Jihan Nurlela Dorong Penanggulangan TBC Lampung Dilakukan Masif, Kasus Belum Banyak Ditemukan

ALTUMNEWS.Com, BANDAR LAMPUNG — Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela mendorong penanggulangan tuberkulosis (TBC) di Lampung dilakukan secara masif. Ia meminta seluruh unsur masyarakat ikut bergerak menemukan kasus TBC.

Jihan menilai penanganan TBC bukan hanya tanggung jawab tenaga kesehatan. Pemerintah daerah, aparat, organisasi profesi, komunitas, hingga masyarakat harus ikut mengambil peran.

“Ini bukan tugas insan kesehatan saja, tetapi seluruh stakeholder, seluruh lapisan masyarakat. Saya ingin gerakannya seperti gerakan Pekan Imunisasi Nasional pada saat dulu,” ujar Jihan.

Jihan menyampaikan hal tersebut saat meluncurkan website Peduli TB Lampung. Ia juga mengukuhkan Koalisi Organisasi Profesi Indonesia Tuberkulosis (KOPI TB) se-Provinsi Lampung Tahun 2026.

Kegiatan berlangsung di Hotel Emersia, Bandar Lampung, Jumat (4/9/2026).

Wakil Menteri Kesehatan dr. Benjamin Paulus Octavianus, Sp.P, FISR turut menghadiri kegiatan tersebut. Hadir pula Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Marindo Kurniawan.

Jajaran pemerintah daerah, tenaga kesehatan, rumah sakit, organisasi profesi, komunitas, dan NGO juga mengikuti acara tersebut.

Kasus TBC Lampung Masih Banyak Belum Ditemukan

Jihan menyebut estimasi kasus TBC di Lampung mencapai 30.745 kasus pada 2026. Namun, hingga akhir Agustus 2026, petugas baru menemukan sekitar 38 persen dari estimasi tersebut.

Data itu menunjukkan masih terdapat kesenjangan besar dalam penemuan kasus TBC di Lampung. Pemerintah pun perlu memperkuat deteksi sejak dini.

Jihan mengatakan persoalan TBC bukan hanya soal ketersediaan obat. Pemerintah juga harus menemukan penderita sedini mungkin.

Petugas perlu memastikan pasien menyelesaikan pengobatan. Mereka juga harus memeriksa anggota keluarga dan orang yang memiliki kontak erat.

Selain itu, tenaga kesehatan perlu memberikan terapi pencegahan kepada orang yang memenuhi syarat.

“Ketika satu kasus tuberkulosis ditemukan secara terlambat, dampaknya tidak berhenti pada satu pasien saja. Ia mempunyai konsekuensi terhadap keluarga, terhadap lingkungan, produktivitas pun,” ujar Jihan.

Pemprov Lampung Libatkan Masyarakat

Pemprov Lampung mendorong keterlibatan berbagai unsur dalam menemukan kasus TBC. Camat, lurah, RT, RW, Babinsa, dan Bhabinkamtibmas ikut berperan.

TNI dan Polri juga dapat membantu gerakan tersebut. Fasilitas kesehatan dan masyarakat menjadi bagian penting dalam penemuan kasus.

Jihan menilai kerja lintas sektor dapat mempercepat penemuan penderita TBC. Pola tersebut juga dapat membantu pemerintah memutus rantai penularan.

Lampung memiliki 13 kabupaten dan dua kota. Wilayah itu mencakup 229 kecamatan dan ribuan desa.

Jumlah penduduk Lampung mencapai sekitar 9,5 juta jiwa. Sebanyak 69 persen penduduk berada dalam usia produktif.

Karena itu, penularan TBC dapat memengaruhi produktivitas masyarakat. Penyakit tersebut juga dapat menimbulkan dampak sosial dan ekonomi bagi keluarga.

Seluruh Fasilitas Kesehatan Diminta Aktif Temukan Kasus

Lampung memiliki jaringan fasilitas kesehatan yang cukup luas. Jaringan tersebut mencakup rumah sakit, puskesmas, klinik, hingga fasilitas kesehatan TNI dan Polri.

Lampung memiliki sembilan rumah sakit pemerintah dan 63 rumah sakit swasta. Selain itu, terdapat 322 puskesmas dan 560 klinik TPMD.

Lampung juga memiliki 15 klinik lapas atau rutan serta dua rumah sakit TNI/Polri.

Jihan meminta seluruh fasilitas tersebut tidak hanya mengobati pasien. Fasilitas kesehatan juga harus aktif menemukan kasus TBC dan memutus rantai penularan.

Pemprov Targetkan RAD dan TP2TB Aktif

Pemprov Lampung mendorong seluruh kabupaten dan kota menyusun Rencana Aksi Daerah (RAD) Penanggulangan TBC.

Pemerintah daerah juga perlu mengaktifkan Tim Percepatan Penanggulangan Tuberkulosis (TP2TB).

Jihan meminta setiap daerah menerjemahkan rencana tersebut menjadi program nyata. Pemerintah juga harus menetapkan target, pembiayaan, dan indikator yang jelas.

“Kita terus mendorong seluruh kabupaten/kota memiliki rencana aksi daerah penanggulangan tuberkulosis dan tim percepatan penanggulangan tuberkulosis atau TP2TB yang benar-benar aktif,” katanya.

Pemprov Lampung juga akan memperkuat pengawasan. Jihan mendorong rapat koordinasi berlangsung secara berkala.

