oleh

Profil Fransiskus Arisyanto, Yang Akan Ditahbis Menjadi Imam Pada Minggu 22 November 2020

ALTUMNEWS.com, BANDARLAMPUNG – Arisyanto, begitu nama kecil Diakon Arisyanto, lahir pada 6 Juli 1988 di Desa Reno Basuki, Kecamatan Rumbia, Kabupaten Lampung Tengah, Lampung. Dia lahir dari pasangan keluarga sederhana Ignatius Sarmun dan mendiang Yasinta Sarti (telah dipanggil Bapa tahun 2005).

Diakon Aris, begitu dia akrab disapa umat, adalah anak pertama dari dua bersaudara. Adiknya bernama Filipus Yeriko Heru Dita Anggi Setiawan. Kemudian, saya dibaptis di Gereja Katolik dengan nama Fransiskus Arisyanto pada 25 Mei 1989. Dan pada 17 Juli 2005, dia menerima Sakramen Krisma.

Diakon Aris menjalani pendidikan Sekolah Dasar di SD N 3 Reno Basuki, Kecamatan Rumbia. Dia mendapat bimbingan khusus dari Pakde Surip, Bapa seraninya dan Estini, anaknya.

“Sebagai wali baptis, Pakde Surip telah memberikan banyak nasihat hidup. Melalui  bantuan bimbingan mereka dan didukung oleh ibu dan ayah, saya sering ikut kegiatan menggereja: sekolah minggu, temu misdinar, membersihkan gereja dan lingkungannya, dan doa lingkungan atau doa Rosario,” kata Diakon Aris kepada Altumnews.com, Sabtu (21/11/2020).

Sedangkan kehidupan sosial-kekeluargaan, keluarga Diakon Aris dibantu oleh keluarga Bapak Parlan dan Ibu Sutini. “Mereka bersedia menghibur, menegur, dan menasihati kepada keluarga kami. Suatu relasi kekeluargaan tanpa ikatan darah, tetapi diikat dengan tali sesame transmigran dari Wonogiri, Jawa Tengah. Dari teladan keluarga Pakde Surip dan Bapak Parlan, saya belajar kepedulian, kepekaan untuk terlibat dan membantu,” jelasnya.

Diakon Fransiskus Arisyanto.

Menurut Diakon Aris, perjalanan singkat sejarah panggilannya juga tidak dapat dipisahkan dari keterlibatan Suster-suster dari Kongregasi Hati Kudus Yesus (HK) dari komunitas Seputih Banyak yang kerap berkunjung ke Stasi Rumbia.

“Kehadiran mereka telah memancing sejumlah anak-anak untuk tertarik menjadi imam, biarawan atau biarawati. Diantara anak-anak itu ialah saya,” imbuhnya.

Dikatakan Diakon Aris, keinginan menjadi imam sempat memudar pada saat sekolah di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Rumbia.

“Saat itu, saya sempat ingin menjadi guru seperti keinginan kebanyakan teman. Saat masa SMA, keinginan menjadi imam juga hampir memudar. Saya menghadapi masa yang tidak mudah. Tahun 2005, saat duduk di bangku kelas dua SMA, Ibu tercinta dipanggil menghadap Bapa di surga,” kata Diakon Aris.

Saat kelulusan SMA pada tahun 2006, lanjut Diakon Aris mengingatkannya untuk kembali melanjutkan keinginan menjadi imam.

“Dan pada akhir Desember 2006 saya mengikuti tes saringan di Seminari Menengah Santo Paulus Palembang. Pada 17 Juni 2007, saya pun resmi menjadi seminaris di Seminari Menengah Santo Paulus Palembang. Setelah menjalani proses pembinaan selama dua tahun, tahun 2009 saya memutuskan untuk menjadi calon imam diosesan Keuskupan Tanjungkarang,” ungkapnya.

Setelah diterima oleh Mgr. Andreas Henri Soesanta sebagai calon imam Keuskupan Tanjungkarang, Diakon Aris diutus untuk menjalani proses pembinaan di Tahun Orientasi Rohani Santo Markus, Pematangsiantar.

