Marcus Budi Santoso Kembali Pimpin Pemuda Katolik Lampung Periode 2019-2022

ALTUMNEWS.com, BANDARLAMPUNG – Marcus Budi Santoso kembali memimpin Komisariat Daerah (Komda) Pemuda Katolik (PK) Lampung. Ia terpilih secara aklamasi dalam Musyawarah Komisariat Daerah (Muskomda) IV.

Muskomda IV PK Komda Lampung berlangsung di Wisma Albertus, Bandarlampung, Minggu, 1 Desember 2019. Marcus akan memimpin organisasi untuk masa bakti 2019-2022.

Ketua Komda terpilih, Marcus, menyampaikan terima kasih kepada seluruh kader Pemuda Katolik. Ia juga mengajak para kader untuk terus bekerja sama.

“Terima kasih telah mempercayakan saya untuk kembali memimpin Komda Lampung tiga tahun ke depan. Saya berharap kerja sama dan keterlibatan teman-teman sekalian untuk terus bersama-sama memajukan Pemuda Katolik Lampung,” katanya.

Sementara itu, Pastor Moderator Pemuda Katolik, Romo Yohanes Kurniawan Jati, menyampaikan ucapan selamat. Ia berharap kepengurusan baru mampu memperkuat kaderisasi.

“Semoga PK semakin mampu membentuk kader generasi muda yang nasionalis. Dengan demikian, mereka mampu berkiprah lebih luas di bidang sosial kemasyarakatan,” harap Romo Jati.

Menurutnya, Pemuda Katolik juga perlu mencari cara baru. Langkah tersebut penting untuk menumbuhkan minat generasi muda terhadap organisasi.

Perjalanan Pemuda Katolik Lampung 2016-2019

Dalam Muskomda tersebut, Marcus juga memaparkan perjalanan Pemuda Katolik Komda Lampung selama tiga tahun. Ia mengapresiasi kerja keras seluruh pengurus.

“Saya sangat mengapresiasi yang sebesar-besarnya atas kerja keras tim komda, komcab dan komac. Mereka dengan tulus memperbaiki dan membesarkan Pemuda Katolik,” kata Marcus.

Selanjutnya, Marcus mengulas kebijakan Komda periode 2016-2019. Ia mengaitkannya dengan Arah Dasar Pastoral Keuskupan Tanjungkarang (ARDAS).

Menurut Marcus, Pemuda Katolik harus menjadi garam dan terang di tengah masyarakat. Karena itu, kader perlu membawa kesejukan melalui semangat toleransi dan persaudaraan.

“Kedua, dalam rangka konsolidasi organisasi, prioritas utama adalah pembentukan struktur sampai tingkat bawah. Penataan organisasi perlu dilakukan dari kabupaten, kecamatan, hingga desa,” lanjutnya.

Dengan struktur yang kuat, Pemuda Katolik dapat hadir lebih dekat dengan masyarakat. Selain itu, organisasi dapat menjawab persoalan hingga tingkat akar rumput.

“Ketiga, kebermanfaatan organisasi berbasis kewirausahaan bagi anggota. Kami juga mendorong kader untuk ber-UKM sebagai basic income keluarga dan kader,” pungkas Marcus.

Pemuda Katolik Diminta Perkuat Organisasi

Sementara itu, Pengurus Pusat Pemuda Katolik, Rudy Jong, menilai organisasi membutuhkan keseriusan. Selain itu, tata kelola organisasi juga harus berjalan dengan baik.

“Konsolidasi organisasi harus ada sampai level kecamatan. Tantangan dan peluang ke depan sangat kompleks. Di era milenial ini, Pemuda Katolik harus benar-benar memanfaatkannya dengan baik,” ujar Rudy.

Ia juga mengingatkan kader agar tidak tertinggal dalam menghadapi perkembangan zaman.

Pesan Uskup untuk Pemuda Katolik

Pada kesempatan tersebut, Uskup Keuskupan Tanjungkarang, Mgr. Yohanes Harun Yuwono, menyampaikan pesan kepada Pemuda Katolik. Ia mengajak kaum muda meneladani keberanian Maria.

Menurut Mgr. Harun, Maria berani mengambil risiko dan menerima tanggung jawab besar. Karena itu, kaum muda perlu memiliki keberanian serupa dalam menjalankan perutusannya.

“Kepada anggota Pemuda Katolik, harapannya jangan hanya tumbuh menjulang ke atas tanpa akar yang kuat. Kalau itu terjadi, angin akan menumbangkan kalian,” pesannya.

Selanjutnya, Mgr. Harun mengingatkan pentingnya mengenal sejarah dan akar budaya. Tanpa hal tersebut, generasi muda berisiko kehilangan pengalaman berharga dari para leluhur.

“Temukanlah kekayaan hidup masa lalu. Warisilah sebagai kekayaan diri dan gaya hidup. Itu adalah perbuatan kasih kepada mereka,” ajak Uskup.

Selain itu, Mgr. Harun mendukung berbagai kegiatan kaum muda. Ia juga meminta Pemuda Katolik melibatkan generasi muda lintas iman.

“Semua orang muda dari berbagai latar belakang sesungguhnya ada di hati Tuhan. Karena itu, harus ada juga di hati Gereja. Hal ini sesuai dengan isi dokumen persaudaraan insani Abu Dhabi,” pungkas Mgr. Harun.***