Pemprov Lampung telah berkoordinasi dengan 15 kabupaten dan kota. Pemerintah akan melanjutkan koordinasi tersebut setiap pekan.

Peduli TB Lampung Perkuat Skrining TBC

Pemprov Lampung memperkenalkan platform Peduli TB Lampung untuk memperkuat penemuan kasus. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) ikut menggagas inovasi tersebut.

Platform ini membantu masyarakat melakukan skrining awal secara mandiri. Pemerintah juga ingin mengintegrasikan skrining TBC dengan program Cek Kesehatan Gratis (CKG).

Uji coba Peduli TB Lampung telah berlangsung di RSUD Abdul Moeloek. Dinas Kesehatan Provinsi Lampung dan RS Muhammadiyah Metro juga ikut menjalankan uji coba.

Program tersebut telah menjangkau lebih dari 1.000 orang. Jihan ingin pemerintah memperluas jangkauan platform tersebut.

Pemprov Lampung juga ingin menyasar masyarakat yang masuk melalui bandara dan pelabuhan. Langkah itu bertujuan memperluas deteksi kasus TBC.

Ratusan Rumah Pasien TBC Masuk Program Perbaikan

Pemprov Lampung juga memperhatikan kondisi tempat tinggal pasien TBC dari keluarga tidak mampu.

Pemerintah telah mengajukan 367 usulan rumah tidak layak huni (RTLH) bagi pasien TBC. Dari jumlah tersebut, 217 usulan telah terverifikasi sebagai calon penerima.

Program tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memperbaiki lingkungan tempat tinggal pasien. Lingkungan yang lebih sehat dapat mendukung proses pengobatan dan mengurangi risiko penularan.

Investigasi Kontak TBC Lampung Masih Perlu Ditingkatkan

Pemprov Lampung juga memperkuat investigasi kontak. Saat ini, capaian investigasi kontak kasus bakteriologis mencapai sekitar 63 persen.

Angka tersebut masih berada di bawah target 90 persen. Karena itu, Jihan meminta petugas meningkatkan pemeriksaan kontak erat.

Setiap pasien TBC yang ditemukan harus segera ditindaklanjuti. Petugas perlu memeriksa anggota keluarga dan orang yang sering berinteraksi dengan pasien.

Pemeriksaan tersebut penting untuk menemukan kasus lain secara lebih cepat. Petugas juga dapat memberikan terapi pencegahan kepada orang yang memenuhi kriteria.

Wamenkes Sebut Pengobatan TBC Lampung Capai 92 Persen

Wakil Menteri Kesehatan dr. Benjamin Paulus Octavianus menilai Lampung memiliki kinerja pengobatan TBC yang baik.

Ia menyebut tingkat keberhasilan pengobatan TBC di Lampung mencapai sekitar 92 persen. Angka tersebut termasuk yang tertinggi secara nasional.

“Kalau perkara ngobatin sudah pasti bagus. Keberhasilan pengobatan TBC juga bagus, Lampung 92 persen, bahkan nomor satu di Indonesia,” kata Benjamin.

Namun, keberhasilan pengobatan saja belum cukup. Pemerintah tetap harus meningkatkan penemuan kasus dan pencegahan penularan.

Kementerian Kesehatan menyiapkan pemeriksaan menggunakan x-ray portable dan NPOC. Teknologi tersebut akan membantu petugas menemukan kasus TBC secara aktif.

Kemenkes Siapkan Pemeriksaan di 1.571 Titik

Kementerian Kesehatan akan menjalankan pemeriksaan aktif di 15 kabupaten dan kota di Lampung.

Pemeriksaan tersebut menyasar sekitar 1.571 titik lokasi. Kemenkes juga menyiapkan 26 unit x-ray portable.

Selain itu, Kemenkes menyiapkan NPOC untuk mendukung pemeriksaan di 322 puskesmas di Lampung.

Dukungan tersebut akan memperkuat upaya penemuan kasus TBC. Pemerintah dapat bergerak lebih cepat setelah menemukan penderita.

Lampung Kejar Eliminasi TBC 2030

Jihan menegaskan penanggulangan TBC membutuhkan kerja lapangan yang terstruktur. Pemerintah harus bergerak mulai dari penemuan kasus hingga pengobatan.

Petugas juga harus melakukan investigasi kontak. Terapi pencegahan dan perbaikan lingkungan pasien juga harus berjalan.

“Kita semua mempunyai cara pandang yang sama bahwa eliminasi tuberkulosis tidak akan tercapai hanya dengan mengobati,” ujar Jihan.

Jihan berharap Lampung dapat menjadi salah satu provinsi yang memimpin percepatan eliminasi TBC di Indonesia. Target tersebut sejalan dengan cita-cita Indonesia bebas TBC pada 2030.

Pemprov Lampung ingin melindungi keluarga dan masyarakat dari penularan TBC. Pemerintah juga ingin menjaga penduduk usia produktif tetap sehat dan produktif.

Semakin cepat petugas menemukan kasus, semakin cepat pasien mendapat pengobatan. Pemeriksaan kontak dan terapi pencegahan juga dapat membantu menekan penularan TBC di Lampung.

Dengan gerakan bersama, Pemprov Lampung optimistis penanggulangan TBC dapat berjalan lebih efektif. Upaya tersebut menjadi bagian penting menuju Lampung bebas TBC dan Indonesia bebas TBC 2030.***