ALTUMNEWS.com, BANDAR LAMPUNG – Taruna Siaga Bencana atau Tagana merupakan relawan sosial. Secara khusus, mereka berasal dari masyarakat dan memiliki kepedulian terhadap penanggulangan bencana.
Lantas, apa itu Tagana Rajawali? Selain itu, apakah Tagana Rajawali sama dengan Taruna Siaga Bencana?
Mengenal Tagana Rajawali
Dalam video yang diterima Altumnews.com, Rabu, 17 Juli 2019, Koordinator Tagana Rajawali Provinsi Lampung Billy Moningka mewawancarai drg. Kristina Hutagaol, MARS.
Dalam wawancara tersebut, drg. Kristina menjelaskan sejarah Tagana Rajawali. Menurutnya, Tagana merupakan relawan resmi pemerintah yang dibina Kementerian Sosial Republik Indonesia.
Pada dasarnya, Tagana juga berbasis masyarakat. Namun, seiring perkembangannya, sejumlah unsur masyarakat ikut bergabung. Salah satunya berasal dari unsur Gereja.
“Taruna Siaga Bencana itu sebenarnya adalah relawan resmi pemerintah. Relawan ini dibina oleh Kementerian Sosial Republik Indonesia.
Selanjutnya, Tagana berkembang sebagai relawan berbasis masyarakat. Dalam perkembangannya, beberapa unsur masyarakat ikut ambil bagian. Salah satunya dari unsur Gereja,” jelas drg. Kristina.
Asal-usul Nama Tagana Rajawali
Selanjutnya, drg. Kristina menjelaskan asal-usul nama Tagana Rajawali. Menurutnya, istilah tersebut muncul pada 2007.
Pada waktu itu, Direktur Bantuan Korban Bencana Alam Kementerian Sosial memberikan tambahan nama “Rajawali”. Nama tersebut kemudian melekat pada kelompok Tagana.
“Kemudian kita bergabung dan berlatih bersama. Pada waktu itu, Direktur Bantuan Korban Bencana Alam, Bapak Andi, memberikan nama Rajawali kepada kami,” jelas drg. Kristina.
Dengan demikian, istilah Tagana Rajawali memiliki sejarah tersendiri. Nama tersebut lahir dari proses pembinaan dan latihan bersama.
Pelopor Tagana Rajawali
Selain itu, ibunda drg. Kristina, Hutagaol, menjadi salah satu pelopor Tagana Rajawali. Pada 2007, pemerintah juga membentuk Undang-Undang Penanggulangan Bencana.
Hutagaol turut merancang aturan tersebut. Saat itu, ia menjabat sebagai anggota DPR RI.
Menurut drg. Kristina, ibunya melihat Tagana Rajawali sebagai wadah bagi warga Gereja. Melalui wadah tersebut, warga dapat ikut membantu Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam penanggulangan bencana.
Karena itu, para anggota mengikuti berbagai pelatihan. Tujuannya adalah menyelaraskan kemampuan relawan dengan aturan pemerintah.
Keterampilan Relawan Tagana
Dalam pelatihan tersebut, para anggota belajar mendirikan tenda. Mereka mengenal tiga jenis tenda, yaitu tenda peleton, tenda regu, dan tenda keluarga.
Selain mendirikan tenda, mereka mempelajari teknik penyelamatan di air. Mereka juga mendapat pelatihan vertical rescue.
Kemudian, pelatihan mencakup pengelolaan dapur umum dan logistik. Para anggota juga belajar mendirikan shelter bagi korban bencana.
“Bagaimana cara menyelamatkan di air, bagaimana melakukan vertical rescue. Kemudian, bagaimana membantu dapur umum dan mengelola logistik. Kami juga belajar mendirikan shelter,” pungkas drg. Kristina.
Dengan bekal tersebut, anggota Tagana Rajawali dapat meningkatkan kesiapan menghadapi bencana. Selain itu, mereka dapat membantu masyarakat saat terjadi keadaan darurat.
Pelatihan Dasar Tagana Rajawali Lampung
Selanjutnya, Tagana Rajawali Lampung akan menggelar Pelatihan Dasar Tagana Rajawali. Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung pada 24-26 Juli 2019.
Menurut Billy Moningka, panitia memilih Markas Brigade Infanteri (Brigif) 4 Marinir/BS Piabung, Pesawaran, Lampung sebagai lokasi pelatihan.
“Kegiatan akan dilaksanakan di Markas Brigade Infanteri (Brigif) 4 Marinir/BS Piabung, Pesawaran, Lampung,” kata Billy Moningka kepada Altumnews.com, Rabu, 17 Juli 2019.
Pada akhirnya, Tagana Rajawali hadir sebagai wadah relawan berbasis masyarakat. Selain itu, kelompok ini melibatkan warga Gereja dalam kegiatan penanggulangan bencana.
Melalui pelatihan yang berkelanjutan, para relawan diharapkan semakin siap membantu masyarakat. Dengan demikian, keberadaan Tagana Rajawali dapat memperkuat kesiapsiagaan menghadapi bencana.***





