Dari Dermaga Canti Menuju Pesona Sebesi, Sebuku, dan Krakatau

ALTUMNEWS.Com, LAMPUNG SELATAN – Di ujung Desa Canti, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, sebuah dermaga kayu sederhana berdiri menghadap laut. Meski tampak kecil dan tak seberapa megah, Dermaga Canti adalah urat nadi pergerakan warga dan wisatawan menuju pulau-pulau indah di Teluk Lampung. Setiap hari, terutama saat akhir pekan, pelabuhan ini tak pernah benar-benar sepi.

Pukul 08.00 WIB, satu per satu kuli panggul mulai berdatangan. Tak lama, kapal motor dari Pulau Sebesi terlihat mendekat di kejauhan. Sesuai jadwal, kapal akan sandar sekitar pukul 09.00 hingga 09.30 WIB. Aktivitas mulai memuncak: penumpang turun, barang diturunkan, dan dermaga berubah menjadi titik temu antara kebutuhan warga, arus logistik, dan geliat wisata.

“Setiap hari tiga kapal motor sandar di sini. Pagi dari Sebesi, siang kembali lagi. Rata-rata ya 50 sampai 60 penumpang kalau kapal besar, 35-an kalau kecil,” ujar Ahmad Santawi (48), awak kapal yang akrab disapa Mat Ahong, saat ditemui Altumnews.com di Dermaga Canti pada Minggu (15/6/2025).

Kapal-kapal ini melayani rute ke Pulau Sebesi dan Gunung Anak Krakatau, sementara perahu tradisional jenis Ting Ting melayani penyeberangan ke Pulau Sebuku. Tarif reguler cukup terjangkau: Rp25 ribu per orang, baik tujuan Sebesi maupun Sebuku. Termasuk untuk kendaraan roda dua.

Namun, suasana berbeda terlihat di akhir pekan. Wisatawan berdatangan dari berbagai daerah, membawa serta energi baru yang menghidupkan pelabuhan kecil ini. Dermaga yang biasanya lengang saat hari biasa, tiba-tiba dipenuhi antrean penumpang, pedagang makanan ringan, hingga para pemandu wisata.

“Ramainya memang Sabtu dan Minggu. Banyak yang mau ke Sebesi atau langsung ke Krakatau. Kalau wisata, kapal bisa disewa sampai Rp4,5 juta tergantung jumlah orang,” kata Mat Ahong.

Di balik aktivitas dermaga, ada sistem rotasi kapal yang rapi. Dari 12 kapal milik warga Pulau Sebesi, hanya tiga yang beroperasi tiap hari secara bergiliran, membawa penumpang dari tiga dusun di pulau tersebut: Segenom, Tejang, dan Regahan Lada. Dermaga di Tejang sudah permanen, sementara Regahan Lada masih memakai dermaga papan, seperti Canti.

Tak hanya mengangkut manusia, aktivitas di dermaga ini juga mencerminkan denyut ekonomi masyarakat pesisir. Ada yang mengangkut sayuran, beras, hingga hasil laut. Parkir kendaraan di sekitar dermaga juga menjadi pemasukan warga: Rp25 ribu untuk motor dan Rp50 ribu untuk mobil.

Meski tak sebesar pelabuhan komersial lainnya, Dermaga Canti menjadi pusat perlintasan penting di selatan Lampung. Ia bukan sekadar tempat menurunkan dan menaikkan penumpang—ia adalah simpul kehidupan sosial, ekonomi, dan wisata yang terus bergerak, dari pagi hingga sore, dari hari ke hari.

“Kadang dermaga kecil seperti ini luput dari perhatian. Padahal dari sinilah orang bisa menjangkau pulau-pulau yang indah itu,” ujar Mat Ahong sambil membantu mengikat kapal yang baru saja merapat.

Dermaga Canti, kecil namun vital, adalah bukti bahwa denyut kehidupan bisa datang dari tempat-tempat yang sederhana—selama masih ada kapal yang bersandar, orang-orang yang datang dan pergi, serta laut yang tak pernah berhenti mengalun.***