Misa Kamis Putih di Gereja Ratu Damai

ALTUMNEWS.Com, BANDARLAMPUNG – Umat Katolik merayakan Kamis Putih pada Kamis, 1 April 2021. Perayaan ini membuka rangkaian Tri Hari Suci.

Tri Hari Suci mencakup Kamis Putih, Jumat Agung, dan Sabtu Sepi. Kamis Putih mengenang kebersamaan Yesus dengan para murid-Nya.

Dalam perjamuan terakhir, Yesus memecah roti. Ia juga membagikan anggur sebagai lambang tubuh dan darah-Nya.

Namun, Kamis Putih tidak hanya mengenang perjamuan terakhir. Umat Katolik juga mendapat ajakan untuk melayani sesama.

Yesus menunjukkan teladan itu ketika membasuh kaki para murid. Tindakan tersebut menunjukkan kerendahan hati dan kasih.

Di Gereja Katolik Ratu Damai Telukbetung, Bandarlampung, umat mengikuti Misa Kamis Putih pukul 18.00 WIB. Panitia membatasi jumlah umat sesuai protokol kesehatan.

Romo Yulianus Bambang Condro Saptono, Pr., memimpin Misa Kamis Putih.

Makna Membasuh Kaki

Dalam homilinya, Romo Condro mengajak umat merenungkan makna pelayanan. Ia membandingkan perjamuan Yesus dengan pesta pada umumnya.

Dalam sebuah pesta, tuan rumah biasanya menerima dan menyapa para tamu. Sementara itu, para pelayan menyiapkan makanan dan minuman.

Namun, Yesus mengambil sikap berbeda. Sebagai pemimpin perjamuan, Ia melayani para rasul secara langsung.

Yesus bahkan membasuh kaki para rasul satu per satu. Ia melakukan tindakan itu dengan rendah hati.

Setelah itu, Yesus menyampaikan pesan kepada para murid.

“Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu.”

Karena itu, pesan Yesus juga berlaku bagi umat beriman. Umat perlu menghayatinya dalam kehidupan sehari-hari.

Kaki menjadi bagian tubuh paling bawah. Tanpa alas kaki, bagian tersebut langsung menyentuh tanah.

Selain itu, kaki menopang seluruh tubuh. Kaki juga membantu manusia bergerak dan menjalankan aktivitas.

Melayani dengan Rendah Hati

Menurut Romo Condro, membasuh kaki berarti memperhatikan mereka yang berada di posisi paling bawah.

Pemimpin perlu memperhatikan rakyat. Orang tua perlu memperhatikan anak-anak. Guru juga perlu memperhatikan peserta didik.

Dengan demikian, seorang pelayan harus mengutamakan orang yang ia layani. Ia juga perlu menghadirkan kebahagiaan bagi sesama.

Pelayan yang baik memiliki sikap rendah hati. Ia juga perlu bersikap ceria, gembira, dan cekatan.

Selain itu, seorang pelayan harus siap menerima berbagai tugas. Ia perlu memberikan pelayanan terbaik tanpa banyak mengeluh.

Karena itu, umat Katolik mendapat panggilan untuk saling melayani. Umat juga perlu membahagiakan mereka yang membutuhkan perhatian.

Terutama, umat perlu memperhatikan orang miskin dan mereka yang berkekurangan. Umat dapat memulai semangat itu dari keluarga dan komunitas.

Para pemimpin juga perlu memberi teladan. Demikian pula orang tua dan atasan di tempat kerja.

Membasuh Kaki sebagai Wujud Kasih

Romo Condro juga menjelaskan makna lain dari tindakan membasuh kaki. Menurutnya, tindakan itu mengajak umat untuk saling membersihkan.

Karena itu, umat perlu berpikir positif terhadap sesama. Umat juga harus mengutamakan hal-hal baik, luhur, mulia, dan benar.

Seorang pelayan harus bersikap baik kepada orang yang ia layani. Ia juga perlu menunjukkan rasa hormat dan kasih.

Demikian pula dalam kehidupan bersama. Setiap orang perlu menghadirkan kebaikan, penghormatan, dan kasih kepada sesama.

Makna Ekaristi dan Komuni Kudus

Pada Kamis Putih, umat juga mengenang pelayanan Ekaristi. Yesus mengadakan Ekaristi pertama dalam perjamuan terakhir bersama para rasul.

Dalam perjamuan itu, Yesus memberikan tubuh dan darah-Nya. Ia menggunakan roti dan anggur sebagai tanda.

Setiap mengikuti Ekaristi, umat menerima tubuh dan darah Kristus dalam rupa roti dan anggur. Umat menyambut Kristus melalui Komuni Kudus.

Karena itu, Komuni Kudus memiliki makna penting. Umat mendapat panggilan untuk mewartakan pengorbanan Tuhan melalui kehidupan sehari-hari.

Paulus mengingatkan umat untuk memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang. Artinya, umat perlu mempersembahkan diri kepada Tuhan melalui pelayanan kepada sesama.

Yesus memberi teladan melalui pengorbanan-Nya di kayu salib. Ia menyerahkan diri demi keselamatan dan kebahagiaan manusia.

Oleh sebab itu, umat tidak boleh mengorbankan orang lain demi kepentingan pribadi. Sebaliknya, umat perlu berkorban demi keselamatan dan kebahagiaan sesama.

Pada akhirnya, umat yang menerima Tubuh dan Darah Kristus perlu meneladan Yesus. Sebab, Yesus datang untuk melayani, bukan untuk dilayani.

Selain itu, Ekaristi menguatkan persaudaraan. Umat menerima Kristus yang sama dalam Komuni Kudus.

Dengan demikian, semangat Ekaristi perlu melahirkan persaudaraan dan persahabatan sejati di antara umat.***