Kisah Panggilan Diakon Aris: Dari Rumbia hingga Menjadi Pelayan Tuhan

ALTUMNEWS.com, BANDARLAMPUNG – Arisyanto, atau Diakon Aris, lahir pada 6 Juli 1988 di Desa Reno Basuki, Kecamatan Rumbia, Lampung Tengah. Ia merupakan putra pertama pasangan Ignatius Sarmun dan mendiang Yasinta Sarti.

Ibunya wafat pada 2005. Aris memiliki seorang adik bernama Filipus Yeriko Heru Dita Anggi Setiawan.

Masa Kecil dan Awal Panggilan

Keluarga membaptis Aris di Gereja Katolik pada 25 Mei 1989. Ia menerima nama Fransiskus Arisyanto. Kemudian, pada 17 Juli 2005, ia menerima Sakramen Krisma.

Aris menempuh pendidikan dasar di SD Negeri 3 Reno Basuki, Kecamatan Rumbia. Pada masa itu, Pakde Surip dan putrinya, Estini, turut membimbing perjalanan imannya.

“Sebagai wali baptis, Pakde Surip telah memberikan banyak nasihat hidup. Berkat bimbingan mereka serta dukungan ibu dan ayah, saya sering mengikuti kegiatan menggereja,” kata Diakon Aris kepada Altumnews.com, Sabtu (21/11/2020).

Ia mengikuti sekolah minggu dan temu misdinar. Selain itu, Aris juga aktif membersihkan gereja dan lingkungan. Ia pun mengikuti doa lingkungan serta doa Rosario.

Dalam kehidupan sosial keluarga, keluarga Bapak Parlan dan Ibu Sutini juga memberi dukungan. Mereka kerap menghibur, menegur, dan menasihati keluarga Aris.

“Relasi kami tidak memiliki ikatan darah. Namun, kami terikat sebagai sesama transmigran dari Wonogiri, Jawa Tengah. Dari teladan keluarga Pakde Surip dan Bapak Parlan, saya belajar peduli serta peka untuk membantu,” jelasnya.

Panggilan Menjadi Imam

Perjalanan panggilan Aris juga mendapat pengaruh dari Suster-suster Kongregasi Hati Kudus Yesus (HK). Mereka berasal dari komunitas Seputih Banyak dan sering mengunjungi Stasi Rumbia.

“Kehadiran mereka membuat sejumlah anak tertarik menjadi imam, biarawan, atau biarawati. Saya termasuk salah satu dari anak-anak itu,” imbuhnya.

Namun, keinginan tersebut sempat meredup ketika Aris bersekolah di SMP Negeri 1 Rumbia. Saat itu, ia ingin menjadi guru seperti beberapa temannya.

Keinginan menjadi imam kembali melemah ketika ia duduk di bangku SMA. Apalagi, pada 2005, ibunya meninggal dunia.

Setelah lulus SMA pada 2006, Aris kembali memikirkan panggilan imamat. Pada akhir Desember 2006, ia mengikuti tes masuk Seminari Menengah Santo Paulus Palembang.

Kemudian, pada 17 Juni 2007, Aris resmi menjadi seminaris. Ia menjalani pembinaan selama dua tahun. Setelah itu, pada 2009, ia memutuskan menjadi calon imam diosesan Keuskupan Tanjungkarang.

Menjalani Pendidikan Seminari

Mgr. Andreas Henri Soesanta menerima Aris sebagai calon imam Keuskupan Tanjungkarang. Selanjutnya, Aris menjalani Tahun Orientasi Rohani Santo Markus di Pematangsiantar.

Pada 2011, ia melanjutkan pembinaan di Seminari Tinggi Santo Petrus, Pematangsiantar. Ia kemudian menempuh studi filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Santo Yohanes, Pematangsiantar.

Aris menyelesaikan studi filsafat pada 2015. Setelah itu, ia menjalani Tahun Orientasi Panggilan (TOP) pada 2015–2016.

Dalam masa tersebut, ia mendampingi anak-anak Asrama Putra Darussalam di Paroki Kabar Gembira, Kotabumi, Lampung Utara.

Selanjutnya, Aris kembali menjalani pembinaan di Seminari Tinggi Santo Petrus. Ia menyelesaikan studi teologi di STFT Pematangsiantar pada 2018.

Sejak Juli 2018 hingga Agustus 2019, Aris menjalani masa Pengenalan Pastoral (PenPas). Ia bertugas di Paroki Santo Yohanes Rasul, Kedaton.

“Syukur dan pujian saya haturkan kepada Tuhan. Masa pendidikan dan pembinaan berlangsung cukup panjang. Selain itu, saya juga menghadapi berbagai pergumulan,” ucapnya.

Tahbisan Diakon

Pada 20 Agustus 2019, Mgr. Yohanes Harun Yuwono menahbiskan Aris sebagai diakon. Tahbisan berlangsung di Paroki Santo Yusuf, Pringsewu.

Setelah itu, Aris menjalani masa diakonat di Paroki Santo Andreas Rasul, Marga Agung, Lampung Selatan. Ia mulai bertugas di sana pada 1 September 2019.

Menurut Aris, panggilan menjadi imam merupakan rahmat istimewa. Karena itu, ia terus berusaha menghidupi panggilan tersebut dengan setia.

Ia kemudian merumuskan tiga hal penting dalam perjalanan imamatnya. Pertama, ia ingin menjadi man of God atau manusia milik Allah.

“Seluruh diri saya harus saya peruntukkan bagi Allah. Allah menggunakan diri saya seutuhnya,” jelasnya.

Kedua, Aris ingin menjadi man for others. Artinya, ia menjalani imamat bukan untuk kepentingan dirinya sendiri atau keluarganya.

“Saya menjadi imam untuk karya keselamatan Allah. Saya juga ingin melayani Allah dalam karya kegembalaan. Karena itu, saya harus terus mendengarkan suara Allah melalui Sabda-Nya dalam Kitab Suci,” ungkapnya.

Ketiga, ia ingin menjalani imamat demi keselamatan jiwa-jiwa. Ia menyerahkan seluruh dinamika panggilannya kepada belas kasih Allah.

Motto Hidup Diakon Aris

Dari permenungan tersebut, Aris memilih motto hidup: “Serviens Domino Cum Omni Humilitate”. Artinya, “Aku melayani Tuhan dengan segala rendah hati” (Kis 20:19).

Menurutnya, motto tersebut terus mengingatkan dirinya pada peran banyak orang dalam perjalanan panggilannya.

Tuhan menghadirkan para imam Keuskupan Tanjungkarang, imam kongregasi, guru, dosen, keluarga, sahabat, dan umat beriman. Mereka semua ikut membimbing perjalanan hidupnya.

“Bimbingan itu saya terima dalam banyak bentuk. Ada sapaan, teguran, nasihat, kritik, maupun saran. Karena itu, saya belajar rendah hati. Saya juga belajar menerima arahan dan bimbingan,” pungkasnya.***