ALTUMNEWS.Com, BANDARLAMPUNG – Romo Yohanes Agus Susanto, Pr., lahir di Pagar Gading, Blambangan Pagar, Lampung Utara, pada 23 Agustus 1992.
Dalam keluarganya, Yohanes Agus tumbuh sebagai anak pertama dari dua bersaudara. Orang tuanya, Fransiscus Taryadi dan Fransisca Letari, turut membina iman sejak kecil.
Selain itu, Yohanes Agus berasal dari Stasi St. Isidorus Pagar Gading, Paroki Kabar Gembira Kotabumi.
Panggilan Imam Tumbuh Sejak Kecil
Sejak kecil, Yohanes Agus aktif mengikuti kegiatan gereja. Karena itu, pengalaman tersebut turut membentuk kehidupan iman dan panggilannya.
“Keinginan menjadi seorang Imam tidak terlepas dari pengalaman masa kecil dan iman yang dibina oleh keluarga saya. Ketika kecil saya aktif dan terlibat dalam kehidupan menggereja,” kata Yohanes Agus.
Ia menyampaikan hal tersebut melalui kanal YouTube Komsos Keuskupan Tanjungkarang, Selasa (16/11/2021).
Mengenal Kehidupan Imam Saat SMA
Kemudian, Yohanes Agus semakin mengenal kehidupan imam ketika bersekolah di SMA Xaverius Baturaja pada 2010.
Pada masa itu, ia bertemu dengan imam, diakon, frater, dan suster. Pengalaman tersebut kemudian kembali membangkitkan keinginannya untuk menjadi imam.
“Akhirnya saya memberanikan diri untuk menjadi seorang imam. Puji Tuhan, Tuhan yang memanggil senantiasa menemani perjalanan hidup saya,” ujarnya.
Selanjutnya, Yohanes Agus merasakan pendampingan Tuhan dalam setiap tahap perjalanan panggilannya.
“Tuhan yang memanggil pada akhirnya Tuhan juga yang akan menyelesaikan segala rencana baik-Nya,” paparnya.
Tergerak karena Minim Panggilan Imam
Di sisi lain, Yohanes Agus melihat sedikit kaum muda yang memilih jalan imamat. Karena kondisi itu, ia semakin terdorong untuk menjawab panggilan Tuhan.
“Saya ingin menjadi imam karena sedikit sekali panggilan kaum muda untuk menjadi Imam,” ungkapnya.
Menurutnya, panggilan tersebut membutuhkan keberanian dan kesediaan untuk melayani. Oleh sebab itu, ia memilih menjalani panggilan tersebut dengan penuh keyakinan.
“Ini Aku, Utuslah Aku”
Dalam menjalani panggilannya, Yohanes Agus memilih motto “Ini aku, utuslah aku.”
Bagi Yohanes Agus, motto tersebut menjadi semangat dalam menjalankan tugas pelayanan. Dengan motto itu, ia menyatakan kesiapan untuk pergi ke mana pun Tuhan mengutusnya.
“Ke mana saya diutus, ke mana saya ditugaskan, hanya ada satu jawaban. ‘Tuhan, ini aku. Ke mana aku pergi, aku siap untuk diutus’,” tegasnya.
Dengan demikian, Yohanes Agus ingin menjalani panggilan imamat sebagai bentuk kesediaan untuk melayani. Pada akhirnya, ia menyerahkan seluruh perjalanan panggilannya kepada Tuhan.***





