oleh

Selamat Ulang Tahun Ke-52 Romo Roy

ALTUMNEWS.com, BANDARLAMPUNG — “Romo Roy selamat ulang tahun ya, semoga hidup dan panggilan Romo menjadi berkat bagi banyak orang,” demikian ucapan Sr. Fransiska, FSGM di grup whatsapp Komisi Hubungan antar Agama dan Kepercayaan (HAK) dan Kerawam Keuskupan Tanjungkarang, Rabu (25/11/2020).

Ucapan, doa dan harapan terbaik pun dilantunkan bertubi-tubi dari para sahabatnya untuk Ketua Komisi HAK dan Kerawam Keuskupan Tanjungkarang.

“Terima kasih para sahabat sepelayanan dalam kasih setia Tuhan atas atensi dan doanya buat saya di usia yang ke-52 tahun. Kita saling menguatkan dan menopang dalam doa, berkah dalem,” begitu balasan Romo Roy.

Romo Roy lahir di Lampung Selatan, 25 November 1968. Selain di Komisi HAK dan Kerawam Keuskupan Tanjungkarang, dia sekarang melayani di Paroki Margo Agung sebagai Romo Kepala. Romo yang intens menyuarakan kerukunan dan perdamaian antar umat beragama ini, membuat sosoknya banyak dikenal masyarakat luas.

Saat masih duduk di bangku SMP, Romo Roy sangat mengidolakan misionaris yang saat itu melayani di tanah kelahirannya, Stasi Patok Sidoharjo Kecamatan Waypanji, Kabupten Lampung Selatan. Benih-benih panggilan diakuinya mulai tumbuh kala itu sejak mengenal Romo Vanleroop Hadi Prawiro, SCJ.

Anak bungsu dari enam bersaudara ini, mengaku dalam mewujudkan cita-citanya menjadi imam penuh liku dan tak berjalan mulus. Saat tekadanya berkobar-kobar kala itu dia memutuskan mendaftar di Seminari Menengah Santo Paulus Palembang. Namun, impiannya terkikis, dia mengubur dalam-dalam cita-citanya menjadi Imam.

Diakui putra bungsu dari mendiang pasangan Paulus Sumorejo dan Maria Kantiem ini, Romo Roy pun mengubah haluan cita-cita barunya yakni, menjadi seorang dokter gigi.

“Nah, saat menempuh pendidikan di SMA Xaverius Pringsewu, banyak kejadian hidup yang saya alami, dan hal itu menumbuhkan kembali keinginannya saya menjadi seorang imam. Dan saya akhirnya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di di Sekolah Seminari Tinggi Pematangsiantar, Sumatera Utara,” kata Romo Roy mengutip dari Suarawajarfm.com.

BACA JUGA:  TA SLRT Bersahaja Menjadi Narasumber pada Pembinaan Relawan Penyuluh Sosial Masyarakat Pringsewu

Saat menjalani masa Tahun Orientasi Pastoral (TOP), Romo Roy mengakau diterpa “badai”.

“Saya sempat goyah dan kembali diuji. Sosok perempuan yang saya suka sejak di bangku SMP membayang-bayangi. Dan waktu itu oleh Bapa Monsinyur Henri, saya diperkenankan menjalani extra domus,” katanya.

Extra domus ialah satu situasi dimana seorang frater diberi kesempatan tinggal di luar seminari untuk jangka waktu tertentu dalam rangka pembinaan.

Extra domus yang diberikan padanya waktu itu dimanfaatkan Romo Roy untuk mencicipi kerasnya hidup di Jakarta. Pengalaman hidup di sana ternyata memantabkannya menjadi Imam Diosesan di Keuskupan Tanjungkarang.

“Pada 12 Januari 2000, saya ditahbiskan menjadi Imam Diosesan bersama lima imam lainnya di GSG Way Halim Bandar Lampung,” imbuhnya.

“Kebahagian sejati adalah kalau saya bisa menyerahkan dalam kondisi apapun kepada Tuhan melalui pengabdian dan pelayanan yang menguatkan, meneguhkan, juga menggembirakan bagi orang lain”. Begitu motto hidup Romo Roy.***

Editor : Robertus Bejo

Komentar

News Feed