Tema: Puasa (Luk. 5:33–39)
Subtema: Aku Suka Berpuasa
(Fransiskus de Sales Widodo)
Tanda Salib
P: Dalam Nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus.
U: Amin.
P: Semoga Tuhan beserta kita.
U: Sekarang dan selama-lamanya.
Pengantar
Para anggota keluarga yang dikasihi dan mengasihi Tuhan, kita kembali berkumpul untuk melanjutkan pendalaman iman dalam Bulan Kitab Suci Nasional. Kali ini, kita akan membaca, mendengarkan, dan merenungkan Sabda Tuhan dari Injil Lukas 5:33–39.
Penginjil Lukas mengisahkan pertanyaan orang-orang kepada Yesus. Mereka bertanya mengapa murid-murid Yesus tidak berpuasa. Sementara itu, murid-murid orang Farisi dan murid-murid Yohanes berpuasa.
Yesus kemudian menjawab mereka, “Dapatkah sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa, sedang mempelai itu bersama mereka? Tetapi akan datang waktunya, apabila mempelai itu diambil dari mereka, pada waktu itulah mereka akan berpuasa.”
Lalu, kapan waktu yang tepat untuk berpuasa? Gereja menetapkan masa Prapaskah sebagai masa khusus untuk berpuasa, berdoa, dan bertobat.
Doa Pembuka
Marilah kita berdoa, (hening sejenak).
Tuhan Yesus Kristus, Gereja-Mu mengajarkan bahwa puasa merupakan ungkapan tobat. Selain itu, puasa juga menjadi bentuk doa yang hangat kepada Allah.
Karena itu, bantulah kami agar mampu menjalankan puasa dengan baik dan benar. Karuniakanlah kepada kami kekuatan untuk menjalankannya dengan tulus.
Semoga puasa yang kami lakukan menghasilkan buah pertobatan sejati. Dengan demikian, kami semakin mengasihi Allah dan sesama.
Doa ini kami panjatkan kepada-Mu karena Engkaulah yang berkuasa bersama Bapa dan Roh Kudus. Engkau hidup dan meraja sepanjang segala masa. Amin.
Bacaan
Lukas 5:33–39
P: Semoga Tuhan beserta kita.
U: Sekarang dan selama-lamanya.
P: Inilah Injil Suci menurut Lukas.
U: Terpujilah Kristus.
Renungan: Makna Puasa bagi Umat Katolik
Puasa merupakan ungkapan tobat. Selain itu, puasa juga menjadi bentuk doa yang hangat. Dalam tradisi Gereja, umat menjalankan puasa sebagai persiapan menyambut perayaan besar, terutama Paskah.
Sejak dahulu, para katekumen menjalankan puasa sebelum menerima Sakramen Baptis. Selanjutnya, seluruh umat beriman ikut mendampingi mereka melalui doa dan puasa.
Gereja menetapkan Prapaskah sebagai masa khusus untuk berpuasa. Namun, Gereja hanya menetapkan dua hari puasa wajib selama masa tersebut. Kedua hari itu ialah Rabu Abu dan Jumat Agung.
Khusus pada Jumat Agung, Gereja mengajak umat menjalankan puasa dengan sungguh-sungguh. Jika memungkinkan, umat dapat memperpanjang puasa hingga Sabtu Suci sesuai ketentuan Gereja.
Selain itu, Gereja menghargai umat yang memilih menjalankan puasa selama 40 hari menjelang Paskah. Mereka meneladan cara berpuasa Musa, Elia, dan terutama Yesus.
Sementara itu, umat juga dapat memilih hari-hari tertentu untuk berpuasa secara pribadi. Dengan cara tersebut, umat dapat mengungkapkan pertobatan dan menjalankan laku tapa.
Puasa juga membantu kita membangun pengendalian diri. Lebih dari itu, puasa menumbuhkan semangat solidaritas dengan sesama yang berkekurangan.
Pantang dan Doa
Di samping puasa, Gereja juga mengajarkan kebiasaan berpantang. Umat menjalankan pantang setiap hari Jumat sepanjang tahun. Namun, aturan tersebut tidak berlaku jika hari Jumat bertepatan dengan hari raya gerejawi.
Selanjutnya, pada hari puasa dan pantang, umat meluangkan lebih banyak waktu untuk berdoa dan beribadat. Umat juga dapat menjalankan karya amal serta berbagai bentuk pertobatan.
Selain itu, Gereja mengajarkan pantang selama satu jam sebelum umat menyambut Sakramen Mahakudus.
Dengan demikian, puasa dan pantang tidak hanya berkaitan dengan makanan. Keduanya juga mengajak kita memperbaiki hidup, mengendalikan diri, dan memperhatikan kebutuhan sesama.
Yesus Mengajarkan Cara Berpuasa
Yesus juga mengajarkan cara menjalankan puasa. Dalam Injil Matius 6:16–18, Yesus mengingatkan para murid agar tidak menunjukkan kesedihan ketika berpuasa.
Sebaliknya, Yesus mengajak mereka tetap tampil wajar. Dengan demikian, orang lain tidak perlu mengetahui bahwa mereka sedang berpuasa.
Yesus menegaskan bahwa Bapa melihat apa yang tersembunyi. Karena itu, kita tidak perlu mencari pujian manusia ketika menjalankan puasa.
Pada akhirnya, puasa mengarahkan hati kita kepada Allah. Melalui puasa, kita belajar bertobat, mengendalikan diri, dan berbagi dengan sesama.
Doa Umat
Doa umat dapat kita sampaikan secara spontan sesuai dengan kebutuhan Gereja, antara lain:
- Untuk kepentingan pemerintah.
- Untuk kepentingan Gereja.
- Untuk kepentingan keluarga.
- Untuk kepentingan masyarakat.
Selanjutnya, doa umat dilanjutkan dengan Doa Kasih (PS No. 24).
Bapa Kami
Marilah kita satukan segala ujub, doa, harapan, dan keinginan kita dalam doa yang diajarkan oleh Sang Guru sejati.
Bapa kami yang ada di surga…
Doa Penutup
Marilah kita berdoa, (hening sejenak).
Ya Tuhan, kami bersyukur kepada-Mu karena melalui Gereja-Mu Engkau mengajar kami menjalankan puasa dengan baik dan benar.
Kami memahami bahwa puasa dan pantang merupakan ulah rohani sekaligus ungkapan pertobatan. Karena itu, tolonglah kami agar rajin dan tekun menjalankannya.
Semoga puasa dan pantang membantu kami menghasilkan buah pertobatan. Selain itu, semoga keduanya semakin mendekatkan kami kepada-Mu dan kepada sesama.
Kami memohon semua ini kepada-Mu karena Engkaulah yang berkuasa bersama Bapa dan Roh Kudus. Kini dan sepanjang masa. Amin.
Mohon Berkat
P: Semoga Tuhan beserta kita.
U: Sekarang dan selama-lamanya.
P: Ibadat kita sudah selesai. Semoga kita sekalian mendapat perlindungan dan bimbingan Allah yang Mahakuasa. Dalam Nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. Amin.***