“Pada tahun 2011, saya kemudian melanjutkan pembinaan di Seminari Tinggi Santo Petrus, Pematangsiantar. Studi Filsafat saya tempuh di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Santo Yohanes, Pematangsiantar dari tahun 2011-2015,” terang Diakon.

Setelah menyelesaikan studi Filsafat tahun 2015-2016, lanjutnya, kemudian menjalani Tahun Orientasi Panggilan (TOP) dan mendampingi anak Asrama Putra Darussalam di Paroki Kabar Gembira, Kota Bumi, Lampung Utara.

“Proses pembinaan menjadi imam berlanjut lagi di STSP Pematangsiantar dan menyelesaikan studi Teologi dari tahun 2016 sampai 2018 di STFT Pematangsiantar. Setelah menyelesaikan pendidikan dan pembinaan di Pematangsiatar, sejak Juli tahun 2018 saya menjalani masa Pengenalan Pastoral (PenPas) di Paroki Santo Yohanes Rasul, Kedaton sampai Agustus tahun 2019,” kata Diakon Aris.

“Syukur dan pujian saya haturkan kepada Tuhan, karena masa-masa pendidikan dan pembinaan yang tidak sebentar dan pergumulan yang tidak mudah,” ucapnya dengan penuh rasa gembira.

“Syukur pula saya sampaikan kepada Tuhan karena pada 20 Agustus 2019, saya diperkenankan menerima tahbisan diakon dari tangan penuh berkat Mgr. Yohanes Harun Yuwono di Paroki Santo Yusuf, Pringsewu. Masa diakonat itu kemudian saya jalani di Paroki santo Andreas Rasul, Marga Agung, Lampung Selatan sejak 1 September 2019,” imbuhnya.

Menurut Dikon Aris, panggilan menjadi imam adalah rahmat istimewa yang boleh dirintis dan hidupi. Panggilan ini telah berlangsung dalam waktu yang tidak sebentar. Bahkan, atas dasar kesetiaan Allah kepada umat-Nya, panggilan ini kelak boleh dihidupi hingga akhir. Oleh sebab itu, saya merenungkan:

“Pertama, saya harus mengahayati hidup menjadi imam yang adalah man of God – manusianya Allah. Ini berarti bahwa seluruh diri saya diperuntukkan bagi Allah. Allah menggunakan diri saya seutuhnya. Hal mendasar pertama itu membawa saya pada hal mendasar kedua yakni, menjadi imam untuk orang lain atau yang disebut sebagai man for others.”

“Saya menjadi imam bukan untuk diri saya atau keluarga saya tetapi untuk karya keselamatan Allah, untuk melayani Allah dalam karya kegembalaan. Dan dengan demikian, saya selalu diingatkan untuk senantiasa mendengar suara Allah melalui Sabda-Nya dalam Kitab Suci.”

“Hal mendasar pertama dan kedua akhirnya mengantar saya pada poin ketiga yakni, imam yang hidup bukan untuk diri sendiri saja tetapi juga untuk keselamatan jiwa-jiwa sebagaimana dikehendaki Allah dalam karya keselamatan.

“Tentu seluruh dinamika panggilan saya, saya serahkan kepada belas kasih Allah sendiri. Gambaran imamat tersebut mengantar saya pada moto hidup yakni: Serviens Domino Cum Omni Humilitate (Aku melayani Tuhan dengan segala rendah hati) (Kis 20:19)/

Motto itu kata Diakon Aris, menyadarkannya bahwa Tuhan mengutus banyak orang untuk membimbing saya, seperti para imam Keuskupan Tanjungkarang dan para imam kongregasi, para guru dan dosen, keluarga besanya, sahabat dan teman-teman seperjalanan dan seperjuangan, serta seluruh umat beriman.

“Bimbingan itu saya terima dalam banyak rupa, seperti: sapaan, teguran, nasihat, kritik, maupun saran. Dengan demikian, saya belajar untuk rendah hati bahwa dalam kelemahan saya, saya bersedia untuk diarahkan dan dibimbing. Oleh sebab itu, motto ini saya jadikan sebagai penegur, pengingat, dan pemantik seluruh dinamika cara hidup saya,” pungkasnya.***

Editor : Robertus Bejo

Komentar