang solusi.
Komunitas Lumbung Kasih Tunjukkan Praktik Ketahanan Pangan Lokal
Selain membahas dinamika global, kolaborasi IR-Talk dan HARVEST Unila mengangkat pengalaman Komunitas Lumbung Kasih di Desa Bumi Jaya, Lampung Selatan. Komunitas ini menjadi contoh praktik lokal yang menekankan partisipasi masyarakat, pertanian kolektif, produksi pangan, dan pertukaran pengetahuan.
Melalui kegiatan bersama, masyarakat dapat memanfaatkan sumber daya setempat untuk memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga. Pada saat yang sama, praktik tersebut membuka ruang pembelajaran mengenai pertanian berkelanjutan dan strategi menghadapi perubahan lingkungan.
Dalam sesi HARVEST, Project Manager HARVEST Universitas Lampung, Indra Jaya Wiranata, M.A., menyampaikan materi berjudul “Learning from Local Practices: Food Security and Adaptive Strategies”.
Dalam paparannya, ia menekankan pentingnya pembelajaran dari pengalaman masyarakat. Melalui pendekatan ini, pemanfaatan sumber daya lokal, pembelajaran kolektif, dan strategi adaptasi dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan.
Lebih lanjut, pengalaman Komunitas Lumbung Kasih memperlihatkan pentingnya hubungan antara perguruan tinggi dan masyarakat. Dengan menghubungkan pengetahuan akademik dan pengalaman lapangan, kolaborasi tersebut dapat membantu merumuskan solusi yang sesuai dengan kebutuhan komunitas.
HARVEST Unila Siapkan Student Innovation Hubs pada Januari 2027
Tidak hanya mengangkat praktik komunitas, HARVEST Unila juga memperkenalkan program Student Innovation Hubs (SIH). Inisiatif ini mendorong mahasiswa mengembangkan inovasi, kewirausahaan, dan keterampilan hijau (green skills) untuk mendukung pertanian serta sistem pangan berkelanjutan.
Unila merencanakan pelaksanaan SIH mulai Januari 2027 dengan tema utama “Local Food System”. Melalui program ini, mahasiswa dari berbagai jurusan akan memperoleh kesempatan untuk mengembangkan gagasan yang menjawab tantangan sistem pangan lokal.
Untuk mewujudkan tujuan tersebut, HARVEST merencanakan beberapa tahapan pengembangan gagasan. Pertama, tim akan memilih lima gagasan mahasiswa untuk dikembangkan lebih lanjut. Selanjutnya, para peserta akan mengikuti diskusi kelompok terarah atau focus group discussion (FGD), kunjungan lapangan, dan pembelajaran langsung bersama para pemangku kepentingan.
Setelah itu, rangkaian program akan berlanjut dengan lokakarya akhir. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa akan mempresentasikan sekaligus menyempurnakan gagasan yang telah mereka kembangkan.
Program ini direncanakan melibatkan 15 mahasiswa dan lima perwakilan komunitas. Dengan komposisi tersebut, SIH membuka ruang kolaborasi antara generasi muda, perguruan tinggi, dan masyarakat. Selain memperluas wawasan, interaksi ini juga berpotensi membantu mahasiswa memahami kebutuhan sistem pangan dari sudut pandang komunitas.
Kolaborasi Kampus dan Masyarakat Perkuat Pangan Berkelanjutan
Secara keseluruhan, kolaborasi IR-Talk 2026 dan HARVEST Unila menekankan pentingnya menghubungkan pemahaman tentang ketahanan pangan global dengan tindakan nyata di tingkat lokal.
Di satu sisi, diskusi akademik membantu mahasiswa memahami tantangan internasional. Di sisi lain, pengalaman Komunitas Lumbung Kasih memberikan gambaran mengenai peran masyarakat dalam menjaga ketahanan pangan rumah tangga.
Sementara itu, program Student Innovation Hubs membuka ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan gagasan inovatif yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Melalui kegiatan ini, mahasiswa dapat menghubungkan pengetahuan akademik dengan tantangan nyata di lapangan.
Oleh sebab itu, sinergi antara perguruan tinggi, komunitas, dan pemangku kepentingan menjadi penting dalam mendukung sistem pangan berkelanjutan. Kolaborasi tersebut juga dapat memperkuat partisipasi generasi muda dalam merespons persoalan pangan dan lingkungan.
Pada akhirnya, HARVEST Unila mendorong pendekatan ketahanan pangan yang lebih menyeluruh. Pendekatan ini tidak hanya menitikberatkan ketersediaan makanan, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan lingkungan dan kemampuan masyarakat menghadapi perubahan.





