Tema: Penjala Ikan Menjadi Penjala Manusia
Lukas 5:1–11
Subtema: Setiap Orang Katolik Dipanggil dan Diutus Mewartakan Injil
(Fransiskus de Sales Widodo)
Tanda Salib
P: Dalam Nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus.
U: Amin.
P: Tuhan beserta kita.
U: Sekarang dan selama-lamanya.
Pengantar
Para anggota keluarga yang dikasihi dan mengasihi Tuhan, kita kembali berkumpul untuk membaca, mendengarkan, dan merenungkan Sabda Allah dalam Kitab Suci.
Tema BKSN 2022 adalah “Allah Sumber Harapan Hidup Baru.” Selama Bulan Kitab Suci Nasional, khususnya pada Minggu pertama, kita mendalami tema “Allah Sumber Harapan untuk Menangkis Mentalitas Keagamaan Palsu” berdasarkan Amos 5:4–6.
Tema tersebut dapat kita renungkan bersama, baik sebagai Gereja Rumah Tangga maupun bersama jemaat selingkungan dan kelompok KBG. Sementara itu, Kalender Liturgi harian menghadirkan bacaan dari Injil Lukas 5:1–11.
Melalui bacaan tersebut, Lukas mengisahkan Simon, seorang penjala ikan, yang Yesus panggil dan pilih menjadi penjala manusia. Karena itu, kita diajak menyadari bahwa setiap orang Katolik juga menerima panggilan untuk mewartakan Injil.
Doa Pembuka
Marilah kita berdoa. (hening sejenak)
Tuhan Yesus Kristus, Engkau memanggil Simon, seorang penjala ikan, untuk menjadi penjala manusia. Kerendahan hati dan ketaatannya pada perintah-Mu membuahkan hasil yang gemilang.
Kini, Engkau pun memanggil kami menjadi orang Katolik melalui Sakramen Baptis. Melalui panggilan itu, Engkau memberi kami tugas untuk mewartakan Injil.
Karena itu, berilah kami kemampuan untuk meneladani kerendahan hati dan ketaatan Simon. Semoga kami mampu menunaikan tugas perutusan dengan setia dan menghasilkan buah yang menggembirakan.
Sebab Engkaulah Tuhan kami, kini dan sepanjang masa. Amin.
Bacaan
Lukas 5:1–11
P: Semoga Tuhan beserta kita.
U: Sekarang dan selama-lamanya.
P: Inilah Injil Suci menurut Lukas.
U: Terpujilah Kristus.
Renungan
Keberhasilan tentu membawa kegembiraan. Orang yang berhasil biasanya bersukacita dan mengucap syukur kepada Tuhan. Sebaliknya, kegagalan dapat menghadirkan kesedihan, kekecewaan, bahkan keputusasaan. Simon juga mengalami keadaan tersebut.
Simon gagal menangkap ikan setelah bekerja sepanjang malam. Setelah selesai mengajar, Yesus datang kepadanya. Yesus lalu meminta Simon bertolak ke tempat yang dalam dan menebarkan jala.
Simon menjawab, “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga” (Luk 5:5).
Simon kemudian menaati perkataan Yesus. Hasilnya, ia menangkap begitu banyak ikan hingga jalanya mulai koyak. Karena itu, ia meminta bantuan teman-temannya. Mereka datang dan memenuhi kedua perahu dengan ikan.
Belajar dari Ketaatan Simon
Melihat mukjizat tersebut, Simon tersungkur di depan Yesus. Ia mengakui kelemahan dan keberdosaannya.
Simon berkata, “Tuhan, pergilah daripadaku, karena aku ini seorang berdosa” (Luk 5:8).
Namun, Yesus tidak meninggalkan Simon. Sebaliknya, Yesus memberinya tugas baru.
“Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia” (Luk 5:10).
Kisah ini mengajarkan bahwa kegagalan tidak perlu membuat kita kehilangan harapan. Tuhan tetap hadir ketika hidup terasa berat. Akan tetapi, terkadang kesedihan membuat kita sulit mengenali kehadiran-Nya.
Karena itu, kita perlu membuka hati. Kita juga perlu bersikap rendah hati dan mendengarkan suara Tuhan. Dengan demikian, kita dapat melihat pertolongan-Nya pada waktu yang tepat.
Simon memberikan teladan yang baik. Ia memang sedih karena gagal menangkap ikan. Namun, ia tidak larut dalam kesedihan. Sebaliknya, Simon mendengarkan Yesus dan menaati perintah-Nya.
Ia berkata, “Karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga” (Luk 5:5).
Tuhan Memanggil Kita
Mukjizat yang Simon alami membuatnya berani mengakui kelemahan dan dosanya. Setelah itu, Yesus mengubah pengalaman tersebut menjadi sebuah panggilan.
Demikian pula dengan hidup kita. Sukses dan gagal dalam pekerjaan merupakan bagian dari kehidupan manusia. Karena itu, kita tidak perlu menyerah ketika menghadapi kegagalan.
Yang terpenting, kita tetap mengandalkan Tuhan. Dia hadir dalam setiap langkah kehidupan kita. Dia juga menyertai setiap perjuangan dan mendengarkan setiap doa.
Maka, marilah kita terus membuka hati kepada Tuhan. Di setiap langkah ada penyertaan-Nya. Di setiap napas ada kehidupan. Selain itu, di setiap harapan ada kekuatan untuk melangkah. Dalam setiap doa, kita percaya bahwa Tuhan menyediakan jawaban terbaik.
Tuhan memberkati.
Doa Umat
Doa dapat disampaikan secara spontan sesuai kebutuhan, antara lain:
- Bagi kepentingan pemerintah.
- Bagi kepentingan Gereja.
- Bagi kepentingan keluarga.
- Bagi orang-orang yang menderita.
Selanjutnya, kita mendoakan “Doa dalam Kegagalan” (PS No. 136).
Bapa Kami
Marilah kita satukan doa, harapan, dan keinginan kita dengan doa yang diajarkan oleh Yesus.
Bapa kami yang ada di surga…
Doa Penutup
Marilah kita berdoa. (hening sejenak)
Tuhan Yesus Kristus, kami bersyukur kepada-Mu karena Engkau memanggil Simon menjadi penjala manusia. Simon memiliki pribadi yang rendah hati, terbuka, taat, dan setia.
Kami pun telah Engkau panggil menjadi murid-Mu melalui Sakramen Baptis. Melalui pembaptisan itu, Engkau menjadikan kami para utusan-Mu.
Karena itu, berilah kami kemampuan untuk menjadi pribadi yang terbuka, rendah hati, taat, dan setia kepada-Mu. Semoga kami mampu menjalankan tugas perutusan untuk mewartakan Injil.
Rahmat-Mu memampukan kami untuk mewartakan Injil dengan penuh semangat. Semoga semakin banyak orang mengenal Injil-Mu dan menyambut-Mu sebagai Juru Selamat.
Demi kasih karunia-Mu, kini dan sepanjang masa. Amin.
Mohon Berkat
P: Semoga Tuhan beserta kita.
U: Sekarang dan selama-lamanya.
P: Ibadat kita sudah selesai. Semoga kita sekalian dilindungi dan dibimbing oleh berkat Allah yang Mahakuasa. Dalam Nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.***





