Pagi tadi Bakauheni menyambutku,
dengan laut yang murung
dan angin yang membawa asin kehilangan.
Aku hendak menuju Merak,
tetapi entah mengapa,
yang kutemui justru dirimu.
Di antara manusia yang bergegas,
wajahmu berkelebat ke sana kemari.
Switer birumu masih saja hidup
di sudut-sudut ingatanku.
Barangkali aku yang tak selesai,
atau kenangan yang enggan menjadi bangkai.
Aku ingat perjalanan kita dahulu.
Kita sengaja memilih jalan darat,
memanjangkan jarak,
mengulur waktu,
sebab perpisahan terlalu lekas datang
bagi dua manusia yang sedang jatuh cinta.
Kini aku kembali menyeberangi laut,
tanpa tanganmu, tanpa suaramu.
Kapalnya memang berbeda,
tetapi bayanganmu tetap ada.
Rupanya, manusia bisa pergi,
tetapi kenangan tak mengenal keberangkatan.
Barangkali inilah cinta sejati:
seseorang pergi membawa hidupnya,
seseorang tinggal memelihara lukanya.
Yang satu telah sampai pada hari esok,
yang lain masih tertahan di masa silam.
Entah anugerah atau kemalangan,
aku tak lagi ingin mempersoalkannya.
Sebab aku bukan batu,
bukan pula tokoh roman
yang sanggup menderita sepanjang cerita.
Aku manusia biasa.
Ada lelah yang tak bisa ditawar,
ada rindu yang mulai kehilangan guna.
Aku ingin hidup seperti manusia lainnya,
menikmati pagi tanpa wajahmu,
menatap laut tanpa mengenang kita.
Sudahlah,
aku tak meminta kau kembali.
Aku hanya ingin bayanganmu berhenti
mengikutiku ke mana-mana.
Sebab pagi ini aku hendak menyeberang,
dari Bakauheni menuju Merak,
bukan menuju masa lalu.
Kau telah pergi meninggalkan hidupku.
Jangan pula kau rampas
sisa hidup yang masih harus kujalani.
Puisi ini ditulis Robertus Bejo pada Sabtu, 27 April 2019.





